Senin, 15 Juni 2020

Terus Meluas, Kasus Global Covid-19 Tembus 100 Ribu Pasien

Penyebaran virus corona COVID-19 sejauh ini semakin bertambah dan tidak ada tanda-tanda kemunduran. Kasus ini sudah melampaui 100 ribu di seluruh dunia pada hari Jumat (6/3). Sebagian besar kasus ini berada di dataran China diikuti oleh Korea Selatan, Iran, dan Italia.
Virus corona baru yang mirip seperti flu terus menyebar ke luar China. Jumlah total kasus saat ini berada di angka 100,055 pada hari Jumat (6/3), merujuk pada data yang dikumpulkan John Hopkins. Kasus COVID-19 sebagian besar berada di dataran China, diikuti Korea Selatan, Iran, dan Italia.

Lebih dari dua bulan lalu setidaknya 3,398 orang telah meninggal karena virus corona COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (5/3) lalu meminta semua negara untuk memerangi wabah virus corona COVID-19 yang terus menyebar di puluhan negara.

"Epidemi ini dapat ditekan kembali tetapi hanya dengan pendekatan yang terkoordinasi dan komprehensif yang melibatkan seluruh pemerintah. Kami menyerukan kepada setiap negara untuk bertindak dengan kecepatan, skala, dan tekad yang kuat," tegasnya seperti dikutip dari CNBC.

Para penjabat kesehatan mengatakan bahwa penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini dapat menyebar melalui kontak manusia dengan manusia melalui droplet atau tetesan air liur dari bersin, batuk, dan kuman yang menempel pada benda-benda mati.

Tedros menambahkan WHO belum menyatakan pandemi karena sebagian besar kasus virus corona COVID-19 masih ditelusuri dan belum ada bukti bahwa virus tersebut menyebar bebas di masyarakat.

Tentang Tumor Tiroid yang Diidap Thalita Latief

Melalui unggahan video di akun Instagram-nya, Thalita Latief mengaku mengidap tumor tiroid. Thalita Latief mengidap tumor tiroid stadium 4 dan diketahuinya sejak Januari 2020.
Tiroid merupakan kelenjar di bagian leher yang bentuknya menyerupai kupu-kupu. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroid yang mengatur metabolisme tubuh, denyut jantung, temperatur, mood, dan proses-proses penting lainnya pada hampir setiap sel di tubuh.

Gejala ini merupakan hal yang wajar dialami karena mirip bermacam keluhan akibat gaya hidup modern. Banyak orang tidak sadar bahwa kelenjar tiroid mereka bermasalah. Karena itu penyakit ini disebut juga 'silent killer'.

Pada kanker tiroid, cara mendeteksi dininya cukup mudah, hanya dengan melakukan PERLAHAN atau periksa leher Anda. Deteksi dini ini dapat dilakukan sendiri sambil menghadap cermin, walau memang lebih baik jika dilakukan dengan bantuan tenaga medis.

Caranya dengan lakukan perabaan di bagian leher bawah tempat kelenjar tiroid berada, yakni di bawah jakun leher. Jika terasa ada benjolan atau yang tidak biasa di area tersebut, maka harus segera diperiksakan ke dokter onkologi.

Perlu dicatat mendeteksi dini bukanlah diagnosis. Diagnosis tidak bisa dilakukan sendiri. Tetap diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter untuk mengetahui diagnosis secara pasti.

Di dokter akan dicek dengan USG. USG berperan dalam menentukan di mana dan bagaimana biopsi dapat dilakukan setelah melokalisasi nodul (bengkak) tiroid. Selain itu, positron emission tomography atau PET scan juga dapat membantu mendeteksi lokasi kanker tiroid dan penyebarannya di tubuh.

Sementara proses PET scan dengan menginjeksi cairan radioaktif ke dalam darah yang nanti akan diserap oleh sel kanker dan membuatnya muncul dalam hasil pindaian. Biasanya pasien diminta untuk tak bergerak setelah disuntik selama 40 menit pemindaian.

Tidak semua benjolan pada tiroid akan menjadi ganas, yaitu hanya 10-15 persen saja. Dan tidak semua benjolan itu kanker. Kanker itu 90-95 persen dari lingkungan dan gaya hidup, sementara genetik hanya 5-10 persen saja. Jika dideteksi lebih dini, sekitar 90 persen kasus kanker tiroid dapat dicegah.

Kenneth D. Burman, direktur Bagian Endokrin di Washington Hospital Center menyebutkan, kebanyakan pasien malah tak memiliki gejala kanker tiroid, tapi hanya merasakan ketidaknyamanan di lehernya atau merasa ada bengkak.

Beberapa faktor risiko yang terkait dalam penyakit ini cukup dekat dengan keseharian kita. Seperti radiasi ke kepala dan leher adalah salah satu penyebabnya. Belum diketahui apakah radiasi ini secara spesifik mengarah pada X-ray medis. Tak serta-merta orang yang mendapatkan penanganan x-ray beberapa kali di daerah tersebut dapat berisiko terkena kanker tiroid.

Faktor risiko lainnya meliputi kecelakaan PLTN atau percobaan senjata, diet rendah iodin, riwayat keluarga, dan genetik.
https://kamumovie28.com/star/tinna-harahap/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar