Kamis, 07 Mei 2020

Trump Sebut Corona Lebih Buruk dari Serangan di Pearl Harbor

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut dampak dari pandemi virus corona (Covid-19) di negaranya lebih parah dari serangan Jepang terhadap pangkalan militer di Pearl Harbor, Hawaii pada Perang Dunia II silam. Pula, lebih parah dari serangan terhadap gedung World Trade Center 2001 lalu.

"Ini lebih buruk dari Pearl Harbor. Ini lebih buruk daripada World Trade Center," kata Trump mengutip AFP, Kamis (7/5).

Diketahui, militer Jepang menyerang pangkalan AS di Pearl Harbor, Hawaii pada 1941 silam. Serangan tersebut membuat AS ikut serta dalam Perang Dunia II, terutama di wilayah Asia Pasifik, hingga usai pada 1945.

Sementara serangan terhadap Gedung WTC di New York terjadi pada 11 September 2001. AS menuding kelompok teroris dari Timur Tengah sebagai dalang. Hingga kemudian, AS melancarkan operasi militer di Afghanistan, Irak serta beberapa negara lainnya.


"Kami telah melalui serangan-serangan buruk yang pernah dialami negara kami. Ini benar-benar serangan terburuk yang pernah kami alami," ucap Trump.

Sejauh ini, lebih dari 70 ribu warga negara AS meninggal dunia akibat virus corona. Trump memperkirakan bahwa angka kematian corona di AS bisa mencapai 100 ribu orang.

"Kita mungkin akan kehilangan 75 ribu, 80 ribu, sampai 100 ribu orang (akibat corona). Ini adalah hal yang mengerikan," kata Trump dalam wawancara yang disiarkan FOX News pada Minggu (3/5) pekan lalu.
Lihat juga: Corona Reda, Pelajar di Wuhan Kembali Sekolah Hari Ini
Meski demikian, Trump berencana membubarkan gugus tugas pemerintah untuk menangani pandemi virus corona (Covid-19) di Negeri Paman Sam bulan ini.

Hal itu disampaikan seorang pejabat senior Gedung Putih kepada CNN pada Selasa (5/5). Pejabat yang tak diungkap identitasnya itu menuturkan gugus tugas pemerintah AS "akan diberhentikan secara bertahap pada peringatan Memorial Day."

Perdana Menteri dan Kabinet Parsial Irak Disahkan

Perdana Menteri Irak Mustafa Kadhemi secara resmi mulai menjabat Kamis (7/5) pagi waktu setempat, setelah parlemen menyetujui kabinet parsial untuk mengambil kendali di tengah krisis fiskal dan pandemi kesehatan.

Sebanyak 255 dari 329 anggota parlemen mengambil bagian dalam pemungutan suara pada sehari sebelumnya yang dijadwalkan berlangsung pada jam 21.00 malam, tetapi baru resmi dimulai setelah tengah malam setelah perubahan menit-menit terakhir untuk menenangkan partai-partai politik.

Mereka menyetujui 15 menteri dari rencana awal 22 menteri, dengan saat ini kursi tujuh menteri masih kosong.

Di antara nama-nama yang disahkan memiliki "portofolio yang sensitif", termasuk menteri keuangan, dalam negeri, pertahanan, kesehatan, listrik dan lainnya.

Kepala staf angkatan darat Othman al-Ghanemi akan menjadi Menteri Dalam Negeri dan mantan pelatih tim sepak bola nasional Adnan Dirjal disahkan sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga.

Ali Allawi, mantan menteri dan profesor universitas, akan mengambil alih sebagai Menteri Keuangan.

Parlemen menolak nominasi menteri dari Kadhemi untuk perdagangan, budaya, hukum, pertanian dan imigrasi, dan menolak pejabat untuk urusan minyak dan pos urusan luar negeri, dengan menunda pemilihan pada sesi lain.

Kadhemi dicalonkan pada April, beberapa bulan setelah pendahulunya Adel Abdel Mahdi mengundurkan diri - itu pertama kali perdana menteri mengundurkan diri sebelum akhir masa jabatannya sejak invasi pimpinan Amerika Serikat pada tahun 2003.

Pemerintah baru akan mengadakan pemilihan umum lebih awal, tetapi Kadhemi mengakui akan menghadapi serangkaian tantangan lain: menavigasi krisis ekonomi yang dipicu oleh jatuhnya harga minyak dan pandemi virus corona yang mematikan.

"Saya merasa terhormat untuk membantu pembentukan pemerintah selama periode transisi dan menghadapi krisis terbaru yang kondisinya sangat buruk sejak penggulingan rezim otoriter pada tahun 2003," katanya di hadapan anggota parlemen semalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar