Jumat, 14 Februari 2020

Dampak Pariwisata Yang Ubah Hidup Orang-orang Komodo

Ratusan turis mancanegara turun dari kapal pesiar Norwegian Jewel menuju Loh Liang, Pulau Komodo. Suasana inilah yang selalu dinanti warga Pulau Komodo.

Tengah hari setelah puas melihat kadal purba, turis-turis mulai berjalan ke pasar. Dolar-dolar dari tangan mereka siap berpindah tangan ke para pedagang. Meski para turis masih berjarak sekitar 50 meter, Ibu Anita (26) sudah tersenyum di pintu pasar.

"Saya bisa untung Rp 1 juta sehari kalau sedang ramai seperti ini," kata Anita.

Tentu saja, kapal pesiar ini tak setiap hari datang ke Pulau Komodo. Pendapatan yang tinggi saat kapal pesiar datang bakal digunakan untuk mencukupi kebutuhan ketika Pulau Komodo sedang sepi.

Namun, masih ada wisatawan non-kapal pesiar yang juga turut menjadi penyumbang rezeki. Minimal RP 100 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Dengan modal awal Rp 10 juta, pendapatan sebesar ini sungguh berarti bagi Anita sekeluarga.

"Hasilnya untuk anak saya, usianya delapan tahun, karena pekerjaan saya ya jual suvenir saja. Suami saya juga jualan suvenir," kata dia.

Suaminya bahkan pernah meraup Rp 10 juta bila wisatawan sedang sangat ramai. Berbekal solar yang memadai, sang suami beroperasi menggunakan kapal untuk jualan ke titik wisata Gili Lawa, Manta Point, hinggga Pulau Padar.

"Tapi kalau sepi ya kadang seminggu tidak dapat apa-apa," imbuh Anita.

Di pojokan pasar, ada Eros Wandi (25) yang sedang mengukir kayu dengan pisau tajam. Dengan terampil, dia mengukir guratan-guratan leher komodo di patung seukuran remot televisi.

Suvenir komodo yang dijajakan pedagang setempat Suvenir komodo yang dijajakan pedagang setempat (Dikhy Sasra/detikcom)
Eros sudah tiga tahun membuat dan berjualan patung komodo berbahan kayu. Hasilnya untuk mencukupi keluarganya yang sudah dikaruniai satu anak usia tiga tahun. Istrinya juga berjualan suvenir di Pulau Padar.

"Ini pekerjaan utama saya. Sehari kadang dapat RP 200 ribu, kadang-kadang kosong juga, hahaha," ujar Eros dengan santai. "Kalau ramai bisa Rp 1 juta sehari."

Kebanyakan pedagang suvenir di sini adalah penduduk Pulau Komodo dan sekitarnya yang punya latar belakang nelayan. Mereka sudah meninggalkan aktivitas mencari ikan di laut karena merasa rezeki di sektor pariwisata jauh lebih baik.
"Penghasilan nelayan jauh di bawah dagang suvenir," kata Suharin (35), pria pedagang suvenir beranak dua.

Anita, Eros, Suharin, dan banyak warga yang menggantungkan nasibnya pada sektor pariwisata kini tengah mengikuti isu yang sangat berkaitan dengan hidup mereka, yakni penutupan Taman Nasional Komodo dari wisatawan. Mereka mendengar penutupan direncanakan mulai tahun 2020 khusus untuk Pulau Komodo.

"Kalau misalnya ini (Pulau Komodo) ditutup, mati sudah. Soalnya kita tidak ada pekerjaan lain. Istri saya juga jualan suvenir," kata Suharin.

Topik mengenai penutupan Pulau Komodo dari wisatawan selalu dibicarakan di pojok-pojok pasar akhir-akhir ini. "Kalau tutup, mau makan apa kita ini? 99% Orang Pulau Komodo kan mencari nafkah dari suvenir," kata Anita menanggapi. "Sangat tidak setuju!" timpal Marhanah (48) di sampingnya, tiba-tiba, karena mendengar pembicaraan kami.

Namun, Eros memilih menunggu saja sambil terus menyelesaikan patung komodo kecilnya. Bila saja kebijakan itu benar-benar dieksekusi, maka dia akan kembali menjadi nelayan sebagaimana pekerjaan sebelumnya, meski harus dilakukan dengan berat hati.

"Kalau Pulau Komodo ditutup, ya terpaksa jadi nelayan, mancing," kata Eros.
Masyarakat di sini menangkap ikan dengan cara memancing. Pukat (jala) cincin dengan ukuran lubang satu jari tidak diperbolehkan untuk digunakan di area ini, soalnya ikan-ikan anakan berisiko besar ikut terangkut. Meski dengan pancing, nelayan juga tidak boleh mencari ikan di sembarang lokasi di area Taman Nasional.

Kepala Desa Komodo, Haji Aksan (54), menjelaskan penduduk desanya berjumlah 1.740 juta jiwa dengan 470 kepala keluarga. Berkembangnya pariwisata telah mengubah kehidupan penduduk di sini, terdiri dari Suku Komodo ditambah orang Sumba, Bajo, hingga Manggarai.

"Sebelum jadi pariwisata, mayoritas warga adalah nelayan sambil menjadi penggarap ladang, menanam jagung ubi, pepaya," kata Aksan di kantornya yang tak jauh dari dermaga kayu.

Dia menguraikan kronik sejarah orang-orang Komodo keturunan Ompu Najo, Ompu Dato, Ina Babu, dan Ina Krawo. Nama-nama itu adalah nenek moyang Suku Komodo. Pada 1960-an, masyarakat masih hidup berladang, berburu, dan meramu di kawasan Gunung Ara pulau ini.

Tahun ketujuh dekade itu, masyarakat berpindah ke teluk bernama Loh Lawi di pulau ini. Pada dekade itu juga, masyarakat juga mulai bermukim di Loh Liang yang saat ini menjadi pintu masuk wisatawan kawasan Taman Nasional Komodo.

Masyarakat mulai pergi dari Loh Liang yang sudah menjadi cagar alam, cara hidup berburu pelan-pelan mulai ditinggalkan. Medio '80-an setelah terbentuknya Taman Nasional Komodo, wisatawan mulai bertambah banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar