Sabtu, 11 Januari 2020

Tanggapan Pelaku Jasa Wisata Soal Pembangunan Kereta Gantung Bromo

Wacana pembangunan kereta gantung di kawasan Bromo kembali dikemukakan Pemprov Jawa Timur. Begini tanggapan dari para pelaku jasa wisata di sana.

Disampaikan Sekda Provinsi Jawa Timur, Heru Cahyono, pembangunan 'Cable Car' atau kereta gantung, bertujuan semakin meningkatkan potensi wisata Bromo, menjadi jujugan wisata nasional dan internasional.

Informasi itu dikatakannya kepada wartawan, saat menghadiri acara penganugerahan sejumlah pejabat Muspida Probolinggo, sebagai warga kehormatan Suku Tengger, Rabu (17/7/2019).

Tak hanya pembangunan kereta gantung, penambahan fasilitas lainnya akan dibangun di kawasan obyek wisata Gunung Bromo. Disinggung terkait mulai adanya pro kontra atas wacana pembanguna kereta gantung, Heru mengatakan akan menjadi ranah pemerintah daerah yakni Bupati dan Wakil Bupati yang harus mensosialisasikan ke masyarakat.

"Menjadi tugas Bupati dan Wakil Bupati, untuk mensosialisasikan ke masyarakat khususnya Warga Tengger. Karena yang perlu dipertahankan disini, adalah kulturnya dimana menjadi daerah tujuan wisata budaya," terang Heru.

Dijelaskannya terkait dana yang akan dipakai dalam pembangunan 'Cable Car' di Bromo, akan menggunakan Dana APBN.

"Untuk pembangunan kereta gantung, ada beberapa dana yang bisa digabungkan dari pemerintah provinsi, daerah, pusat bahkan investor," pungkasnya.

Sementara itu, wacana pembanguan kereta gantung di Bromo mulai dipertanyakan fungsinya oleh pelaku jasa wisata di Bromo.

Disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Kabupaten Probolinggo, Digdoyo Jamaluddin, wacana pembangunan kereta gantung perlu dikaji terlebih dahulu. Menurutnya banyak aspek yang harus dipikirkan, sebelum wacana pembangunan kereta gantung direalisasikan.

"Saya dingin saja menanggapi soal kereta gantung, karena memang harus dipikirkan secara matang. Perlu dilihat maslahat dan mudhorotnya, jangan sampai pelaku wisata yang mengais rejeki di Bromo seperti hotel, restoran, kuda, jeep dan lainnya jadi tengkurap," jelasnya, Jum'at (19/7/2019).

Ajakan Serbu Parangtritis Pakai Baju Hijau, Ini Kata Dinas pariwisata

Baru-baru ini heboh ajakan untuk ke Pantai Parangtritis pakai baju hijau. Dinas Pariwisata setempat pun angkat bicara.

Sebuah undangan berisi 'Ayo ribuan orang serbu Parangtritis pakai baju hijau' pada tanggal 22 September mendadak ramai di media sosial Facebook. Hingga saat ini, Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Bantul belum menerima pemberitahuan kegiatan tersebut.

"Setahu saya belum ada (koordinasi antara Dinpar Bantul dengan penyelenggara kegiatan serbu Pantai Parangtritis pakai baju hijau)," ujar Kepala Dinpar Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo saat dihubungi wartawan, Jumat (19/7/2019).

"Karena kalau (undangan berisi 'Ayo ribuan orang serbu Parangtritis pakai baju hijau' pada tanggal 22 September) kegiatan itu tidak seperti biasanya dan melibatkan banyak orang, logikanya paling tidak harus ada pemberitahuan," imbuhnya.

Menurutnya, pemberitahuan itu untuk meminimalisir penumpukan di satu tempat yang sama. Mengingat di Pantai Parangtritis terdapat banyak wisatawan, dan tidak sedikit pula yang menggelar beragam kegiatan.

"Selain pemberitahuan, komunikasi juga diperlukan agar masyarakat setempat nantinya tidak kaget dengan adanya kegiatan di (Pantai) Parangtritis," ucapnya.

"Tapi kalau hanya sekadar kunjungan biasa dan lewat TPR menurut saya tidak masalah," sambung Kwintarto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar