Sebuah pernyataan kontroversial kembali dilontarkan seorang ilmuwan organisasi kesehatan dunia WHO. Dikutip dan disebarkan oleh banyak media, kepala unit penyakit emerging dan zoonosis Maria Van Kerkhove menyebut penularan virus Corona COVID-19 pada orang tanpa gejala (OTG) tampaknya jarang terjadi.
"Dari data yang kami punya, kelihatannya masih jarang OTG benar-benar menularkan ke orang lain," katanya dalam sebuah jumpa pers di Jenewa, Swiss, Senin lalu.
Kurang dari 24 jam, WHO meluruskan pernyataan tersebut. Ditegaskan, masih banyak hal yang tidak diketahui soal itu. Klarifikasi ini menyusul kritik dari berbagai kalangan tentang pernyataan bahwa penularan virus corona pada OTG jarang terjadi.
Van Kerkhove berdalih, pernyataan itu bukan merupakan kebijakan WHO. Ia melontarkan pernyataan tersebut semata-mata untuk menjawab sebuah pertanyaan 'kompleks' dan akhirnya memicu kesalahpahaman.
"Saya menggunakan istilah 'sangat jarang' dan saya pikir bahwa ada kesalahpahaman dalam menyatakan 'penularan tanpa gejala secara global adalah sangat jarang'," katanya.
"Apa yang saya rujuk adalah sebuah subset penelitian, saya juga merujuk beberapa data yang belum dipublikasikan," lanjutnya, dikutip dari Foxnews.
Perbedaan definisi tanpa gejala atau asymptomatic menambah kebingungan terkait pernyataan tersebut. Beberapa orang yang terinfeksi virus Corona memang tidak pernah menampakkan gejala alias fully asymptomatic, tetapi ada juga yang gejalanya baru muncul belakangan. Kondisi yang terakhir disebut, dikenal sebagai pre-symptomatic.
Perihal risiko penularan virus Corona pada OTG menjadi perbincangan di Amerika Serikat menyusul aksi protes terkait kematian George Floyd. Walikota Atlanta, Keisha Lance Bottoms, mengingatkan bahwa para demonstran berisiko saling menularkan virus.
"Jika Anda ikut demo semalam, Anda mungkin perlu melakukan tes COVID pekan ini," pesannya.
Perlukah Pakai Masker Saat Bercinta? Yuk Tanya Dokter Boyke
Risiko penularan virus Corona bisa terjadi di mana saja, termasuk saat bercinta. Perlukah pakai masker saat sedang memadu asmara?
Saat pandemi COVID-19 tengah berlangsung, banyak pasutri menjadi khawatir ketika akan melakukan hubungan seksual. Terlebih bagi yang menjalani LDR alias long distance relationship, misalnya saat suami sering bekerja ke luar kota.
Menurut praktisi kesehatan seksual dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, risiko penularan bisa dicegah dengan selalu menjaga kebersihan. Pastikan seluruh permukaan tubuh sudah bersih dari kemungkinan ada droplet yang menempel.
"Ketika mau masuk ke rumah, harus mandi, ganti baju, cuci rambut, dan cuci tangan. Ganti semuanya yang baru jika ingin melakukan hubungan seks," pesan dr Boyke dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (9/6/2020).
"Nah kalau kepikiran saya ketularan nggak ya? Untuk itu Anda bisa melakukan pemeriksaaan. Kalian bisa tes PCR, yang mudah aja cuman beberapa menit, untuk make sure aja. Kalau sudah yakin ya sudah kalian boleh melakukan hubungan seks kalau sudah sama-sama bersih," tambah dr Boyke.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar