Rabu, 08 Januari 2020

Kemenpar: Calender of Event Harus Jadi Pemantik Destinasi

Setiap tahunnya, Kementerian Pariwisata mengumpulkan 100 event penting dari seluruh Indonesia. Harapannya kegiatan ini jadi pemantik untuk datangkan wisman.

Calender of Event (CoE) yang disusun oleh Kementerian Pariwisata setiap tahunnya. Dari 34 Provinsi, dikumpulkanlah 100 kegiatan utama nasional yang ditunggu-tunggu.

Dalam diskusi bersama Forwapar (Forum Wartawan Pariwisata), Kementerian Pariwisata di Forwapar Clinic: Capturing Moment Calender of Event yang digelar di Hotel Ashley, Jakarta, Senin (29/7/2019) membedah isi dari CoE.

"Kita minta 34 kepala provinsi untuk memilih event dari tiap daerah. Diharapkan juga setiap event dilakukan secara konsisten," ujar Esthy Reko Astuti, Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management CoE Kementerian Pariwisata.

Dari tiap provinsi, disaringlah kegiatan-kegiatan besar yang sudah dilakukan secara konsisten. Karena dengan adanya kegiatan yang konsisten, akan mendatangkan wisatawan asing.

"Diharapkan ada impact langsung kepada daerah. Oleh karena itu, event CoE ini harus jelas goalsnya dari kepala daerah," sambung Esthy.

Kemenpar berharap dengan adanya CoE, Indonesia bisa seperti Singapura. Berbagai wisatawan dari belahan dunia datang ke Singapura hanya untuk melihat suatu event.

"Seperti Singapura yang mengundang turis. Goalsnya kemenpar mendatangkan wisatawan untuk memperkenalkan budaya kemudian menjual destinasinya. Seharusnya nanti seperti itu," ungkap Rizki Handayani, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata.

Seperti yang diketahui, CoE sendiri masih dijual sebagai atraksi, bukan destinasi. Di masa depan Kemenpar ingin menyatukan atraksi CoE dengan paket wisata. Sehingga wisatawan akan tinggal lebih lama dan mengeluarkan biaya lebih banyak untuk melihat budaya Indonesia.

"CoE harus jadi pemantik untuk mendatangkan wisman. Dari sini nantinya diharapkan atraksi menjadi destinasi," tambah Rizky.

Untuk bisa menjual event ini, dibutuhkan pula visual yang menarik. Foto menjadi pendukung lain yang menjual atraksi CoE. Lantas bagaimana mendapatkan foto yang menarik dari sebuah event?

"Think before shoot, berpikir lebih dalam. Ada momen-momen tertentu yang membutuhkan effort atau usaha. Untuk itu persiapkan fisik dan peralatan dengan baik," papar Ardiles Rante, Jurnalis AFP, Reuters.

Pariwisata Bantu Ekonomi Dunia, Tapi Sumbang Polusi Juga

Pariwisata membantu perekonomian dunia. Tapi ternyata, pariwisata juga menyumbang polusi untuk Bumi kita.

Konteks pariwisata sering dikaitkan dengan plesiran, mempelajari hal baru, mengunjungi tempat menyenangkan bahkan membangun bisnis yang kuat untuk membangun ekonomi agar manusia tetap dapat tumbuh sejahtera. Pernahkah terpikirkan oleh Anda, dampaknya bagi alam?

Kita mulai dari hal positifnya. World Travel and Tourism Council (WTTC) dalam laporannya Travel and Tourism Economic Impact 2019 menjabarkan bahwa 10,4 persen aspek GDP secara internasional berasal dari pariwisata. Bahkan di tahun 2019, pertumbuhannya mencapai 3,9 persen.

Fakta yang mungkin cukup mencengangkan, bahwa 319 juta pekerjaan didukung oleh pariwisata dan kegiatan traveling lainnya. Dalam persentase, artinya 10 persen dari total pekerjaan yang ada di dunia ini memiliki pondasi dari pariwisata dan kegiatan perjalanan.

Anda belanja suvenir saat traveling? Tentu itu membantu. Jajan di warung lokal, menghidupi masyarakatnya. Hal sesederhana itu membantu perekonomian yang mungkin dapat memberikan dampak berkelanjutan. Sekali lagi, dampak itu berguna bagi kesejahteraan secara finansial.

Kepedulian orang-orang saat ini juga perlu diacungi jempol untuk alam. Lihat saja, berapa kafe yang Anda temui di kota-kota besar yang sudah menggunakan sedotan stainless atau kayu dengan landasan mengurangi sampah plastik? Atau mulai mengedukasi pelaku wisata di berbagai wilayah untuk mengolah limbah hasil wisatawan.

Namun ternyata, pariwisata juga punya dampak negatif. Bukan sekadar vandalisme di tempat wisata, membuang sampah, atau mencemarkan lingkungan yang dengan sengaja dilakukan.

Dampak negatif lain dari pariwisata adalah polusi. Polusi ini adalah ekses dari kegiatan penerbangan. Terpikirkah oleh Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar