Jumat, 14 Februari 2020

Ini Kata Pengunjung Tentang PIM Muara Baru

Begitu diresmikan, Pasar Ikan Modern (PIM) Muara Baru sontak jadi perhatian. Jadi pusat wisata kuliner, ini kata traveler.

Pasar Ikan Modern (PIM) Muara Baru menjadi pusat penjualan ikan terbesar di Jakarta. Baru Rabu pekan lalu (13/3) di resmikan oleh Presiden Joko Widodo, pasar ini disebut Tsukiji dari Indonesia.

Selain jadi pusat penjualan ikan segar, pasar ini juga punya pusat wisat kuliner yang disebut food court. Belum semua kedai beroperasi, ini kata traveler.

"Iya, ke sini sama keluarga ingin tahu, kemarin kan baru diresmikan," ujar Abdul.

Selain keluarga, ada pula pasangan yang datang untuk mencicipi food court di PIM Muara Baru.

"Iya penasaran jadi ke sini," ujar Riska.

Selain wisatawan, food court juga jadi tempat makan pada pedagang yang berjualan di area pasar.

"Ya, makan di sini soalnya kan dagang sampai tengah malam di bawah," ujar Arif.

Menurut pedagang yang berjualan di food court, sebagian pengunjungnya adalah para pekerja di lantai 1. Mereka biasa membawa dagangan mereka untuk dimasak di food court.

"Ini ramainya juga ya pedagang-pedagang dari bawah. Biasanya mereka bawa sendiri ikannya terus dimasak di sini" ujar Narto, pedagang di food court.

Narto juga menambahkan bahwa gerai-gerai yang belum beroperasi akan mulai buka sebentar lagi.

"Ya kan masih baru, jadi masih sedikit yang buka. Paling ramai itu sehari setelah diresmikan oleh presiden ada 300 pengunjung, setelah itu ya sepi cuma sekitar 30-an" ungkap Narto.

Dampak Pariwisata Yang Ubah Hidup Orang-orang Komodo

Ratusan turis mancanegara turun dari kapal pesiar Norwegian Jewel menuju Loh Liang, Pulau Komodo. Suasana inilah yang selalu dinanti warga Pulau Komodo.

Tengah hari setelah puas melihat kadal purba, turis-turis mulai berjalan ke pasar. Dolar-dolar dari tangan mereka siap berpindah tangan ke para pedagang. Meski para turis masih berjarak sekitar 50 meter, Ibu Anita (26) sudah tersenyum di pintu pasar.

"Saya bisa untung Rp 1 juta sehari kalau sedang ramai seperti ini," kata Anita.

Tentu saja, kapal pesiar ini tak setiap hari datang ke Pulau Komodo. Pendapatan yang tinggi saat kapal pesiar datang bakal digunakan untuk mencukupi kebutuhan ketika Pulau Komodo sedang sepi.

Namun, masih ada wisatawan non-kapal pesiar yang juga turut menjadi penyumbang rezeki. Minimal RP 100 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Dengan modal awal Rp 10 juta, pendapatan sebesar ini sungguh berarti bagi Anita sekeluarga.

"Hasilnya untuk anak saya, usianya delapan tahun, karena pekerjaan saya ya jual suvenir saja. Suami saya juga jualan suvenir," kata dia.

Suaminya bahkan pernah meraup Rp 10 juta bila wisatawan sedang sangat ramai. Berbekal solar yang memadai, sang suami beroperasi menggunakan kapal untuk jualan ke titik wisata Gili Lawa, Manta Point, hinggga Pulau Padar.

"Tapi kalau sepi ya kadang seminggu tidak dapat apa-apa," imbuh Anita.

Di pojokan pasar, ada Eros Wandi (25) yang sedang mengukir kayu dengan pisau tajam. Dengan terampil, dia mengukir guratan-guratan leher komodo di patung seukuran remot televisi.

Suvenir komodo yang dijajakan pedagang setempat Suvenir komodo yang dijajakan pedagang setempat (Dikhy Sasra/detikcom)
Eros sudah tiga tahun membuat dan berjualan patung komodo berbahan kayu. Hasilnya untuk mencukupi keluarganya yang sudah dikaruniai satu anak usia tiga tahun. Istrinya juga berjualan suvenir di Pulau Padar.

"Ini pekerjaan utama saya. Sehari kadang dapat RP 200 ribu, kadang-kadang kosong juga, hahaha," ujar Eros dengan santai. "Kalau ramai bisa Rp 1 juta sehari."

Kebanyakan pedagang suvenir di sini adalah penduduk Pulau Komodo dan sekitarnya yang punya latar belakang nelayan. Mereka sudah meninggalkan aktivitas mencari ikan di laut karena merasa rezeki di sektor pariwisata jauh lebih baik.
"Penghasilan nelayan jauh di bawah dagang suvenir," kata Suharin (35), pria pedagang suvenir beranak dua.

Anita, Eros, Suharin, dan banyak warga yang menggantungkan nasibnya pada sektor pariwisata kini tengah mengikuti isu yang sangat berkaitan dengan hidup mereka, yakni penutupan Taman Nasional Komodo dari wisatawan. Mereka mendengar penutupan direncanakan mulai tahun 2020 khusus untuk Pulau Komodo.

"Kalau misalnya ini (Pulau Komodo) ditutup, mati sudah. Soalnya kita tidak ada pekerjaan lain. Istri saya juga jualan suvenir," kata Suharin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar