Senin, 20 Januari 2020

Sisi Lain Irak yang Tak Melulu Perang (2)

Saat di Irak

"Ketika Anda pergi ke Irak, Anda diharuskan memiliki pemandu berlisensi pemerintah yang ada di dekatmu setiap saat," katanya.

"Kamu bisa berjalan-jalan di sekitar kota sendirian, tetapi kamu harus memiliki pemandu untuk bepergian antar kota dan kamu juga harus tinggal di hotel resmi. Sangat ketat," imbuh dia menjelaskan.

Kata Lindgren, ia tak kekurangan stok foto di sana. Tidak ada batasan militer hingga pemotretan di tempat bersejarah.

Warga setempat, katanya, sangat ramah dan senang untuk mengirim foto bagi dia. Bahkan tentara pun demikian.

"Saya punya gambar seorang prajurit di Samarra dan dia benar-benar berpose. Itu salah satu tempat yang sangat aman di negara ini," jelas dia.

Orang-orang imigrasi bandara yang ditemui Lindgren pun menyambutnya. Lebih dari itu, mereka juga sangat terkejut karena telah melihat visa turis untuk keenam kalinya.

Lindgren mengatakan harapannya soal kehidupan sehari-hari di Irak yang jauh dari kenyataan pemberitaan itu. Yakni Irak negara yang liberal, santai sehingga perlu dijaga keamanan militer di setiap sudut jalan hingga hidup terus berjalan untuk semua restoran hingga kedai kopinya.

"Bahkan pada larut malam di jalanan Kota Baghdad, orang-orang sangat ramah, meminta saya untuk meminum teh dan kopi. Mereka mengundang saya untuk makan malam bersama," kata dia.

"Saya hanya tidak berharap terlalu bebas, yakni pergi ke toko dan membeli alkohol," imbuh dia.

Foto-foto Lindgren menggambarkan Baghdad sebagai kota yang hidup, bersejarah, dan berbudaya. Dia mengambil gambar sebuah bianglala di Taman Rekreasi Al Zawra'a Baghdad, di dalam kebun binatang yang dibangun kembali.

Dia mengambil foto di dalam rumah teh tradisional, di mana penduduk setempat berkumpul untuk mengobrol dan bersantai. Tak luput foto Suasana Pasar Baghdad yang ramai.

Memang masih ada mobil-mobil lapis baja di mana-mana. Tapi Lindgren mengakui bahwa dia terbiasa dengan hal ini karena dia berpengalaman dalam mengunjungi tempat-tempat dengan keamanan yang tinggi.

"Saya telah pergi ke tempat-tempat di mana penduduk setempat akan memberi tahu Anda, 'Jangan pergi ke daerah ini tidak aman, menjauhlah' dan itu terjadi di Irak juga. Tetapi secara umum, dalam perjalanan ke Irak, saya tidak memiliki masalah keamanan. Saya tidak pernah merasa tidak aman sama sekali," tegas dia.

Sang fotografer juga menuju ke ibu kota kuno Ctesiphon, ibu kota Persia terakhir di Irak. Dia juga naik kereta dari Basra, di Irak selatan ke Baghdad dengan pembukaan jalurnya pada tahun 2014.

Lindgren mengakui bahwa lebih mudah bepergian sebagai seorang pria. Namun dalam perjalanannya ke Irak, ia ditemani oleh dua teman wanita yang juga tidak punya masalah sama sekali.

Tak hanya perang

Banyak negara yang mencegah warganya untuk mengunjungi Irak. Sejak invasi AS 2003 untuk menggulingkan Saddam Hussein, negara ini telah berjuang dari kekerasan yang pada 2014-17 meningkat menjadi perang saudara melawan kelompok teroris ISIS.

Departemen Luar Negeri AS memperingatkan risiko terorisme, penculikan dan konflik bersenjata. Nasihat nomor satu dari Lindgren adalah melakukan penelitian yang menyeluruh.

"Anda harus banyak membaca tentang situasi keamanan dan berbicara dengan cukup banyak penduduk setempat sebelum bepergian. Karena, bahkan jika media mengatakan itu terlalu berbahaya, hanya penduduk setempat yang benar-benar mengetahui situasinya," tegas dia.

Lindgren senang bahwa foto-fotonya telah mendapatkan daya tarik pengguna internet, termasuk di Irak. "Banyak media Irak telah menggunakannya dan benar-benar berusaha untuk memamerkan bahwa turis benar-benar datang ke negara itu sekarang," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar