Jumat, 14 Februari 2020

Dampak Pariwisata Yang Ubah Hidup Orang-orang Komodo (2)

Topik mengenai penutupan Pulau Komodo dari wisatawan selalu dibicarakan di pojok-pojok pasar akhir-akhir ini. "Kalau tutup, mau makan apa kita ini? 99% Orang Pulau Komodo kan mencari nafkah dari suvenir," kata Anita menanggapi. "Sangat tidak setuju!" timpal Marhanah (48) di sampingnya, tiba-tiba, karena mendengar pembicaraan kami.

Namun, Eros memilih menunggu saja sambil terus menyelesaikan patung komodo kecilnya. Bila saja kebijakan itu benar-benar dieksekusi, maka dia akan kembali menjadi nelayan sebagaimana pekerjaan sebelumnya, meski harus dilakukan dengan berat hati.

"Kalau Pulau Komodo ditutup, ya terpaksa jadi nelayan, mancing," kata Eros.
Masyarakat di sini menangkap ikan dengan cara memancing. Pukat (jala) cincin dengan ukuran lubang satu jari tidak diperbolehkan untuk digunakan di area ini, soalnya ikan-ikan anakan berisiko besar ikut terangkut. Meski dengan pancing, nelayan juga tidak boleh mencari ikan di sembarang lokasi di area Taman Nasional.

Kepala Desa Komodo, Haji Aksan (54), menjelaskan penduduk desanya berjumlah 1.740 juta jiwa dengan 470 kepala keluarga. Berkembangnya pariwisata telah mengubah kehidupan penduduk di sini, terdiri dari Suku Komodo ditambah orang Sumba, Bajo, hingga Manggarai.

"Sebelum jadi pariwisata, mayoritas warga adalah nelayan sambil menjadi penggarap ladang, menanam jagung ubi, pepaya," kata Aksan di kantornya yang tak jauh dari dermaga kayu.

Dia menguraikan kronik sejarah orang-orang Komodo keturunan Ompu Najo, Ompu Dato, Ina Babu, dan Ina Krawo. Nama-nama itu adalah nenek moyang Suku Komodo. Pada 1960-an, masyarakat masih hidup berladang, berburu, dan meramu di kawasan Gunung Ara pulau ini.

Tahun ketujuh dekade itu, masyarakat berpindah ke teluk bernama Loh Lawi di pulau ini. Pada dekade itu juga, masyarakat juga mulai bermukim di Loh Liang yang saat ini menjadi pintu masuk wisatawan kawasan Taman Nasional Komodo.

Masyarakat mulai pergi dari Loh Liang yang sudah menjadi cagar alam, cara hidup berburu pelan-pelan mulai ditinggalkan. Medio '80-an setelah terbentuknya Taman Nasional Komodo, wisatawan mulai bertambah banyak.

Taman Nasional ini kemudian secara langsung dinobatkan mejadi 'The New 7 Wonders World' atau tujuh keajaiban dunia yang baru, semakin banyak nelayan yang beralih profesi menjadi pedagang atau pengrajin suvenir, ada pula yang mulai membuka homestay.

Namun, kini ada berita soal rencana penutupan Pulau Komodo. Latar belakangnya, negara ingin mengendalikan perburuan rusa oleh manusia yang berakibat pada berkurangnya mangsa komodo.

Aksan menjamin, pemburu rusa di era sekarang bukanlah penduduk area Taman Nasional Komodo. Daripada menutup pulau, lebih baik pemerintah memperketat pengawasan saja supaya pemburu tidak masuk ke pulau.

"Kami mohon pemerintah untuk menjelaskan di tengah-tengah masyarakat. Saya lebih setuju bila pemerintah membuat tim pemburu perburuan liar itu (ketimbang melakukan penutupan Pulau Komodo)," kata Aksan.

Di luar Pulau Komodo, ada Pulau Rinca yang juga masuk area Taman Nasional. Sekretaris Desa Pasir Panjang Pulau Rinca Ibrahim Hamso menjelaskan di sini ada 1.640 penduduk dalam 468 kepala keluarga.

Penduduk di desa ini rata-rata adalah nelayan, sebagian juga berjualan suvenir sebagai sampingan. Di Pulau Rinca, ada Loh Buaya sebagai pintu masuk wisatawan untuk melihat reptil komodo.

Haji Ishaka yang merupakan pengusaha suvenir di Rinca menanggapi perihal penutupan Pulau Komodo dari wisatawan. Menurutnya, itu bisa menguntungkan warga Rinca.

"Kami justru senang, karena itu berarti tamu-tamu akan ke sini (Pulau Rinca) semua, supaya Pulau Rinca diperhatikan," kata Ishaka santai.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar