Rabu, 15 April 2020

Bahaya Rasa Aman Semu Saat Rapid Test Corona Mandiri Hasilnya Negatif

 Ada prosedur yang harus dilakukan sebelum melakukan rapid test. Melakukan pengecekan sampel darah secara mandiri dan tanpa pendampingan dari petugas kesehatan pun akan sangat berbahaya.
Belakangan marak masyarakat bahkan tokoh publik yang melakukan rapid test dan memperlihatkan hasilnya. Dijelaskan oleh Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Soebandrio, sangat berisiko jika hasil rapid test negatif kemudian masyarakat merasa 'aman' dan bebas virus Corona.

"Jadi hasil negatif dan memperlakukan dirinya sebagai negatif, padahal mungkin dia positif hanya belum terdeteksi, sehingga dia keliling. Kalau hasilnya positif bisa saja dia malah sembunyi. Karena positif dia nggak lapor, itu sangat berbahaya. Tidak bisa menghentikan penularan virus," jelas Prof Amin saat dihubungi detikcom, Rabu (15/4/2020).

Sehingga sebaiknya yang melakukan itu adalah petugas kesehatan, karena mereka akan mencatat data orang tersebut. Jika hasilnya negatif berarti harus diulang lagi dalam beberapa hari kemudian untuk memastikan, kalau positif diuji kembali dengan PCR.

Perlu diingat bahwa hasil negatif yang didapatkan dari pemeriksaan rapid test tidak menjamin yang bersangkutan tak sedang sakit atau terinfeksi virus corona. Hal ini bisa dipengaruhi karena antibodi yang ada di dalam tubuh belum terbentuk setelah terinfeksi.

Dibutuhkan waktu beberapa hari sejak virus muncul, agar antibodi juga muncul. Saat hasil negatif, bisa saja antibodi itu belum terbentuk karena infeksinya baru terjadi belum 7 hari. Oleh karena itu, pemeriksaan dengan rapid test harus diulang setelah hari ke-7 atau hari ke-10.

"Sehingga harusnya (kit rapid test) tidak dipasarkan secara individual. Tetap yang interpretasi harus fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan," pungkas Prof Amin.

Italia Longgarkan Lockdown, Warga Cemaskan Gelombang Kedua Corona

 Italia dilaporkan melonggarkan kebijakan lockdown pada Selasa kemarin untuk memperbaiki ekonomi yang mulai merosot. Namun beberapa pemilik toko dan pekerja setempat khawatir tindakan ini terlalu cepat.
Mengutip NBC News, Rocco Pinto, seorang pemilik toko buku di Turin, wilayah Piedmont, yang memiliki angka kematian tertinggi ketiga di negara itu mengatakan bahwa terlepas dari keputusan pemerintah daerahnya, ia memutuskan untuk tidak membuka kembali bisnisnya saat ini karena terlalu berisiko.

"Toko buku adalah tempat orang bertemu, berbicara, dan menghabiskan waktu. Sangat berisiko untuk dibuka kembali sekarang," jelas Rocco.

Ricco mengatakan sepupunya dirawat di rumah sakit dengan virus Corona COVID-19 dan saudaranya sibuk melawan penyakit di garis depan di sebuah rumah sakit setempat jadi dia merasa ancaman pandemi dengan kemungkinan adanya gelombang kedua karena masih sangat berbahaya.

Selain itu, warga Italia lain, Sergio Ricci mengatakan perintah pemerintah terkait kelonggaran lockdown tersebut dinilai mendadak.

"Secara ekonomi itu melegakan, tetapi jujur saya khawatir karena risiko utama adalah bahwa biaya pengelolaan pembukaan kembali akan melebihi pendapatan," kata Ricci yang berusia 46 tahun.

Namun seiring dengan melonggarnya lockdown, warga setempat tetap wajib menjaga jarak di dalam toko, pelanggan harus mengenakan masker dan sarung tangan pelindung. Toko-toko juga harus disanitasi dua kali sehari dan memastikan ventilasi yang baik. Meski aturan dilonggarkan, Italia tetap memperpanjang lockdown hingga 3 Mei mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar