Virus coronaCOVID-19 saat ini sudah mulai masuk ke Indonesia. Untuk pencegahan, orang-orang mulai berburu hand sanitizer sebagai cara mencegah terinfeksi virus tersebut. Bahkan banyak orang yang terus menerus memakainya dengan alasan upaya pencegahan.
Dokter spesialis kulit dari DNI Skin Centre, dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK, menjelaskan pemakaian hand sanitizer juga ada aturannya. Tidak boleh terlalu sering pakai, kandungannya harus diperhatikan, dan kapan saja kita harus memakainya.
"Digunakan saat kontak dengan orang sakit, setelah menggunakan toilet, setelah batuk atau bersin yang menggunakan telapak tangan untuk menutupinya," jelas dr Darma pada detikcom, Sabtu (7/3/2020).
"Selain itu, karena wabah corona bisa menular melalui mukosa (seperti hidung, mata, dan mulut), maka sebelum bersentuhan dengan area itu perlu menggunakan antiseptik," imbuhnya.
Agar lebih efektif dalam membasmi kuman, dr Darma juga menyarankan untuk menggunakan hand sanitizer yang memiliki kandungan alkohol, minimal 60 persen. Jika menggunakan produk hand sanitizer yang non alkohol mungkin tidak akan bisa mengusir beberapa jenis kuman tertentu.
"Bahkan itu bisa membuat kuman kebal terhadap zat yang ada pada hand sanitizer dan mungkin menimbulkan iritasi pada kulit," ujarnya.
dr Darma juga mengingatkan, berdasarkan Pedoman Pencegahan Infeksi (PPI) jika sudah menggunakan hand sanitizer sebanyak 5 kali, harus dilanjutkan dengan cuci tangan. Ini dilakukan sebelum menggunakan cairan itu kembali.
Ahli Medis China Sebut COVID-19 Bisa Sebabkan Kerusakan Permanen Pada Tubuh
Di tengah maraknya wabah virus corona COVID-19, salah satu ahli kesehatan di China membuat pernyataan yang mengejutkan. Setelah melakukan autopsi terhadap salah satu korban akibat COVID-19, ia mengatakan bahwa penyakit ini jauh lebih buruk dari yang pernah dibayangkan.
"Efek COVID-19 pada tubuh manusia seperti kombinasi antara SARS dan AIDS yang efeknya berbahaya, karena bisa merusak paru-paru dan sistem kekebalan tubuh," kata Peng Zhiyong, tim medis Rumah Sakit Zhongnan dari Universitas Wuhan yang dikutip dari Daily Star.
Dr Peng mengatakan, jika pasien yang sudah sembuh atau pulih bisa memiliki kerusakan paru-paru yang tidak bisa disembuhkan atau bersifat permanen. Hal ini diungkapkannya setelah mempelajari hasil penelitian Liu Liang, seorang ahli forensik dari Fakultas Kedokteran Tongji di Universitas Sains dan Teknologi Huangzhong.
"Hasil autopsi Dr Liu banyak menginspirasi saya. Dari situ saya berpikir langkah awal yang diambil untuk mengatasi ini (COVID-19) adalah melindungi paru-paru pasien dari fibrosis yang permanen ini," jelasnya.
Fibrosis merupakan jaringan parut yang terbentuk secara permanen pada jaringan paru-paru. Hal ini bisa membuat penderitanya sesak nafas kronis atau kesulitan dalam bernapas.
Ini Alasan Kamu Nggak Boleh Pakai Hand Sanitizer Berlebihan
Kabar masuknya virus corona COVID-19 ke Indonesia semakin menambah kewaspadaan masyarakat dalam menjaga kesehatan. Penggunaan hand sanitizer menjadi salah satu pilihannya. Bahkan saat ini banyak fasilitas umum yang menyediakan cairan pembersih ini.
Tapi, karena kepanikan akan COVID-19 masyarakat justru berlebihan dalam memakai hand sanitizer. Dari pantauan tim detikcom, mereka menggunakannya setiap melihat botol cairan itu, di mana pun berada.
Namun, penggunaan hand sanitizer yang mengandung antibiotik (triklosan) secara berlebihan ini bisa berbahaya bagi kulit dan tubuh. Menanggapi hal ini, dokter spesialis kulit dari DNI Skin Centre, dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK, mengatakan bisa menyebabkan resistensi bakteri pada kulit.
"Itu bisa menyebabkan resistensi bakteri di kulit. Jika penggunaan lebih dari 6 kali sehari, bisa menyebabkan penurunan jumlah flora normal di kulit," jelasnya saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/3/2020).
Selain itu, dr Darma mengatakan dampak lainnya bisa membuat kulit jauh lebih kering, sehingga mudah iritasi dan kuman mudah masuk melalui kulit.
dr Darma menambahkan, sebuah penelitian juga meneliti tentang penggunaan hand sanitizer yang mengandung triclosan pada hewan. Hasilnya, cairan itu bisa mengganggu fungsi tiroid dan kekebalan tubuh.
"Namun, penelitian ini pada manusia belum ada," imbuh dr Darma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar