Selasa, 16 Juni 2020

Setelah Hooq Tumbang, Iflix Sempoyongan

Nasib beberapa perusahaan layanan streaming sedang kurang bagus. Buktinya Hooq sudah tutup dan Iflix kini mengalami kesulitan cukup besar.
Seperti diberitakan, Hooq yang berbasis di Singapura telah menutup layananannya secara permanen pada 30 April. "Hari ini, kami pamit. #TerimaKasihIndonesia," sebut Hooq dalam ucapan perpisahan di Twitter pada 29 April 2020 silam.

Hooq yang didirikan pada tahun 2015 ini mengakui tidak mampu bersaing di tengah ketatnya layanan streaming, meski mereka punya sekitar 80 juta pengguna. Padahal mereka didukung nama besar seperti Singtel dan Sony Pictures.

"Biaya untuk konten tetap tinggi dan kemauan konsumen di pasar negara berkembang untuk membayar hanya sedikit meningkat karena banyaknya pilihan," demikian pernyataan Hooq.

Tak berapa lama kemudian, giliran Iflix mengalami nasib kurang mengenakkan. Layanan streaming yang berkantor pusat di Malaysia ini kabarnya mulai goyah dari sisi keuangan dan terancam tidak dapat membayar utang. Situasi tersebut semakin diperparah oleh mundurnya kedua pendirinya.

Dikutip detikINET dari Nikkei, sumber internal Iflix menyebut perusahaan siap dijual. Patrick Grove, yang adalah Chairman Iflix hingga 2019, mengundurkan diri pada 9 April silam. Luke Elliott, salah satu pendiri iflix, juga mengundurkan diri dari dewan perusahaan pada hari yang sama.

PHK juga telah dilakukan demi efisiensi dan upaya untuk bertahan di tengah situasi ketidakpastian di tengah pandemi Corona. "Industri ini tidak kebal terhadap keadaan yang belum pernah terjadi sebelumnya," sebut pihak Iflix.

Sama seperti Hooq, Iflix sebenarnya cukup populer di kawasan Asia Tenggara dan sudah punya jutaan pengguna. Tercatat pada April 2020, pengguna aktif Iflix sudah berada di kisaran 25 juta.

Namun memang industri streaming membutuhkan banyak biaya, misalnya demi kekayaan konten mereka harus membuat produk sendiri. Terlebih lagi, yang mereka hadapi adalah raksasa, siapa lagi kalau bukan Netflix yang masih jauh di atas soal jumlah pengguna ataupun pendanaan.

Walaupun demikian, Iflix masih mencoba optimistis. "Kami tetap fokus mendorong bisnis agar impas di 2021 dan langkah-langkah tersebut adalah bagian dalam memastikan kami berada di jalur itu dan bisa menghadapi tantangan saat ini," cetus Iflix.

Riset: Vitamin K Berpotensi Cegah COVID-19

Riset dari Belanda menemukan bahwa pasien COVID-19 yang mengalami defisiensi vitamin K lebih rentan mengalami perawatan intensif atau risiko kematiannya meningkat. Vitamin K ditemukan pada sejumlah jenis keju, bayam, dan telur.
Mengutip CTV News, studi yang sedang di-review dan belum dipublikasikan ini, memantau 134 pasien yang dirawat di Canisius Wilhelmina, Belanda, sejak 12 Maret-11 April 2020. Kemudian, mereka dikomparasi dengan 184 orang yang sudah dipastikan tidak terinfeksi SARS-CoV-2.

Para peneliti, yang bekerja dalam kolaborasi dengan Cardiovascular Research Institute Maastricht menemukan bahwa pasien yang harus dirawat di ICU atau meninggal karena COVID-19 memiliki kadar vitamin K yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok individu yang sehat.

Lebih lanjut, COVID-19 pada awalnya dianggap sebagai penyakit pernapasan, akan tetapi ada banyak bukti yang menunjukkan penyakit tersebut mempengaruhi area lain dari tubuh dan menyebabkan penggumpalan darah.

Gumpalan darah dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, dan penyumbatan berbahaya di paru-paru. Mereka juga dapat menyebabkan degradasi serat elastis di paru-paru.

Dalam siaran pers, ahli paru Rob Janssen, yang meneliti pada proyek tersebut, menjelaskan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan peradangan di paru-paru, yang merusak serat elastis yang memungkinkan orang untuk bernapas. Dia mengatakan itu sebabnya vitamin K penting karena diperlukan bagi tubuh untuk menghasilkan protein pelindung bagi serat-serat elastis itu.

Vitamin K juga berperan dalam produksi protein yang mengatur pembekuan darah. Menurut Institut Kesehatan Nasional AS (NIH), vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak yang datang dalam dua bentuk, vitamin K1 dan vitamin K2.

Vitamin K1 ditemukan terutama dalam sayuran berdaun hijau, seperti bayam, kangkung, brokoli, dan collard green. Bentuk lain, vitamin K2, hadir dalam makanan hewani dan fermentasi, seperti telur, ayam hitam, dan mentega. Vitamin K2 juga ditemukan di berbagai keju keras dan lunak, termasuk Gouda, Jarlsberg, dan Munster.
https://indomovie28.net/cast/kim-yoon-seok/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar