Sebuah studi terbaru mengatakan tingkat kematian akibat virus Corona COVID-19 akan lebih tinggi di negara-negara yang berpolusi udara cukup parah. Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari Harvard T H Chan School of Public Health.
"Kami menemukan bahwa peningkatan hanya 1 gram per meter kubik dalam partikel halus di udara dikaitkan dengan peningkatan 15 persen dalam tingkat kematian COVID-19," kata penulis utama Francesca Dominici, co-director Harvard Data Science Initiative, seperti dikutip dari CNN.
"Hasilnya menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara dapat meningkatkan kerentanan untuk mengalami dampak COVID-19 yang paling parah," lanjutnya.
Dominici pun mengatakan studi ini bisa menjadi referensi bagi para pemerintah di berbagai negara untuk lebih tegas dalam menegakkan social distancing dan memperbaiki fasilitas rumah sakit yang ada untuk mengurangi risiko kematian akibat virus Corona.
Meski begitu, studi ini masih dalam tahap pra-cetak dan baru diterima oleh jurnal untuk bisa dipublikasi, yang berarti belum adanya penilaian dari para ahli lainnya. Studi yang masih pra-cetak menjadi lebih umum ditemui selama pandemi berlangsung, karena para peneliti berebut untuk memberikan hasil penelitiannya yang memungkinkan mempunyai petunjuk untuk memerangi virus Corona.
Paris Larang Jogging di Luar Rumah, Denda Rp 2 Juta Bagi yang Melanggar
Pembatasan sosial terkait virus Corona COVID-19 dilakukan juga di Paris, Prancis. Kota ini bahkan sangat ketat mengatur kegiatan olahraga di luar ruangan.
"Keluar untuk aktivitas olahraga tidak diizinkan antara pukul 10 pagi hingga 7 malam di area Paris," tulis sebuah pernyataan, dikutip dari Dailymail.
"Namun masih dibolehkan antara pukul 7 pagi hingga 10, ketika kepadatan jalan paling rendah," lanjutnya.
Bagi yang melanggar, denda sebesar 120 poundsterling atau sekitar Rp 2 juta akan dikenakan. Jika tetap melanggar, maka sanksi berikutnya adalah penjara hingga 6 bulan.
Minggu lalu, Prancis mencatatkan 833 kematian akibat virus Corona dalam rentang 24 jam, tertinggi sejak wabah dimulai. Total kematian akibat COVID-19 di negara ini mencapai 8.911 kasus, sedangkan kasus positif tercatat 98.010.
"Belum berakhir. Masih jauh. Jalan masih panajng. Angka yang saya umumkan menunjukkan hal itu. Tetap di rumah dan lanjutkan upaya mengurung diri," kata Menteri Kesehatan Olivier Veran.
Kisah Pria Batam Jadi Relawan Penyemprot Disinfektan
Menjadi relawan penanggulangan virus Corona COVID-19 tidaklah mudah. Terlebih risiko tertular penyakit ini pun bisa terjadi kapan dan di mana saja saat bertugas.
Hal ini juga dirasakan oleh seorang pria asal Batam, Kepulauan Riau, bernama Birgaldo Sinaga. Ia memilih untuk mengabdikan dirinya menjadi relawan penanggulangan virus Corona.
"Siang-siang bagi makan, sore semprot disinfektan," kata Birgaldo kepada detikcom. Selasa (7/4/2020).
Meski tak bergabung dengan organisasi resmi seperti Gugus Tugas COVID-19, ia bersama teman-temannya berinisiatif membuat sebuah tim bernama 'Relawan Kemanusiaan Sahabat Birgaldo Sinaga'.
Menurutnya masih banyak orang yang kurang beruntung di tengah pandemi virus Corona ini, yang seharusnya mereka bisa berada di rumah justru harus keluar mencari nafkah demi kelangsungan hidup.
"Saat melihat senyum saudara-saudara sebangsa bisa makan itu rasanya terharu banget. Sedihnya mendengar curhat mereka mas, dari pagi sampai siang berjuang kadang belum dapat uang sepeser pun," ucap Birgaldo.
"Kemarin saya telat antar makan siang karena kurang enak badan. Jam setengah tiga sore mereka belum makan siang mas. Nyesek dada saya, duit mau beli makan nggak ada," lanjutnya.
Sehari-hari saat bertugas menjadi relawan, Birgaldo dan teman-temannya menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap untuk mengurangi risiko terinfeksi virus Corona.
"Keringat bercucuran sepanjang pakai APD. Bernapas juga terganggu karena pakai masker dan face shields. Jadi saya tahu gimana (capainya) para dokter dan perawat itu saat bertugas," jelasnya.
Birgaldo pun mengaku kegiatan ini sudah ia lakukan selama delapan hari bersama teman-temannya dan kemungkinan akan terus berlanjut hingga waktu yang belum ditentukan.
"Saya tidak punya rencana kapan berakhir. Mengalir saja sebisa dan sekuatnya saya dan teman-teman," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar