Jumat, 14 Februari 2020

Didatangi Risa Saraswati, Bukti Kolam Berglust Tempat Uji Nyali

Kawasan Berglust di Cimahi juga menyisakan kolam renang yang kental dengan mistisnya. Sampai-sampai, kolam ini pernah didatangi Risa Saraswati.

Terbengkalainya kolam renang era kolonial Belanda, Berglust di Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi sangat kental nuansa mistis.

Tak ayal, kolam yang dirancang oleh arsitek asal Belanda, Van der Lugh ini kerap dijadikan ajang uji nyali oleh berbagai komunitas penggila misteri dan indigo.

Semak belukar setinggi orang dewasa menyambut detikcom saat masuk ke area kolam melalui bangunan bekas pintu karcis. Suasana di area kolam begitu hening, hanya terdengar suara daun yang bergesekan tertiup angin.

Tampak gapura dengan ornamen Jawa masih berdiri kokoh, walau catnya mulai kusam. Di sana pun masih terlihat bangunan bekas peristirahatan Lugh, pemandian dan kantor Berglust yang terlihat rusak tak terawat.

Terlihat beberapa patung binatang yang telah rusak, bahkan tampaknya ada patung yang dicuri. Beberapa kandang hewan pun masih terlihat berdiri, walau kini diselimuti semak belukar.

Kolam Berglust atau yang dinamai ulang menjadi Taman Parahyangan Indah oleh Lugh ini, telah berhenti dibuka untuk umum sejak 2003 lalu pascakonflik kepentingan kepengurusan kolam.

"Saya sering mengantar orang yang indigo ke sini, di sini memang banyak 'penunggunya'," ujar Waluyo Slamet (65), ketua RT setempat sekaligus saksi mata berjayanya Berglust saat ditemui detikcom, Rabu (20/3/2019).

Bahkan pernah suatu ketika, ia mengantar kru syuting Jurnal Risa yang dibesut oleh Risa Saraswati.

"Saya mengantar kemudian di wawancara, ada tayangannya di Youtube dan sempat menjadi viral juga di Cimahi," kata Waluyo.

Traveler berani ke sini?

Budaya Suku Komodo yang Kian Terlupakan...

Selain Komodo, masyarakat di TN Komodo juga memiliki budaya yang unik. Sayang, budayanya kian terlupakan...

Suku Komodo adalah suku asli yang hidup di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Sebagian dari mereka kini menjual suvenir, menjadi pemandu wisata, atau menyediakan homestay. Untuk menggelar pertunjukan budaya Komodo, mereka jarang melakukannya.

Berjalan-jalan di perkampungan Pulau Komodo dan Pulau Rinca, banyak rumah panggung dari kayu yang berdiri, banyak pula rumah tembok yang berdiri. Ini adalah pemandangan umum di kawasan kepulauan. Lalu apa yang khas dari masyarakat Komodo selain dari reptilnya?

Saat detikcom bertanya ke Kepala Desa Komodo, Haji Aksan, dia menjelaskan masyarakat punya makanan hingga tari-tarian yang khas. Namun, hal-hal seperti itu sudah tidak mudah ditemui. Makanan khas orang Komodo adalah gebang, hasil olahan dari batang pohon gebang (Corypha utan), yakni pohon suku pinang-pinangan.

Pohon gebang yang siap dipanen dipotong, dibelah empat atau enam, dicincang, kemudian dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, cincangan pohon gebang itu akan ditumbuk dan diayak. Jadilah tepung gebang yang bakal diolah menjadi semacam roti. Rasanya manis tanpa gula.

"Makanan khas di sini gebang, tapi sudah tidak ada yang bikin karena repot," kata Aksan.

Warga kini lebih memilih sajian yang praktis-praktis saja. Saya coba bertanya ke warga tentang keberadaan pohon gebang, ternyata pohon itu sudah langka di kawasan perkampungan.

Bila ingin menemukan pohon gebang, maka orang harus pergi ke kawasan Loh Liang, titik masuk wisatawan yang hendak melihat reptil komodo. Tentu saja pohon gebang di kawasan Taman Nasional tidak boleh ditebang.

Selain makanan, Suku Komodo punya upacara tradisional, namanya Kolo Kamba. Bentuknya adalah tarian simbolik yang menceritakan perjuangan hidup leluhur-leluhur zaman dulu.

Seorang pemimpin (Ompu Dato) akan mendirikan kayu sekitar semeter. Gendang dipukul, para laki-laki menari, bersilat, hingga memukuli batang kayu tadi dalam keadaan trans mirip pemain kuda lumping di Jawa. Batang kayu tadi dipukul karena menjadi simbol kejahatan. Atraksi budaya itu sebenarnya bisa menarik wisatawan.

"Atraksi Kolo Kamba terakhir dipentaskan tahun 2015 saat menyambut tamu-tamu asing. Sekarang mau diadakan tapi kurang sponsornya. Saya punya niat membangkitkan kembali permainan itu," ujar Aksan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar