Sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah rumah sakit di New York tak menemukan adanya manfaat ataupun bahaya dari pemberian obat malaria hydroxychloroquine kepada pasien virus corona yang sakit parah.
"Risiko intubasi atau kematian tidak secara signifikan lebih tinggi atau lebih rendah di antara pasien yang menerima hydroxychloroquine dibandingkan di antara mereka yang tidak," kata para penulis penelitian, dikutip dari AFP.
Penelitian ini diterbitkan pada Kamis (7/5) dalam The New England Journal of Medicine.
Studi pengamatan dilakukan di antara pasien ruang gawat darurat di New York-Presbyterian Hospital dan Columbia University Irving Medical Center dan didanai oleh National Institutes of Health.
Untuk penelitian ini, 811 pasien menerima dua dosis 600 mg hydroxychloroquine pada hari pertama dan 400 mg setiap hari selama empat hari.
565 pasien lainnya tidak menerima obat.
"Namun, temuan kami tidak mendukung penggunaan hydroxychloroquine saat ini, di luar uji klinis acak yang menguji kemanjurannya," kata mereka.
"Tidak ada hubungan yang signifikan antara penggunaan hydroxychloroquine dan intubasi atau kematian."
Penelitian sebelumnya menyebut pada ratusan pasien di pusat kesehatan Veterans Health Administration, Amerika Serikat menemukan pasien Covid-19 yang menggunakan hydroxychloroquine memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak menggunakan obat itu.
Berdasarkan hasil riset terbaru ini, peneliti menyimpulkan bahwa obat tersebut tak berpengaruh pada pasien Covid-19, tak menyembuhkan atau menyebabkan kematian.
Health Canada, European Medicines Agency, dan FDA AS telah memperingatkan penggunaan obat malaria itu untuk mengobati COVID-19 di luar uji klinis.
Hydroxychloroquine dan senyawa chloroquine selama ini telah digunakan selama beberapa dekade untuk mengobati malaria, gangguan autoimun lupus, dan rheumatoid arthritis.
Pemerintah AS pekan lalu mengizinkan penggunaan darurat dari remdesivir obat eksperimental terhadap COVID-19 setelah ditunjukkan dalam uji klinis utama untuk mempersingkat waktu pemulihan pada beberapa pasien virus corona.
Istana Luruskan Maksud Jokowi Hidup Berdamai dengan Corona
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus corona (Covid-19) yang masih mewabah Indonesia dalam dua bulan terakhir.
Bey mengatakan, maksud berdamai dengan corona sebagaimana dikatakan Jokowi itu adalah menyesuaikan dengan kehidupan. Artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi Covid-19.
"Bahwa Covid itu ada dan kita berusaha agar Covid segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena Covid, menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan," ujar Bey melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat (8/5).
Bey menambahkan, penyesuaian dalam kehidupan itu dilakukan dengan upaya mencegah penularan corona. Di antaranya dengan selalu mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak dari kerumunan.
Penyesuaian hidup ini pula, menurut dia, yang akan membentuk tatanan kehidupan normal baru bagi masyarakat.
"Covid memang belum ada anti virusnya, tapi kita bisa mencegah. Artinya jangan menyerah, hidup berdamai dalam penyesuaian kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal tatanan kehidupan baru," katanya.
Diketahui Jokowi dalam keterangannya, Kamis (7/5), meminta masyarakat berdamai dengan corona sampai vaksin ditemukan. Ia mengatakan, hingga vaksin belum ditemukan maka tak ada acuan virus corona benar-benar berhenti menyebar.
Pernyataan Jokowi untuk berdamai dengan corona ini sempat mendapat sorotan di media sosial. Pernyataan itu berbeda dengan apa yang disampaikan Jokowi dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar