Jumat, 08 Mei 2020

Polisi AS Tangkap Dua Pelaku Penembakan Ahmaud Arbery

Kepolisian Georgia, Amerika Serikat menangkap dua pelaku penembakan pemuda kulit hitam Ahmaud Arbery. Pelaku diketahui mantan polisi Gregory McMichael dan anaknya, Travis. Keduanya kulit putih.

Arbery ditembak dua kali hingga tewas saat sedang jogging di Brunswick, pada 23 Februari lalu.

"Gregory dan Travis McMichael telah ditangkap karena pembunuhan Ahmaud Arbery," kata Biro Investigasi Georgia lewat Twitter seperti dikutip dari AFP, Jumat (8/5).

Investigasi kasus tersebut sempat mandek setelah jaksa penuntut umum enggan mengajukan tuntutan terhadap Gregory dan Travis.

Gregory dan Travis dianggap melakukan pembelaan diri karena mengklaim sosok Arbery cocok dengan ciri-ciri perampok di wilayah mereka. Namun, desakan agar Gregory dan Travis ditahan serta diadili muncul setelah video penembakan Arbery tersebar luas di media sosial pekan ini.

Menurut pernyataan yang diposting di situs web biro, kedua pria itu didakwa dengan pembunuhan dan penyerangan. Mereka telah dimasukkan ke penjara County Glynn.

Dalam video tersebut terlihat Arbery sedang jogging di dekat rumahnya di Brunswick. Arbery kemudian dicegat Gregory dan Travis yang memegang senjata. Keributan terjadi antara Travis dan Arbery hingga pemuda kulit hitam 25 tahun itu terkena tembakan dan meninggal.

Menurut laporan polisi, Gregory McMichael mengatakan kepada petugas bahwa dia mengira Arbery adalah tersangka dalam serangkaian perampokan. Dia melihat pemuda itu ketika berdiri di halaman depan rumahnya.

McMichael langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil pistol Magnum .357. Sementara putranya membawa senapan, dan mereka langsung memburu Arbery.

Sang ayah mengaku melihat putranya menembak Arbery dua kali dan Arbery jatuh ke tanah.

Gubernur Georgia, Brian Kemp, me-retweet pengumuman penangkapan Biro Investigasi dan menambahkan bahwa "investigasi masih berlangsung."

Di seluruh negeri, tokoh politik, selebritas, dan orang-orang di media sosial mengekspresikan kemarahan dan menyerukan agar kedua pria itu dituntut.

Sejumlah bintang basket NBA angkat bicara.

Rudal Nuklir dan Skenario Lain Cegah Asteroid Hantam Bumi

Sebuah meteor berukuran lebih kecil dari asteroid Florence tidak terdeteksi meledak di Chelyabinsk, Rusia. NASA mengatakan ledakan meteor itu melepaskan energi yang setara dengan sekitar 30 bom atom Hiroshima.

Ledakan terjadi lebih dari 23 kilometer di atas tanah, sehingga sebagian besar energi diserap oleh atmosfer dan tidak ada yang terbunuh. Tetap saja, gelombang kejut yang dihasilkan meteor itu membuat orang-orang panik dan menghancurkan jendela-jendela bangunan di enam kota di Rusia.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa benda itu lebarnya 59 kaki (18 meter).


Peristiwa seperti ledakan Chelyabinsk atau insiden Tunguska yang lebih dahsyat pada tahun 1908, masih sangat jarang terjadi. Namun, manusia tetap harus menyiapkan berbagai strategi untuk mempertahankan bumi dari terjangan benda langit seperti asteroid.

Ada sejumlah opsi yang muncul sejak beberapa tahun lalu dari berbagai pihak dalam rangka untuk mencegah kehancuran bumi akibat asteroid atau benda langit lain yang membahayakan.

Opsi Nuklir

Melansir DW, peneliti meragukan gagasan fiksi ilmiah tentang peledakan asteroid dari langit untuk melindungi umat manusia. Rudal nuklir mungkin bisa efektif melawan asteroid yang berukuran kecil.

Namun, benda langit apa pun yang cukup besar untuk mengancam peradaban manusia di bumi akan terlalu besar untuk dihancurkan sedemikian rupa.

Selain itu, memecah asteroid yang menuju bumi dapat menciptakan "efek senapan". Pasalnya, akan banyak potongan-potongan kecil asteroid yang mungkin menghasilkan lebih banyak kerusakan saat menghantam Bumi.

Sebuah konsep yang lebih maju yang melibatkan senjata nuklir sempat diusulkan oleh peneliti Universitas Iowa Bong Wie dan insinyur NASA Brent Barbee pada tahun 2012.

Keduanya mengasumsikan waktu peringatan yang berbeda untuk melakukan misi anti-asteroid, mulai dari beberapa tahun hingga hanya beberapa hari sebelum dampak.

"Risiko asteroid menabrak bumi sangat nyata," kata Wie dalam sebuah makalah yang diterbitkan di situs web NASA.

"Hanya masalah kapan, dan manusia harus siap untuk itu," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar