Setelah makan, yang paling umum dirasakan adalah mengantuk. Tetapi kalau sampai tertidur setelah sarapan, urusan tentu jadi runyam. Bisa-bisa terlambat masuk kerja.
Selain tidur, mengutip dari Live Strong ternyata ada hal-hal lain yang tidak boleh dilakukan setelah makan. Kira-kira apa saja ya?
1. Menyikat gigi
Menyikat gigi setelah makan ternyata termasuk ide yang buruk lho. Jika kamu baru saja mengkonsumsi makanan yang asam, enamel gigi sedang dalam kondisi lemah.
Kalau kamu langsung menyikatnya, bisa-bisa malah merusaknya. Akan lebih baik tunggu 30 menit sejak selesai makan atau sikatlah gigi sebelum makan.
Lain halnya saat kamu mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan gula, bisa menyebabkan bakteri tertentu terbentuk di dalam mulut. Akan lebih baik jika setelah makan langsung menggosok gigi, untuk mencegah bakteri semakin menumpuk.
2. Tidur
Ini hal yang seharusnya paling dihindari setelah makan, karena bisa menyebabkan mual. Setidaknya butuh waktu jeda selama tiga jam setelah makan.
Saat makan, makanan akan tersimpan dalam perut. Jika seseorang tidur setelah makan, tidak ada lagi gaya gravitasi yang membantu makanan dan asam lambung turun. Hal terjadi malah membuat makanan dan asam lambung kembali ke esofagus dan menyebabkan heartburn.
3. Olahraga
Setelah makan, sangat tidak dianjurkan untuk langsung berolahraga. Ini karena sistem pencernaan juga membutuhkan darah agar bisa berfungsi secara baik, sehingga terhindar dari sakit perut atau kram otot.
Jika ingin olahraga, tunggu 3-4 jam setelah makan. Jika hanya ngemil atau makan makanan kecil, bisa tunggu 1-2 jam.
Bisa juga diatasi dengan berjalan perlahan sekitar 30 menit, untuk membantu menurunkan makanan yang baru dikonsumsi.
Kontroversi Terkini WHO: Penularan Virus Corona pada OTG Jarang Terjadi?
Sebuah pernyataan kontroversial kembali dilontarkan seorang ilmuwan organisasi kesehatan dunia WHO. Dikutip dan disebarkan oleh banyak media, kepala unit penyakit emerging dan zoonosis Maria Van Kerkhove menyebut penularan virus Corona COVID-19 pada orang tanpa gejala (OTG) tampaknya jarang terjadi.
"Dari data yang kami punya, kelihatannya masih jarang OTG benar-benar menularkan ke orang lain," katanya dalam sebuah jumpa pers di Jenewa, Swiss, Senin lalu.
Kurang dari 24 jam, WHO meluruskan pernyataan tersebut. Ditegaskan, masih banyak hal yang tidak diketahui soal itu. Klarifikasi ini menyusul kritik dari berbagai kalangan tentang pernyataan bahwa penularan virus corona pada OTG jarang terjadi.
Van Kerkhove berdalih, pernyataan itu bukan merupakan kebijakan WHO. Ia melontarkan pernyataan tersebut semata-mata untuk menjawab sebuah pertanyaan 'kompleks' dan akhirnya memicu kesalahpahaman.
"Saya menggunakan istilah 'sangat jarang' dan saya pikir bahwa ada kesalahpahaman dalam menyatakan 'penularan tanpa gejala secara global adalah sangat jarang'," katanya.
"Apa yang saya rujuk adalah sebuah subset penelitian, saya juga merujuk beberapa data yang belum dipublikasikan," lanjutnya, dikutip dari Foxnews.
Perbedaan definisi tanpa gejala atau asymptomatic menambah kebingungan terkait pernyataan tersebut. Beberapa orang yang terinfeksi virus Corona memang tidak pernah menampakkan gejala alias fully asymptomatic, tetapi ada juga yang gejalanya baru muncul belakangan. Kondisi yang terakhir disebut, dikenal sebagai pre-symptomatic.
Perihal risiko penularan virus Corona pada OTG menjadi perbincangan di Amerika Serikat menyusul aksi protes terkait kematian George Floyd. Walikota Atlanta, Keisha Lance Bottoms, mengingatkan bahwa para demonstran berisiko saling menularkan virus.
"Jika Anda ikut demo semalam, Anda mungkin perlu melakukan tes COVID pekan ini," pesannya.
https://indomovie28.net/captain-tsubasa-2018-episode-15-subtitle-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar