Kamis, 09 Januari 2020

Homestay Bertambah, Penyengat Semakin Ramah untuk Turis (2)

Usai uji trail, lanjut Ni Wayan, paket wisata budaya Pulau Penyengat rencananya akan digulirkan Agustus 2019. Konsep pengelolaan 1 pintu diterapkan. Berbadan hukum Homestay Management System, semua aktivitas marketing dari homestay dengan pasar akan ditangani badan tersebut. Regulasi lainnya, setiap homestay sementara dibatasi 2 kamar untuk 4 orang. Format ini release pada 2020.

"Formulasi ideal memang sudah disiapkan para stakeholder pariwisata di Pulau Penyengat. Hal tersebut harus diapresiasi. Kami tentu akan terus mendukungnya. Dengan komitmen kuat dari masyarakat di sana, prospek industri pariwisata di Pulau Penyengat akan terus kompetitif," terangnya.

Menurut Ni Wayan, pergerakan pangsa pasar homestay di Pulau Penyengat menjanjikan. Rata-rata okupansi sekitar 60% per pekannya. Sebaran pasarnya datang dari mancanegara, baik dari Singapura maupun Malaysia.

Saat momen liburan sekolah, lanjut Ni Wayan, lama tinggal wisatawan kedua negara berkisar 1 hingga 2 pekan. Beberapa juga datang dari Denmark dan Kanada. Untuk domestik pasarnya Surabaya, Jakarta, dan Batam.

"Pulau Penyengat sangat siap menjalani uji trail. Beberapa aspeknya mendukung. Homestay milik para warga bagus dan representatif. Buktinya, homestay di sana sudah digunakan wisman. Mereka nyaman tinggal di Pulau Penyengat. Apalagi, alam dan budaya Pulau Penyengat itu eksotis," jelas Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya Kemenpar Oneng Setya Harini.

Menurut Oneng, homestay sendiri harus memenuhi sejumlah persyaratan. Selain dialiri listrik, untuk homestay memiliki fasilitas kamar tidur lengkap, seperti ada tempat tidurnya, kasur dengan sprei dan selimut bersih, bantal, meja, cermin, dan lainnya. Homestay pun wajib menyediakan toliet bersih dengan pintu, penerangan, sirkulasi udara, dan gantungan bajunya.

Homestay juga harus memiliki fasilitas ruang tamu dan kebersihan yang meliputi fasilitas tempat sampah, alas kaki, keset, dan lingkungan sekitar. Homestay juga idealnya memiliki tanaman hias. Lebih penting lagi, keramahan pemiliknya kepada wisatawan. Idealnya, homestay selalu terkoneksi dengan atraksi berbasis desa dan masyarakat.

Selain fisiknya, peningkatan aspek lain juga menyasar hygiene dan sanitasinya. Konsepnya melibatkan pengendalian terpadu pengolahan pangannya mulai dari produksi, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi dan penyajiannya. Adapun sanitasi, fokusnya lingkungan keluarga, penanganan limbahnya, hingga fasilitas umum.

"Kami percaya, pengelola homestay di Pulau Penyengat selalu menjaga kualitasnya. Layanan terbaiklah yang selalu diberikan, apalagi pasarnya sudah terbentuk bagus di sana. Bila paket wisata budaya Pulau Penyengat sudah dirilis, arus wisatawan akan semakin positif. Artinya, potensi ekonominya semakin besar dan menjanjikan," papar Oneng.

Selain homestay, Pulau Penyengat juga memiliki Penginapan Sultan dengan posisi yang strategis. Selain dekat dermaga penyeberangan, penginapan ini berada di depan Masjid Raya Sultan Riau. Penginapan Sultan juga memiliki sekitar 6 kamar twin dengan fasilitas lengkapnya. Toiletnya bersih dan harum, dilengkapi wastafel.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan, Pulau Penyengat destinasi lengkap. Atraksi, amenitas, dan aksesibilitas Pulau Penyengat sangat bagus.

"Destinasi ini sangat lengkap. Para wisatawan dijamin akan mendapatkan experience lengkap saat berkunjung ke Pulau Penyengat. Untuk itu, kami rekomendasikan Pulau Penyengat sebagai spot ideal berlibur. Apalagi, nantinya destinasi ini sudah dilengkapi dengan paket wisata menariknya," tutup Arief.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar