Sabtu, 11 Januari 2020

Mitos Pamali Pakai Baju Hijau di Pantai Parangtritis

Belakangan heboh ajakan untuk menyerbu Pantai Parangtritis dengan baju hijau. Mitos pamali berbaju hijau ini sudah mengakar lama.

Sebuah unggahan di Facebook mengajak masyarakat menyerbu Pantai Parangtritis menggunakan pakaian hijau untuk membuktikan mitos dan pamalisnya. Seruan ini, sama seperti di Amerika Serikat yang ingin pergi ke Area 51 yang misterius.

Memang selama ini, ada mitos legendaris terhadap orang yang berkunjung ke Parangtritis menggunakan baju hijau. Hal tersebut dianggap pamali, karena dapat mendatangkan marabahaya.

Orang mungkin sering mengaitkan dengan mitos Nyi Roro Kidul. Mitosnya, jika memakai baju putih atau hijau, akan terkena bahaya. Hijau adalah warna khas sang penguasa laut selatan.

Ada juga yang mengatakan, bahwa Nyi Roro Kidul akan menculik orang yang berbaju hijau ke dimensi lain. Namun ternyata, ada pejelasan ilmiah mengenai mitos di Pantai Selatan ini.

Sebenarnya sederhana, Pantai Selatan memiliki ombak yang cukup kencang. Hamparan pantainya pun luas, sehingga kecenderungan untuk tertarik gulungan ombak akan lebih besar.

Bahkan, kadang arus-arus kencang juga menerjang Pantai Selatan. Arus yang mematikan ini sering disebut sebagai Rip (Rest in Peace) Current. Arus ini bisa menggerus pasir yang dipijak oleh wisatawan yang berada di kawasan bibir pantai tersebut.

Area gelombang pecah biasanya lebih tenang dibandingkan dengan gundukan pasir atau tumpukan karang. Bahkan, orang yang tidak siap dalam 5 detik dapat terseret hingga 100 meter ke lepas pantai.

Kekuatan Rip Current ini bervariasi. Jika kekuatannya cukup tinggi, maka akan semakin menyeret korban begitu jauh ke lepas pantai atau tengah lautan. Kasus yang sering terjadi adalah korban baru muncul ditemukan beberapa jam hingga beberapa hari kemudian.

Bahkan, ada sejumlah kasus yang bahkan korbannya tidak ditemukan jasadnya sama sekali. Hal ini kemungkinannya tersangkut oleh cerukan karang di dasar laut, sehingga jasad korban tidak bisa muncul kembali ke permukaan ketika Rip Current melemah.

Kesimpulannya sederhana mengenai kaus dan fenomena alam di sini. Jika traveler memakai baju putih atau hijau, akan sulit dicari di laut karena menyatu dengan air laut. Maka, disarankan berwarna cerah lainnya.

Lulusan Poltekpar Medan Diminta Kelola Wisata Danau Toba Jadi Mendunia

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya meminta agar lulusan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan, Sumatera Utara (Sumut), mengelola Danau Toba dengan profesional sehingga menjadi destinasi berkelas dunia.

Menpar Arief Yahya berharap lulusan Poltekpar Medan bisa mengambil peran sebagai pebisnis dan pengelola profesional industri pariwisata di destinasi Danau Toba, yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai satu di antara 4 destinasi super prioritas yang akan dikembangkan menjadi 'Bali Baru' dan menjadi destinasi pariwisata kelas dunia.

"Destinasi pariwisata Danau Toba nanti menjadi destinasi pariwisata kelas dunia. Di sana akan banyak berdiri hotel dan resort internasional. Lulusan Poltekpar Medan harus mengambil peluang ini agar bisa memenangkan persaingan di era digital tourism 4.0," kata Menpar Arief Yahya dalam keterangannya, Jumat (19/7/2019).

Menpar mengatakan itu dalam acara Wisuda ke-21 Poltekpar Medan di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention Medan, Kamis siang (18/7/2019).

Menpar Arief Yahya menjelaskan, Presiden Jokowi telah menetapkan 10 destinasi pariwisata prioritas (DPP) kemudian dari 10 DPP tersebut ditetapkan 4 DPP super prioritas yakni; Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.

Maka untuk mempercepat terwujudnya rencana tersebut Pemerintah mengalokasikan dana Rp6,4 triliun dan bagi Danau Toba sekitar Rp2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan utilitas di kawasan wisata tersebut.

"Kini mulai banyak investor yang masuk ke Toba. Dalam waktu dekat ada 7 hotel dan resort di sana," kata Arief Yahya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar