Selasa, 16 Juni 2020

Dikritik 'Bangun Kilang Nggak Jadi-jadi', Dirut Pertamina Bilang Ini

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati curhat soal proyek kilang yang digarap oleh perusahaan minyak dan gas milik negara itu. Sebab banyak pihak yang nyinyir pembangunannya tidak jadi-jadi.

Dia menegaskan bahwa pembangunan kilang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu untuk menyelesaikannya.

"Banyak juga kalangan yang tetap nyinyir mengatakan 'ini kilang kok nggak jadi-jadi'. Ya semua harus tahu juga membangun kilang itu bukan seperti membalikkan tangan ya. Perlu waktu 3-4 tahun membangun kilang," kata dia dalam diskusi virtual yang disiarkan langsung di Facebook, Senin (15/6/2020).

Menurutnya menggarap proyek di Indonesia tidaklah mudah. Apalagi yang berurusan dengan pembebasan lahan.

"Harus tahu juga, nggak simpel ya membangun proyek di negara ini. Apalagi kalau itu terkait dengan pembebasan lahan. Tapi alhamdulillah so far (sejauh ini) ini bisa kita jalankan," sebutnya.

Dia pun menjelaskan sejumlah proyek yang sedang digarap Pertamina, semuanya dipastikan tetap berjalan, bahkan sekalipun ada pandemi COVID-19 dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Syukurnya sejauh ini tidak ditemukan kasus positif virus Corona di area proyek.

"Jadi untuk pembangunan kilang kita tetap jalankan. Jadi walaupun pandemi COVID, kita kan sudah mulai membangun kilang yang di RDMP Balikpapan. Sejak tahun lalu kan sudah kita mulai. jadi progres di lapangan walaupun masa pandemi COVID ini tetap berjalan," ujarnya.

Dia memastikan agar proyek kilang Balikpapan penyelesaiannya tidak terlambat. Targetnya rampung pada 2023.

"Ada yang menarik nanti bulan Oktober akan ada, mulai ada installation dari equipment 700 ton. Mulai ada nanti pemasangan equipment di lapangan. Dan kalau dilihat kegiatan di lapangan juga sudah mulai masif. Dan alhamdulillah ini bisa kita selesaikan sesuai target itu, akan selesai di Juli 2023 untuk yang RDMP Balikpapan," ujarnya.

Kemudian proyek kilang di Tuban dia sebutkan pembebasan lahannya sudah 95% dan sisanya akan diselesaikan melalui reklamasi. Pemerintah sudah memberikan izin terkait hal tersebut. Namun saat ini berhenti sementara karena ada PSBB.

"Nanti kalau (PSBB) itu sudah dibuka kembali kita lakukan lagi, dan itu bisa menyerap tenaga kerja banyak untuk melakukan reklamasi, baik yang di daratnya maupun yang kita lakukan di laut juga. Jadi itu tetap jalan, pekerjaan untuk engineering dan juga equipment untuk yang basic desain tetap berjalan dilakukan di Madrid, di Spanyol," terangnya.

Lalu perkembangan proyek di Balongan fase 1 untuk meningkatkan kapasitas sudah berjalan. Sedangkan fase 3 dalam proses pembebasan lahan.

Lanjut dia, kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) juga berjalan. Kata dia ada dua proyek di TPPI.

"Jadi ada dua, kita tambah untuk revamping untuk yang aromatik. Kemudian yang kedua kita bangun baru tambahan kapasitas untuk olefin. Dua-duanya ini sesuai janji saya kepada Presiden (Jokowi) ini harus selesai 3 tahun ya kita garap," tambahnya.

Aramco Hengkang, Kilang Pertamina di Cilacap Jadi Rebutan Investor

Sejumlah perusahaan menyatakan minat untuk menggarap pembangunan kilang RDMP Cilacap bersama PT Pertamina (Persero). Hal itu diungkapkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyikapi hengkangnya Saudi Aramco dari proyek tersebut.

"Jadi sekarang ada beberapa perusahaan yang menyatakan minat untuk kemudian berpartner dengan Pertamina," kata dia dalam diskusi virtual yang disiarkan langsung di Facebook, Senin (15/6/2020).

Dia memastikan Pertamina tetap berkomitmen untuk melanjutkan proyek pembangunan kilang, termasuk di Cilacap walaupun Saudi Aramco mundur. Dia pun menjelaskan latarbelakang hengkangnya perusahaan tersebut.

"Ya memang kita juga mengatakan kalau dealnya itu tidak terjadi karena Aramco menawar kilang eksisting kita terlalu murah, bedanya itu US$ 1 billion lebih gitu. Nah kalau aset negara kemudian dihargai lebih murah US$ 1 billion ya kan masalah, masalah ini kerugian negara, ya lebih baik tidak deal kalau begitu kan," jelasnya.

Dia menjelaskan proyek kilang memang dipandang kurang menarik. Tetapi yang akan dibangun pihaknya bukan hanya kilang minyak. Pertamina akan membangun kilang minyak yang diintegrasikan dengan pabrik petrokimia.

Konsep di atas akan membuat Internal Rate Return (IRR) alias tingkat pengembalian modal menjadi lebih menjanjikan dari proyek tersebut.

"Nah petrokimia ini menjadi salah satu bisnis Pertamina ke depan ketika nanti fossil fuel atau BBM itu demand-nya turun, maka si kilang ini kemudian produksinya kita ubah menjadi memproduksi produk-produk petrokimia, sehingga secara IRR pun masih menarik. Jadi kita komit kita lanjutkan dan progres-progres di lapangan berjalan terus," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar