Model Monica Indah mengeluhkan payudaranya bengkak, memerah, dan perih setelah menjalani filler untuk membesarkan payudara. 3 pekan setelah filler, ia didiagnosis mengalami mastitis.
Profesor bedah plastik David S Perdanakusuma, SpBP-RE(K) menegaskan, filler memang tidak diperuntukkan pembesaran payudara. Pasalnya, membesarkan payudara dengan filler justru bisa menimbulkan kerusakan jaringan.
Maka itu dalam dunia bedah plastik, pembesaran volume payudara dilakukan dengan implan atau fat transfer.
"Perlu dipertimbangkan kembali penggunaan filler untuk payudara karena jumlah yang digunakan bisa mencapai 200 sampai 300 cc per payudara untuk mendapatkan bentuk bagus, bisa terjadi efek yang kurang baik pada jaringan payudara," terang Prof David saat dihubungi detikcom, Selasa (16/3/2021).
Ia turut menjelaskan, jika terjadi kerusakan pada jaringan payudara, masalah pertama yang timbul adalah gejala infeksi.
"Jaringan merah, nyeri dan bengkak adalah tanda peradangan. Bisa karena infeksi," imbuh Prof David.
Lebih lagi jika sudah terjadi infeksi atau nekrosis, bisa terjadi gangguan bentuk. Di antaranya, timbul lubang seperti yang dikeluhkan Monica Indah.
Setelah melewati perawatan jalan, Monica mengeluhkan payudaranya terasa seperti mau pecah dan sudah sangat empuk. Setelah akhirnya pecah, lubangnya membesar dan menyisakan bekas infeksi kemerahan. Monica kemudian menjalani operasi di RS di Semarang.
"Bila infeksi perlu diatasi infeksinya," imbuh Prof David.
https://cinemamovie28.com/movies/hangout/
Kedaluwarsa Mei, 1,1 Juta Vaksin AstraZeneca Kemungkinan untuk Dosis-1 Saja
Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin Corona AstraZeneca yang tiba di Indonesia pada 8 Maret 2021 belum juga digunakan dalam program vaksinasi. Pasalnya, vaksin ini masih dievaluasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Masalahnya, vaksin tersebut hanya memiliki masa simpan (shelf life) sampai Mei 2021. Sementara rentang pemberian dosis pertama dan kedua vaksin AstraZeneca yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 9-12 minggu.
Bagaimana solusinya?
Juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya masih menunggu rekomendasi dari BPOM mengenai rentang terbaik untuk penyuntikkan dosis kedua vaksin AstraZeneca.
"Kita tahu bahwa Badan POM bukan hanya mengeluarkan izin penggunaan darurat, tetapi juga mengatur tentang indikasi serta rentang waktu yang paling optimal untuk mendapatkan imunogenitas yang terbaik," kata dr Nadia dalam konferensi pers, Selasa (16/3/2021).
Namun, apabila keputusan BPOM tetap menganjurkan dosis kedua vaksin AstraZeneca harus diberikan dalam rentang waktu 9-12 minggu, maka sebanyak 1,1 juta dosis vaksin ini hanya akan digunakan untuk penyuntikkan dosis pertama saja.
Sementara untuk pemberian dosis kedua vaksin AstraZeneca kemungkinan akan diberikan setelah kedatangan vaksin pada batch berikutnya.
"Jadi kalau memang ini vaksin ini pada keputusannya dari Badan POM ini harus disuntikkan dalam rentang waktu 9-12 minggu. Tentunya kita tidak akan menggunakan vaksin yang 1,1 juta ini untuk menunggu sampai penyuntikkan dosis kedua," jelasnya.
"Jadi kita akan berikan seluruhnya vaksin ini untuk penyuntikkan dosis pertama," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar