Senin, 12 April 2021

Benarkah Sering Ciuman Bisa Bikin Bibir Jadi Lebih Tebal? Ini Kata Ahli

 Di media sosial beredar anggapan populer orang yang bibirnya tebal berarti sudah pernah atau sering berciuman. Bahkan muncul tren di Tiktok untuk membuktikan hal tersebut dengan menggunakan filter yang diklaim bisa jadi petunjuk seberapa sering seseorang ciuman.

"Filter ini menunjukkan seberapa sering km kissing. Tipis: gapernah Tebel: you know lah," tulis keterangan salah satu video viral yang sudah ditonton lebih dari 8 juta kali.


Benarkah hal tersebut?


Singkatnya menurut ahli berciuman tidak akan membuat bibir jadi lebih besar atau tebal. Memang ketika ciuman dilakukan secara intens, pembuluh darah yang ada bisa melebar sehingga membuat lebih banyak darah mengalir ke area bibir. Dampaknya bibir jadi tampak merah merekah.


Tapi hal ini bukan sesuatu yang permanen. Pada akhirnya kondisi bibir akan kembali seperti semula ketika aliran darah kembali normal.


dr Sami Bahna dari American College of Allergy, Asthma and Immunology menjelaskan bibir yang tampak tebal setelah berciuman juga bisa terjadi karena reaksi alergi. Misalnya seseorang dengan alergi makanan tertentu tanpa sadar berciuman dengan pasangan yang baru saja mengonsumsi makanan tersebut.


"Bila Anda punya alergi makanan, mengalami reaksi alergi setelah berciuman dengan seseorang yang baru saja makan atau mengonsumsi obat tertentu yang menjadi alergi bagi Anda itu bukan hal yang tidak umum," kata dr Sami seperti dikutip dari Medical News Today, Senin (12/4/2021).


"Ada pasien yang bisa memiliki reaksi bahkan setelah pasangannya sudah gosok gigi atau berciuman beberapa jam setelah makan. Ternyata air liur sang pasangan bisa mengabdybg alergen sampai beberapa jam setelah makanan atau obat-obatan diserap tubuh," lanjutnya.

https://maymovie98.com/movies/the-innocents/


Bad News! Vaksin Pfizer Tak Mempan Lawan Varian Corona Afsel B1351


Varian virus Corona yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan disebut mampu menghindari perlindungan dari vaksin Pfizer-BioNTech, menurut sebuah studi baru di Israel.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv dan Clalit, penyedia layanan kesehatan terbesar Israel, ditemukan bahwa virus Afsel ini dapat menerobos perlindungan yang ditawarkan vaksin COVID-19 Pfizer. Penelitian ini dilakukan kepada sekitar 400 orang yang positif COVID-19 dan telah menerima suntikan vaksin dan kepada 400 orang yang divaksin tetapi tidak positif COVID-19.


Dikutip dari CNBC Internasional, peneliti menemukan sekitar 1 persen varian B1351 Afrika Selatan ditemukan di sejumlah kasus COVID-19 yang diteliti. Lebih lanjut, mereka yang telah menerima dua dosis vaksin, tingkat prevalensi varian Afrika Selatan delapan kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak divaksinasi - 5,4 persen berbanding 0,7 persen.


"Ini menunjukkan vaksin itu kurang efektif terhadap varian Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus corona asli dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris yang mencakup hampir semua kasus COVID-19 di Israel," kata para peneliti.


"Kami menemukan tingkat yang lebih tinggi dari varian Afrika Selatan di antara orang yang divaksinasi dengan dosis kedua, dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi. Ini berarti varian Afrika Selatan dapat menembus perlindungan vaksin sampai batas tertentu," kata Adi Stern dari Universitas Tel Aviv.


Hanya saja para peneliti memperingatkan bahwa hasil tersebut tidak bisa menjadi patokan karena hanya dilakukan dengan sampel yang terbatas.


Pihak Pfizer-BioNTech belum berkomentar atas temuan ini.

https://maymovie98.com/movies/erotic-ghost-story-iii/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar