Sabtu, 08 Februari 2020

Deep and Extreme 2019, Ada Promo Wisata Selam dan Kampanye Lingkungan

Pameran Deep and Extreme 2019 kembali digelar untuk yang ke-13 kalinya di JCC. Tema yang diusung adalah bersih, nyaman, aman dan nyaman untuk berwisata.

Hal itu pun diungkapkan oleh Presdir Deep and Extreme, Dharmawan Sutanto saat press conference acara di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (4/4/2019).

"Use less plastic, itu tema yang digunakan oleh Putri Selam Indonesia. Tema pameran ini Indonesia yang bersih, aman dan nyaman untuk berwisata," ujar Dharmawan.

Diakui oleh Dharmawan, dewasa ini isu lingkungan dan kebersihan turut menjadi perhatian bagi para pelaku wisata selam dan dunia. Pameran tahun ini pun kembali hadir untuk mengingatkan traveler akan pentingnya menjaga kebersihan demi kelangsungan alam dan laut.

Untuk pertama kalinya selama belasan kali penyelenggaraan, acara Deep and Extreme tahun ini mendapat dukungan dari pihak Kemenkomaritim. Hadir Kosmas Harefa selaku Asdep Budaya Seni dan Olahraga Bahari Kemenkomaritim. Ia pun ikut angkat bicara soal tema sampah dan lingkungan.

"Terkait sampah ada temuan Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah China, itu harus kita sikapi. Persoalan sampah ini tak sesederhana yang kita bayangkan," ujar Kosmas.

Membereskan sampah memang bukan perkara gerakan sadar lingkungan atau kumpul sampah bareng, tapi lebih kompleks dan memerlukan andil semua anggota masyarakat. Tentunya bukan tugas Pemerintah saja.

"Pemerintah tak mungkin berdaya sendiri tanpa keterlibatan semua pihak. Pelibatan daerah juga masyarakat. Kita bersyukur ada banyak komunitas yang bergerak di bidang daur ulang. Masalahnya how to manage," pungkas Kosmas.

Terkait wisata bahari, Kosmas juga mengajak semua pihak terkait untuk mempromosikan indahnya laut Indonesia. Sekiranya potensi wisata di laut Indonesia begitu indah dan tak kalah dengan di negara lain.

"Potensi kelautan kita yang sangat luar biasa belum tereksplore maksimal, baik dari aspek olahraganya. Wisata bahari di dunia kita belum apa-apa. Padahal kita punya stadion luar biasa anugerah Tuhan Yang Maha Esa (laut Indonesia - red). Tak pernah kita manfaatkan semaksimal mungkin. Kita harus bisa menjadikan lautan kita sebagai plasa bagi para pecinta wisata bahari dunia," tutup Kosmas.

Untuk tahun ini, pameran Deep and Extreme 2019 akan berlangsung pada tanggal 4-7 April di JCC. Hadir 174 booth, dan lebih dari 220 perusahaan terkait wisata bahari dan ekstrem. Termasuk di dalamnya 4 pavilion utama dengan tema yang berbeda-beda. Harga tiketnya adalah Rp 40 ribu/pax untuk 1 hari pameran.

Kepala Bappenas: Pariwisata Akan Jadi Sumber Devisa Terbesar

 Sektor pariwisata Indonesia diyakini akan berkembang semakin pesat. Bahkan diprediksi akan menjadi sumber devisa terbesar di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Kepala Bappenas sekaligus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro dalam acara Seminar dan Dialog Nasional Ekonomi Kreatif Milenial di Era Revolusi Industri 4.0.

"Indonesia juga akan menjadi salah satu negara tujuan wisata yang penting di dunia pariwisata akan menjadi sumber devisa terbesar di Indonesia. Menggantikan sumber daya alam, tambang dan perkebunan seperti kelapa sawit," tutur Bambang dalam keterangan tertulis, Kamis (4/4/2019).

Dijelaskannya, minyak dan gas adalah masa lalu. Sedangkan masa depan Indonesia adalah digital dan Kementerian Pariwisata sudah menerapkan hal tersebut.

"Di 2013, empat dari lima perusahaan terbesar dunia adalah minyak dan gas. Namun di 2018, lima dari lima perusahaan terbesar adalah teknologi digital. Perkembangan teknologi digital tidak hanya menggeser lanskap persaingan global tetapi juga membuka peluang baru bagi bidang yang belum pernah ada sebelumnya. Untuk itu, Pemerintah Indonesia dengan cepat dan tanggap merespons tantangan dan peluang ini," jelas Bambang lagi.

Sementara Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan Go Digital menjadi salah satu program strategis Kemenpar dalam upaya menenangkan pasar di era industri 4.0. Menurutnya, teknologi digital memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan industri pariwisata.

"Suka atau tidak suka, sudah terjadi perubahan perilaku pasar. Semua telah bergeser ke arah digital. Saat ini industri dunia telah bergeser ke arah industri digital era 4.0. Perannya mencapai 70%," kata Arief Yahya.

Perubahan perilaku pasar, kata Arief, diikuti pula dengan berubahnya perilaku konsumen (customer behavior). Konsumen kini semakin mobile, personal, dan interaktif. Hal ini menjadi sifat dari digital yakni 'semakin digital, semakin personal (The more digital, the more personal).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar