Selasa, 16 Juni 2020

Aramco Hengkang, Kilang Pertamina di Cilacap Jadi Rebutan Investor

Sejumlah perusahaan menyatakan minat untuk menggarap pembangunan kilang RDMP Cilacap bersama PT Pertamina (Persero). Hal itu diungkapkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyikapi hengkangnya Saudi Aramco dari proyek tersebut.

"Jadi sekarang ada beberapa perusahaan yang menyatakan minat untuk kemudian berpartner dengan Pertamina," kata dia dalam diskusi virtual yang disiarkan langsung di Facebook, Senin (15/6/2020).

Dia memastikan Pertamina tetap berkomitmen untuk melanjutkan proyek pembangunan kilang, termasuk di Cilacap walaupun Saudi Aramco mundur. Dia pun menjelaskan latarbelakang hengkangnya perusahaan tersebut.

"Ya memang kita juga mengatakan kalau dealnya itu tidak terjadi karena Aramco menawar kilang eksisting kita terlalu murah, bedanya itu US$ 1 billion lebih gitu. Nah kalau aset negara kemudian dihargai lebih murah US$ 1 billion ya kan masalah, masalah ini kerugian negara, ya lebih baik tidak deal kalau begitu kan," jelasnya.

Dia menjelaskan proyek kilang memang dipandang kurang menarik. Tetapi yang akan dibangun pihaknya bukan hanya kilang minyak. Pertamina akan membangun kilang minyak yang diintegrasikan dengan pabrik petrokimia.

Konsep di atas akan membuat Internal Rate Return (IRR) alias tingkat pengembalian modal menjadi lebih menjanjikan dari proyek tersebut.

"Nah petrokimia ini menjadi salah satu bisnis Pertamina ke depan ketika nanti fossil fuel atau BBM itu demand-nya turun, maka si kilang ini kemudian produksinya kita ubah menjadi memproduksi produk-produk petrokimia, sehingga secara IRR pun masih menarik. Jadi kita komit kita lanjutkan dan progres-progres di lapangan berjalan terus," tambahnya.

BBM Tak Ramah Lingkungan Mau Dihapus Pertamina, Premium?

Jumlah produk bahan bakar minyak (BBM) dari PT Pertamina (Persero) mau dikurangi. Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, nantinya akan tersisa BBM ramah lingkungan saja. Lantas bagaimana nasib BBM premium?

Sayang, Nicke tak menjelaskan secara eksplisit produk BBM yang mana yang akan dihapus. Namun dia menjelaskan, pihaknya mengacu pada ketentuan dunia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Mengenai penyederhanaan, kan intinya kita harus melakukan, satu, bahwa ada regulasi dari pemerintah dan juga kesepakatan dunia tentang lingkungan, bagaimana kita menjaga lingkungan. Jadi ada regulasi KLHK yang menetapkan bahwa untuk menjaga emisi karbon itu, menjaga polusi udara ada batasan di RON berapa gitu, di kadar emisi berapa," kata dia dalam diskusi virtual yang disiarkan langsung di Facebook, Senin (15/6/2020).

Jika demikian, maka yang menjadi acuan adalah Peraturan Menteri (Permen) LHK NO.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru kategori M, N, dan O, yakni bahan bakar yang boleh digunakan adalah standar Euro 4.

Euro 4 merupakan standar kualitas bahan bakar di mana minimum RON 91 dan kadar sulfurnya tidak melebihi 50.

Sementara itu, produk Pertamina, yakni premium standarnya RON 88, pertalite RON 90, sedangkan pertamax RON 92. Jika begitu maka semestinya BBM premium dan pertalite tidak dapat digunakan.

Terlepas dari hal di atas, Nicke pun menjelaskan pihaknya akan mendorong masyarakat menggunakan BBM ramah lingkungan.

"Nah untuk itu kita tentu akan teruskan program-program mendorong masyarakat untuk menggunakan BBM ramah lingkungan. Jadi kita akan dorong ke arah produk-produk yang bagus," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar