Risiko penularan virus Corona bisa terjadi di mana saja, termasuk saat bercinta. Perlukah pakai masker saat sedang memadu asmara?
Saat pandemi COVID-19 tengah berlangsung, banyak pasutri menjadi khawatir ketika akan melakukan hubungan seksual. Terlebih bagi yang menjalani LDR alias long distance relationship, misalnya saat suami sering bekerja ke luar kota.
Menurut praktisi kesehatan seksual dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, risiko penularan bisa dicegah dengan selalu menjaga kebersihan. Pastikan seluruh permukaan tubuh sudah bersih dari kemungkinan ada droplet yang menempel.
"Ketika mau masuk ke rumah, harus mandi, ganti baju, cuci rambut, dan cuci tangan. Ganti semuanya yang baru jika ingin melakukan hubungan seks," pesan dr Boyke dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (9/6/2020).
"Nah kalau kepikiran saya ketularan nggak ya? Untuk itu Anda bisa melakukan pemeriksaaan. Kalian bisa tes PCR, yang mudah aja cuman beberapa menit, untuk make sure aja. Kalau sudah yakin ya sudah kalian boleh melakukan hubungan seks kalau sudah sama-sama bersih," tambah dr Boyke.
Miss V Sering Gatal? Ini 5 Kemungkinan Penyebab Paling Umum
- Kaum wanita pasti pernah mengalami area Miss V gatal. Bukan hanya terasa tidak nyaman, yang lebih menyebalkan adalah kita sering tidak mengetahui apa penyebabnya.
Rasa gatal di area kewanitaan memiliki beberapa penyebab, mulai dari sesuatu yang bisa kita atasi sendiri, seperti mengganti sabun, atau disebabkan oleh infeksi menular seksual. Itu sebabnya, jangan mengobati sendiri rasa gatal di vagina, apalagi jika sudah berlangsung beberapa hari.
Konsultasikan dan periksakan ke dokter. Ahli kebidanan dan kandungan Audra Williams mengatakan, vagina yang sehat seharusnya jarang gatal. Ini karena organ ini memiliki mekanisme membersihkan sendiri untuk menjaga keseimbangan bakteri alami. Jika keseimbangannya terganggu bisa menyebabkan rasa gatal atau keluar cairan berlebihan.
Dikutip dari berbagai sumber ada 5 penyebab Miss V sering gatal.
1. Infeksi jamur
Penyebab vagina terasa gatal adalah infeksi jamur. Menurut Williams, sekitar 75 persen wanita pernah mengalami ini dalam hidupnya.
"Jamur adalah organisme hidup yang menyebabkan peradangan pada jaringan vagina. Gejalanya mulai dari rasa gatal, keluar cairan yang kental dan putih, hingga sensasi terbakar saat buang air kecil," katanya.
2. Bacterial vaginosis
Kondisi ini terjadi saat keseimbangan bakteri di vagina terganggu, sehingga pertumbuhan bakteri tertentu berlebihan. Selain rasa gatal, kondisi ini juga menyebabkan keluar cairan berlebihan dengan aroma berbau amis. Periksakan ke dokter untuk mengetahui dengan pasti penyebabnya. Jika memang bacterial vaginosis, biasanya dokter akan meresepkan antibiotik.
3. Sabun atau pakaian dalam baru
Bila kamu hanya mengalami rasa gatal tanpa ada keluar cairan berlebihan (keputihan), kemungkinan disebabkan oleh dermatitis kontak, yaitu kulit bereaksi terhadap alergen atau bahan iritan. Biasanya terjadi ketika memakai sabun, lotion, deterjen pencuci baju, atau bahan pakaian dalam tertentu. Kondisi ini terjadi pada mereka yang kulitnya sensitif.
4. Menjelang menopause
Bila kamu sudah memasuki usia menjelang manopause, sekitar usia 51 tahun, akan terjadi perubahan hormonal. Hal itu memicu berbagai gangguan, termasuk pada organ reproduksi, berupa rasa gatal. Walau kita tidak bisa mengubah siklus menopause, tapi ada yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa gatal. Misalnya memakai pelembab khusus vagina atau menggunakan lubrikasi saat berhubungan seksual.
5. Infeksi menular seksual
Infeksi menular seksual (IMS) berarti kita terinfeksi bakteri atau virus melalui hubungan seksual. Beberapa jenis IMS misalnya herpes genital, chlamydia, atau kutil kelamin. Gejalanya bisa berupa keputihan berat ataupun gatal berlebihan. Segera periksakan ke dokter untuk mendapat pengobatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar