Minggu, 19 April 2020

Corona Ganggu Arus Penumpang Pesawat ke Aceh

Penumpang pesawat dari atau ke Aceh mulai sepi di tengah merebaknya pandemi Corona. Bahkan ada maskapai yang terbang ke Tanah Rencong dengan membawa lima penumpang.

Informasi penurunan jumlah penumpang pesawat awalnya diperoleh dari Kepala Dinas Perhubungan Aceh Junaidi. Menurutnya, penumpang dalam satu pesawat sekarang berkisar 20 hingga 30 orang.

"Itu semua maskapai, Lion sesekali tinggi. Kayak hari ini ada pemulangan santri dari Yogyakarta dan Surabaya," kata Junaidi kepada wartawan, Jumat (17/4/2020).

Junaidi menambahkan, wewenang menutup bandara seperti permintaan Bupati Aceh Besar Mawardi Ali merupakan wewenang Kementerian Perhubungan. Dia menyebut, untuk menutup bandara ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
"Kalau masalah penutupan bandara kebijakan secara nasional bahwa itu kewenangan itu ada di sana," jelasnya.

Sementara itu, EGM Bandara SIM Indra Gunawan, mengatakan, penurunan jumlah penumpang pesawat sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Dalam sehari, warga yang berangkat atau datang ke Tanah Rencong tidak menentu.

Pada Rabu 15 April misalnya, pesawat Citilink dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara terbang dengan lima penumpang. Sementara sore harinya, pesawat Lion Air dari Jakarta transit Kuala Namu membawa 99 penumpang.

"Jumlah penumpangnya tidak menentu selama virus Corona," jelas Indra saat dikonfirmasi terpisah.

Seperti diketahui, Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh membatasi jadwal operasional demi mencegah penyebaran Virus Corona. Jadwal penerbangan bakal menyesuaikan dengan jam operasional bandara.

"PT Angkasa Pura II (Persero) Cabang Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh membatasi waktu operasional dari sebelumnya pukul 06.00-22.00 WIB menjadi 08.00-18.00 WIB," kata EGM Bandara SIM Indra Gunawan dalam keterangan kepada wartawan, Senin (6/4).

150.000 Pekerja Mal di Jabar Terancam Dirumahkan Imbas Corona

Para pekerja mal di Jawa Barat (Jabar) yang berjumlah lebih dari 150.000 orang terancam dirumahkan imbas virus Corona (COVID-19). Jumlah itu berasal dari 70-an pusat perbelanjaan yang berada di wilayah tersebut.

"Rata-rata sekitar 2.500 karyawan per mal x mal se-Jawa Barat ada 70-an. Bisa lebih dari 150.000 (karyawan yang dirumahkan)," kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD Jawa Barat, Arman Hermawan kepada detikcom, Jumat (17/4/2020).

Arman menjelaskan, sejak akhir Maret sudah ada 21 pusat perbelanjaan di Bandung yang tutup. Hal itu membuat industri pusat perbelanjaan dinilai menjadi salah satu sektor yang paling terdampak hingga pekerja harus dirumahkan bahkan sampai dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Hampir 95% pedagang di pusat perbelanjaan memilih menutup tokonnya. Sedangkan sekitar 5% masih mencoba bertahan membuka usahanya seperti Supermarket, Food and Beverages, maupun Healthy/Pharmacy.

Jika pandemi ini masih berlangsung lama, diperkirakan industri ritel bakal bangkrut. Bulan April ini, pihak APPBI merasa sudah tidak sanggup membayar sewa dan gaji karyawan karena tidak memiliki pendapatan. Meskipun ada yang beralih berjualan online, penghasilannya dirasa tidak cukup menutupi biaya tersebut.

Untuk itu, pihaknya berharap bantuan dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Adapun yang diminta terkait penangguhan pembayaran pajak, keringanan asuransi, perpanjangan jangka berlakunya perizinan, meniadakan iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, hingga pemberian diskon tarif listrik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar