Thailand mengambil langkah berani. Menutup Maya Bay, tempat wisatanya yang disebut surga karena sudah sangat amat penuh turis.
Maya Bay merupakan salah satu pantai di Phi Phi Islands. Pantai yang begitu terkenal dan jadi favorit turis, juga pernah jadi lokasi syuting film 'The Beach' yang dibintangi Leonardo DiCaprio pada tahun 2000 silam.
Meski jauh dari Bangkok, karena harus naik pesawat ke Krabi dan lanjut naik boat, turis tetap datang ke Maya Bay. Bentang pasir putihnya yang landai begitu menggoda, lautannya jernih dan panoramanya elok nian.
Tapi kini, 'surga' di Thailand itu tidak akan bisa disentuh turis lagi.
Dilansir dari BBC, Jumat (21/6/2019) pemerintah Thailand menutup Maya Bay sejak pertengahan tahun 2018 kemarin. Awalnya hanya beberapa bulan, tapi kabar terbaru ditutup hingga tahun 2021. Itu pun masih bisa diperpanjang.
Kunjungan turis ke sana mencapai angka 3.500 orang per hari. Ingat, per hari!
Dengan banyaknya yang turis, aspek kenyamanan mulai terusik. Bahkan parahnya lagi, bentang alam di Maya Bay pun ikut rusak.
"Pada tahun 1998-1999, karang yang rusak berjumlah sekitar 30 persen. Tetapi sekarang 90 persen terumbu karang di sana sudah rusak," kata Thon Thamrongnawasawat, seorang peneliti kelautan dari Kasetsart University.
Kerusakan terumbu karang tersebut akibat jangkar dari kapal dan terinjak-injak atau tersentuh oleh turis. Tidak ada jalan lain, didukung oleh pihak taman nasional dan konservasi alam, pemerintah Thailand akhirnya menutup sementara Maya Bay dari kunjungan turis.
Pemerintah Thailand memasang zona demarkasi. Suatu garis pembatas, yang berjarak 300 meter dari bibir pantai Maya Bay. Artinya, turis hanya bisa memandangi Maya Bay dari jarak tersebut dan tanpa alasan apapun tidak boleh melintasi garisnya.
Sekitar 10 bulan setelah ditutup, Maya Bay pelan-pelan pulih. Hal itu terlihat, sudah ada 60 hiu datang ke sana dan berkembang biak.
"Kedatangan hiu merupakan simbol alam bahwa lingkungannya mulai membaik," ujar Thon Thamrongnawasawat.
Terumbu karang pun mulai tumbuh di perairan Maya Bay, meski butuh beberapa dekade supaya terumbu-terumbu karangnya mencapai bentuk dewasa. Ya, pelan-pelan, ada perubahan baik di Maya Bay.
"Turis memang tidak bisa sampai ke pantai, tapi mereka tampaknya cukup bahagia bisa melihat Maya Bay dari kejauhan," kata Ekawit Pinyotamanotai dari Dewan Pariwisata Krabi.
Langkah Thailand untuk menutup 'surganya' tersebut, patut diapresiasi. Thailand tentu menyelamatkan alamnya dan menyelamatkan pariwisatanya untuk masa depan.
Mengenal Kebahagiaan di 5 Kota Tercerah Sedunia
Kita kadang bertanya, apa yang dirasakan oleh orang dibelahan dunia lain? Kali ini detikcom akan memberitahu traveler kehidupan di 5 negara tercerah dunia.
Bicara tentang matahari yang bersinar sepanjang tahun, mungkin akan langsung ingat dengan Indonesia. Tapi Indonesia bukanlah nomor teratas, karena masih punya musim hujan yang juga rutin.
detikcom menghimpun 5 negara yang masuk dalam kategori tercerah dunia dari BBC, Kamis (20/6/2019). Ada yang berbeda dari perilaku masyarakat ini. Mereka hidup dengan lebih bergairah dan bahagia.
1. Phoenix, Arizona
Inilah Kota Phoenix di Arizona, Amerika Serikat. Kota ini memiliki hari yang terus cerah sepanjang tahun dibanding kota-kota lain di dunia.
Masyarakat di kota ini mengaku memiliki perngaruh suasana hati dengan banyaknya matahari yang dirasakan. Kalau hujan, rasanya hati jadi melankolis dan tertutup.
"Saya tidak memiliki gambaran bahwa matahari sangat berdampak pada suasana hati saya sampai saya belajar di luar negeri selama satu tahun di Bergen, Norwegia, yang secara tak sengaja, merupakan salah satu tempat yang paling sering terkena hujan di dunia," kata Catherine Capozzi, seorang penduduk yang lama tinggai di Phoenix.
"Saya merasa lebih tertutup dan melankonis, tetapi tidak mengetahui kenapa itu bisa terjadi. Bahkan sampai saat ini, hanya terjadi hujan selama satu hari dapat menurunkan energi saya," tambah Capozzi.
Saat matahari bersinar cerah, langit Phoenix akan terlihat biru. Pemandangan dari ketinggian akan membawa traveler melihat lanskap kota ini yang terlihat jelas.
"Mereka yang terus jatuh cinta dengan terik matahari, cuaca musim dingin yang fantastis, makanan Meksiko yang luar biasa, orang-orang yang ramah, dan standar hidup yang sangat murah," kata Capozzi.
2. Darwin, Australia
Sebenarnya Darwin masih kurang cerah dibandingkan Tennant Creek dan Alice Spring. Dari lamanya penyinaran matahari, Alice Spring mendapat penyinaran sebanyak 3.500 jam, Tennant Creek mendapat 3.569 jam dan Darwin 3.097 jam.
Namun, di Kota Darwinlah timbul gaya hidup santai. Kalimat ekspresi yang akan sering traveler dengar adalah 'tidak perlu khawatir','it's easy', dan 'dia akan baik-baik saja teman'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar