Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya akan mengungkap asal usul virus Corona 15 Maret kemarin. Namun, kabar terbaru menyebutkan laporan asal usul Corona baru akan diungkap pekan depan.
Menurut juru bicara Christian Lindmeier WHO, laporan soal asal usul Corona saat ini belum 'utuh'. Pasalnya, sejumlah tim yang melakukan perjalanan ke China terkait investigasi COVID-19 masih menyusun dengan benar laporan tersebut.
"Apa yang kami dengar dari para ahli teknis, dari anggota misi adalah bahwa laporan tersebut kemungkinan besar akan keluar minggu depan," kata Lindmeier dalam sidang PBB pada hari Selasa.
Badan kesehatan PBB sebelumnya merevisi rencana mereka untuk menerbitkan laporan asal usul COVID-19 dalam bentuk ringkasan terlebih dahulu, kemudian versi yang lebih panjang. Laporan nantinya akan dimuat dalam satu laporan lengkap.
Rencana pengumuman asal usul Corona 15 Maret sebelumnya diungkap Ketua Tim WHO Peter Ben Embarek yang melakukan investigasi ke Wuhan.
"Saat ini dijadwalkan pada 14-15 Maret," katanya pada Minggu (7/2/2021).
Sejauh ini, WHO baru menegaskan asal usul Corona tak mungkin dari laboratorium Wuhan. Embarek sempat menyebut sumber penularan besar kemungkinan tetap dari hewan, tetapi belum bisa dipastikan berasal dari mana.
"Jalur yang mungkin dari spesies hewan asli apapun sampai ke pasar Huanan bisa mengambil jalur yang sangat panjang dan berbelit-belit," bebernya.
https://kamumovie28.com/movies/xy/
Penjelasan soal Vaksin Sinovac Kedaluwarsa dan AstraZeneca Ditunda
Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi merespons pemberitaan mengenai vaksin Sinovac yang akan kedaluwarsa. Ia menjelaskan, pengertian kedaluwarsa yang dimaksud tak seperti pada umumnya, tapi merupakan batas masa simpan vaksin COVID-19.
"Pada saat Badan POM (BPOM) mengeluarkan izin darurat, dasar yang digunakan adalah terkait adanya data stabilitas dari vaksin tersebut. Data yang diterima BPOM saat mengkaji penggunaan darurat vaksin Sinovac ini baru tiga bulan, sehingga shelf life atau masa simpan yang dikeluarkan oleh BPOM adalah selama 6 bulan untuk vaksin produksi Sinovac," sebutnya dalam Keterangan Pers: Penjelasan Kementerian Kesehatan Terkait Perkembangan Vaksinasi COVID-19 yang berlangsung virtual, Selasa (16/3/2021).
Nadia mengatakan, berdasarkan data stabilitas yang ada, BPOM menentukan masa simpan vaksin Sinovac sejumlah 1,2 juta akan dinyatakan habis masa simpannya pada 25 Maret 2021. Sementara untuk vaksin berjumlah 1,8 juta akan habis masa simpannya sampai Mei 2021.
Hal ini, lanjutnya, dilakukan oleh pemerintah guna memastikan keamanan dan khasiat vaksin yang diberikan kepada masyarakat.
"Baik vaksin yang berjumlah 1,2 juta yang akan habis masa simpannya pada akhir Maret ini maupun vaksin yang berjumlah 1,8 juta yang akan habis masa simpannya di bulan Mei, semuanya saat ini sudah tidak ada lagi di fasilitas kesehatan," tegas Nadia.
Untuk itu, Nadia meminta masyarakat tak perlu khawatir soal isu kedaluwarsa maupun masa simpan vaksin Sinovac ini. Sebab, stok vaksin Sinovac yang didatangkan pada tahap 1 sudah habis digunakan untuk melakukan vaksinasi kepada tenaga kesehatan dan sebagian petugas pelayanan publik dalam program percepatan vaksinasi yang digencarkan di akhir Februari lalu.
Pada kesempatan yang sama, Nadia juga menanggapi isu vaksin AstraZeneca yang ditunda distribusinya di beberapa negara. Adapun isu ini dikaitkan dengan kasus pembekuan darah setelah vaksinasi.
Nadia menegaskan, Indonesia tidak membatalkan pemberian vaksin ini tapi menunda distribusinya sebagai bentuk kehati-hatian.
"Pemerintah dalam hal ini menunda distribusinya bukan karena kita semata-mata mendengarkan apa yang sudah kita ketahui bersama bahwa terjadinya penggumpalan darah sebagai akibat dari penyuntikan AstraZeneca, tapi ini lebih kepada kehati-hatian. Artinya kami mengikuti apa yang menjadi arahan dari Badan POM," urainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar