Lalu untuk gantinya bagaimana? Tenang saja. Di Jepang banyak toko second hand. Walaupun toko barang bekas tapi jangan dibayangkan toko yang lusuh, kotor, dan bau. Karena ini adalah Jepang, maka standar tokonya pun sesuai standar orang Jepang.
Tokonya normal seperti toko baju biasa, barang-barangnya tertata rapih dan masih dalam kondisi bagus, bersih, wangi dan harganya miring sekali. Fitting room juga disediakan, alhasil aku dan temanku menghabiskan tiga jam hanya untuk memilih-milih pakaian. Barang-barangnya pun tidak 100% bekas, banyak juga barang baru yang mungkin tidak laku di toko asal lalu dijual di toko seperti ini.
Karena saat aku ke Jepang masih akhir musim dingin, untuk coat aku mencari di Toko yang memberikan diskon besar. Aku mendapat coat seharga 780 yen saja. Jika memang berniat cari yang murah, banyak kok di Jepang barang yang murah. Di daerah Harajuku ada beberapa toko yang juga menjual second hand. Bisa dibilang hari pertamaku di Jepang hanya untuk belanja.
Untuk liburan di Jepang, hal dasar yang perlu dipersiapkan oleh para solo traveler adalah biaya transpotasi. Karena di Jepang hampir 95% mode transportasinya adalah transportasi umum, sediakan budget lumayan untuk isi saldo kartu transpotasi.
Kalau aku menggunakan kartu umum bukan wisata karena perjalananku tidak terlalu jauh sampai Kyoto atau Hokkaido. Selama seminggu aku menghabiskan dana satu setengah juta hanya untuk berkeliling Tokyo, Fujikyuu Highland dan Fujinomiya. Kartu transportasi ini bisa digunakan untuk naik kereta dan bus. Pastikan kartu yang dibawa selalu ada saldonya, karena kalau habis harus mengisi dulu di stasiun. Selain itu, pakailan sepatu yang nyaman dan tanpa hak karena di Jepang kalau kemana-mana harus jalan kaki. Jadi persiapkan fisik juga.
Dalam jadwal perjalananku, aku sengaja tidak memilih untuk ke Disney Land. Karena menurutku itu Disney Land sudah terlalu mainstream. Karena ini akan menjadi perjalanan sekali seumur hidup, maka aku memilih untuk ke Fujikyuu Highland.
Fujikyuu Highland merupakan taman wisata yang berada di kaki Gunung Fuji. Kita bisa menikmati banyak wahana-wahana paling ekstrim di dunia dengan latar pemandangan Gunung Fuji. Beberapa wahana yang terkenal diantaranya, Eejanaika yang merupakan roller coaster dengan putaran tiga ratus enam puluh derajat terbanyak di dunia, dan Takabisha yang merupakan roller coaster tercuram di dunia. Juga ada wahana yang lain namun karena saat itu angin yang bertiup cukup kencang, sehingga beberapa wahana ekstrim ditutup.
Padahal kami ingin sekali mencoba Fujiyama yang pernah menjadi roller coaster tercepat di dunia. Selain naik wahana ekstrem, aku dan sahabatku juga berfoto-foto di taman dan bangunan-bangunan yang instagramable. Karena masih akhir musim dingin dan awal musim semi, aku sempat merasakan salju turun saat mengantre naik wahana. Tidak kulewatkan momen itu untuk berfoto bersama tumpukan salju.
Suhu saat itu mencapai minus sepuluh derajat. Cuaca terdingin yang pernah aku rasakan, dan menjadi berkali-kali lipat lebih dingin saat menaiki roller coaster. Wajah terasa seperti ditampar angin kencang yang sangat dingin. Wajahku pun menjadi mati rasa.
Baru ketika roller coaster berhenti, temanku sontak tertawa terbahak-bahak melihat wajahku. Penumpang yang sedang antri pun ada yang menahan senyumnya saat melihatku. Aku pun lekas mencari barang apapun yang mengkilat yang bisa dibuat bercermin. Aku juga ikut tertawa terbahak- bahak melihat ingus yang keluar panjang melewati mulutku sampai ke dagu. Sangat menjijikkan, memalukan, sekaligus menggelikan. Sayangnya aku tidak bisa mengabadikannya karena semua barang bawaan dan alas kaki harus dititipkan di loker. Kami bermain dan berfoto sepuasnya hingga wahana tutup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar