Sabtu, 18 Januari 2020

Dilarang Bawa Mainan ke Pesawat, Anak Autis Sakiti Diri Sendiri

 Sungguh sedih kisah yang dialami anak autis ini. Oleh pihak maskapai, dia dilarang membawa mainan ke pesawat. Akibatnya, dia menyakiti diri sendiri.

Leyton Martin (8), adalah anak penderita autisme yang pergi liburan bersama dengan keluarganya ke Canary Island, Spanyol. Sepulangnya liburan dari Spanyol, Leyton mesti mendapati kenyataan pahit karena dia dilarang membawa tas berisi mainan favoritnya ke dalam pesawat.

Dia pun menangis dan tantrum hingga menggigit-gigit tangannya sendiri. Tangan Leyton pun mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.

Dihimpun detikcom dari beberapa sumber, Rabu (26/6/2019), Leyton diketahui naik pesawat Ryanair untuk pulang ke rumahnya di Manchester, Inggris. Saat check in, ibu Leyton bernama Claire sudah membayar sekitar 67 Poundsterling (setara Rp 1,2 juta) ke pihak maskapai untuk kelebihan bagasi.

Meski sudah membayar, tetapi petugas Ryanair menunjuk tas yang dibawa anaknya, Leyton. Kata petugas itu, tas tersebut tidak boleh dibawa masuk ke kabin pesawat karena bukan bagasi prioritas.

Claire pun berusaha menjelaskan kepada si petugas tadi bahwa tas tersebut berisi obat-obatan pribadi dan mainan Leyton, yang memiliki autisme. Tapi si petugas tetap tidak peduli.

Padahal Leyton sangat bergantung pada isi tas tersebut. Mainan-mainan sensorik di dalam tas itu bisa membantu Leyton untuk rileks sejenak dan meredakan rasa stressnya saat naik pesawat.

"Saya berusaha menjelaskan, bahwa anak saya, yang mengenakan kalung disabilitasnya, menyimpan iPad dan mainan-mainan sensorik di tas itu. Kami sangat membutuhkan itu untuk tetap membuatnya terhibur selama 5 jam penerbangan," kata Claire seperti dikutip dari The Sun.

Namun sayang, petugas Ryanair tidak mengizinkan Leyton membawa barang-barang yang ada di tas tersebut. Tas itu pun akhirnya dimasukkan ke dalam bagasi. Leyton pun tantrum dan menggigit tanganya sendiri hingga luka-luka. Sang ibu pun mengajukan komplain ke pihak Ryanair tapi tidak mendapatkan balasan.

Sementara itu, Ryanair menyebut bahwa keluarga Leyton selaku penumpang pesawat tidak menginformasikan kepada pihak maskapai sebelumnya bahwa Leyton menderita disabilitas (autis). Keluarga Leyton juga tidak mengajukan pendampingan khusus terkait kebutuhan anaknya yang autis.

"Konsumen ini tidak memesan pendampingan khusus sebelumnya untuk penerbangan itu. Mereka juga tidak mengontak Customer Service Ryanair untuk permintaan khusus," kata juru bicara Ryanair.

Gara-gara Siput, Jaringan Shinkansen Jepang Kacau

Seekor siput diduga jadi penyebab jaringan kereta berkecepatan tinggi atau Shinkansen Jepang kacau. Kok bisa?

Seperti dilansir CNN, Rabu (26/6/2019), seekor siput kecil disalahkan atas masalah daya secara besar. Itu yang bikin sebagian dari jaringan rel Shinkansen Jepang terhenti bulan lalu.

Diperkirakan ada penundaan bagi 12.000 penumpang pada 30 Mei. Aliran listrik yang dioperasikan oleh perusahaan kereta api JR Kitakyushu, di wilayah Kyushu selatan negara itu terputus.

Pemadaman terjadi selama waktu puncak perjalanan, yakni pukul 09.40. Hal itu memaksa perusahaan untuk membatalkan pengoperasian kereta sebanyak 26 kereta.

Jepang terkenal dengan jaringan Shinkansennya yang besar juga efisien. Transportasi ini beroperasi di seluruh Negeri Sakura dan mengangkut ribuan penumpang setiap hari.

Diketahui, bahwa selama pemeriksaan atas peralatan jaringan listrik, para insinyur perusahaan menemukan siput yang mati. Ukurannya hanya sekitar 2 hingga 3 centimeter.

Menurut juru bicara perusahaan, siput itu terbakar sampai mati setelah menyentuh kabel listrik yang menyebabkan kegagalan daya massal. Meski ditemukan pada 30 Mei, tak lama setelah pemadaman, alasan gangguan tidak terungkap selama lebih dari tiga minggu.

Media lokal pertama kali melaporkan penyebab tidak biasa dari kekacauan transportasi pada 22 Juni itu. Seorang juru bicara JR Kyushu mengatakan pada CNN bahwa siput itu masuk melalui celah di kotak listrik.

"Kami belum pernah mendengar pemadaman listrik yang disebabkan oleh siput dalam beberapa tahun terakhir," kata seorang juru bicara Shinkansen.

"Jika kami menemukan celah seperti itu saat memeriksa peralatan (di masa depan), kami akan memperbaikinya," pungkas dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar