Rabu, 15 Januari 2020

Mitos Harta Karun Benteng Eksekusi Belanda di Bandung Barat

Belanda menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Di Bumi Pasundan ini terdapat sebuah benteng eksekusi Belanda yang punya mitos harta karun.

Benteng Legokjawa menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Kolonial Belanda di Kampung Nyalindung, Desa Cirawamekar, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bangunan yang diperkirakan dibangun pada tahun 1912-1918 ini masih berdiri kokoh meski bentuk bangunannya sudah tak utuh lagi. Benteng ini berhadapan dengan rel kereta api Bandung-Sukabumi yang berada di lembahnya.

Benteng ini merupakan salah satu benteng yang dibangun Belanda di Cirawamekar, selain Benteng Gedong Dalapan di perbukitan Ganasoli. Warna catnya kusam karena tak terawat dan termakan usia. Tanaman merambat dan menjalar di balik-balik celah bangunan.

Di dalam benteng terdapat delapan ruangan yang berderet ke samping. Tiap ruangan memiliki luas sekitar 2 m x 3,5 m. Semua ruangan itu saling terhubung satu sama lainnya.

Tampak luar tiap ruangan itu memiliki satu pintu yang diapit dua jendela. Terlihat baut besi bekas engsel pintu masih menancap di luar dindingnya. Sementara bagian atap benteng tertutupi tanah dan belukar.

Memang awalnya bangunan ini sengaja ditutup semak belukar sebagai bentuk kamuflase agar sulit ditemukan musuh. Konon, di sinilah tentara Belanda bersembunyi, menyimpan senjata dan mengeksekusi musuhnya.

Atap ruangan berbentuk cembung, di tiap dindingnya terdapat sebuah jendela sehingga bisa terlihat isi ruangan di sebelahnya. Ada beberapa lubang galian di dalam bunker tersebut.

"Warga penasaran karena katanya ada harta karun atau benda berharga di dalam bunker tersebut, tapi setelah dibongkar enggak ada apa-apa," ujar Ana Sunaryan(77), sesepuh di kampung tersebut, Senin (8/7/2019).

Selain itu, terdapat coretan vandalisme di bangunan tersebut. Baik di dalam maupun di dalam Benteng Legokjawa. Pasalnya, bangunan ini tak terpantau dan relatif jauh dari tempat aktivitas warga.

Bangunan bunker ini terletak di tengah perkebunan karet dan agak sulit ditemukan. Tak ada papan penunjuk untuk menuju lokasi ini, detikcom pun hanya mengandalkan petunjuk dari warga sekitar.

"Tempat itu mulai jarang dikunjungi, warga pun banyak menanam karet dan pisang di sana," ujar Ana.

Ini Caranya Supaya Tidak Jadi Turis Gembel di Negara Orang

 Kisah para turis yang kehabisan uang lalu pura-pura gembel seringkali berujung bikin onar. Berikut tipsnya, supaya kamu tidak seperti itu.

"Persiapkan liburanmu dengan baik, akomodasi, penginapan, makanan, riset perjalanan jadi kamu tahu berapa kira-kira anggaran yang kamu butuhkan untuk berapa hari liburan," kata turis asal Australia Blake Wilson saat berbincang dengan detikcom di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (8/7/2019).

Pria berusia 30 tahun ini rupanya dua minggu sekali liburan ke Bali. Alasannya selain punya pacar warga Indonesia, dia juga suka dengan keindahan alam Bali. Wilson mengingatkan wajib hukumnya bagi para turis asing untuk punya tiket pulang ke negaranya untuk antisipasi.

"Kamu juga harus punya tiket pulang fleksibel, buat jaga-jaga kalau kehabisan uang kamu jadi bisa tetap pulang meski lebih cepat (dari jadwal-red), persiapkan semuanya dengan baik dan siapkan asuransi perjalanan antisipasi jika barang-barangmu kecurian. Kamu bisa pakai fasilitas kesehatan dari asuransi perjalanan itu," katanya.

Pria yang bekerja di tambang itu mengaku betah liburan di Bali. Selain jaraknya masih dekat negaranya, dia juga mengaku cocok dengan makanan khas Bali.

"Indonesia suasananya rileks, orangnya ramah, lingkungannya nyaman, makanannya juga fantastis, warga Bali-Indonesia punya adat budaya yang bagus, dan serasa di rumah sendiri," pujinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar