Sabtu, 11 Januari 2020

Ajakan Serbu Parangtritis Pakai Baju Hijau, Ini Kata Dinas pariwisata

Baru-baru ini heboh ajakan untuk ke Pantai Parangtritis pakai baju hijau. Dinas Pariwisata setempat pun angkat bicara.

Sebuah undangan berisi 'Ayo ribuan orang serbu Parangtritis pakai baju hijau' pada tanggal 22 September mendadak ramai di media sosial Facebook. Hingga saat ini, Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Bantul belum menerima pemberitahuan kegiatan tersebut.

"Setahu saya belum ada (koordinasi antara Dinpar Bantul dengan penyelenggara kegiatan serbu Pantai Parangtritis pakai baju hijau)," ujar Kepala Dinpar Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo saat dihubungi wartawan, Jumat (19/7/2019).

"Karena kalau (undangan berisi 'Ayo ribuan orang serbu Parangtritis pakai baju hijau' pada tanggal 22 September) kegiatan itu tidak seperti biasanya dan melibatkan banyak orang, logikanya paling tidak harus ada pemberitahuan," imbuhnya.

Menurutnya, pemberitahuan itu untuk meminimalisir penumpukan di satu tempat yang sama. Mengingat di Pantai Parangtritis terdapat banyak wisatawan, dan tidak sedikit pula yang menggelar beragam kegiatan.

"Selain pemberitahuan, komunikasi juga diperlukan agar masyarakat setempat nantinya tidak kaget dengan adanya kegiatan di (Pantai) Parangtritis," ucapnya.

"Tapi kalau hanya sekadar kunjungan biasa dan lewat TPR menurut saya tidak masalah," sambung Kwintarto.

Terkait beredar luasnya undangan tersebut, Kwintarto mengaku akan mengkonfirmasi kepada akun yang sengaja menyebar undangan itu melalui medsos. Hal itu agar suasana pariwisata di Kabupaten Bantul tetap kondusif.

"Nanti teman-teman tim IT akan menelusurinya (asal undangan serbu Parangtritis) dan sampai sekarang kita belum dapat linknya," ucapnya.

Mengenai larangan wisatawan untuk mengenakan pakaian berwarna hijau saat ke Pantai Parangtritis, Kwintarto mengaku hal itu bukanlah ranah Dinpar. Menurutnya, larangan itu adalah saran dari para pendahulu.

"Kalau itu (masalah larangan mengenakan pakaian warna hijau) bukan kewenangan (Dinas) pariwisata Bantul. Karena kita memang tidak ada aturan melarang (wisatawan berbaju hijau)," ucapnya

"Jadi itu lebih ke saran atau mitos, dan setahu saya sampai saat ini masih mitos. Silakan mau percaya atau tidak, tapi ya risiko tanggung sendiri," imbuh Kwintarto.

Menpar Pantau Percepatan Danau Toba Jadi Destinasi Prioritas

Kementerian Pariwisata terus memantau jalannya wisata Danau Toba yang merupakan salah satu dari destinasi super prioritas pemerintah. Menteri Pariwisata Arief Yahya pun mengecek situasi terkini, untuk menyelami akar persoalan yang paling dasar dan menemukan solusi percepatan pengembangan destinasi super prioritas di Sumatera Utara itu.

Pada Kamis, (18/7/2019), setelah melakukan perjalanan darat dari Poltekpar Medan ke Parapat, Arief langsung menuju ke The Kaldera Danau Toba, yang dikelola oleh Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT). Saat itu, kondisi hujan dan suhu di sela-sela pohon pinus The Kaldera Danau Toba nge-drop hingga di bawah 20 derajad Celcius.

"Saya menindaklanjuti arahan Pak Presiden Jokowi di Ratas 15 Juli 2019 lalu, untuk melakukan percepatan 5 destinasi super prioritas, dan salah satunya Danau Toba. Saya harus pastikan semuanya running," ungkap Arief, dalam keterangan tertulis, Jumat (19/7/2019).

Saat kunjungan tersebut, Arief membuat banyak keputusan di lapangan. Malamnya, hingga tengah malam disambung rapat dengan BOPDT. Dari soal infrastruktur, marketing, events, sampai ke eksekusi budgeting. Dari masalah Akses, Atraksi, sampai ke Amenitas.

"Intinya, kawasan Danau Toba harus segera hidup dan menjadi destinasi kelas dunia," ungkap Arief.

Arief mengupayakan terobosan baik dari sisi marketing yang sudah menggunakan teknologi digital sejak awal, pengembangan destinasi, sampai ke soal SDM di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar