Selasa, 09 Februari 2021

Fakta di Balik Afrika Selatan Setop Vaksin Corona Oxford-AstraZeneca

 - Afrika Selatan menunda penggunaan vaksin Corona Oxford-AstraZeneca. Hal ini dikarenakan data awal menunjukkan vaksin kurang efektif melawan varian Corona yang diidentifikasi di Afrika Selatan.

Hasil studi awal yang diumumkan pada Minggu menunjukkan pemberian dua dosis vaksin Oxford-AstraZeneca hanya efektif memberikan perlindungan minimal pada kasus COVID-19 bergejala ringan hingga sedang, dari varian Corona yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan.


Maka dari itu, pejabat kesehatan setempat termasuk Menteri Kesehatan Afrika Selatan sementara fokus pada peluncuran vaksinasi COVID-19 dengan Pfizer dan Johnson & Johnson. Menkes Afrika Selatan Dr Zweli Mkhize menjelaskan penundaan vaksin AstraZeneca bersifat sementara, sembari para ilmuwan mencari cara efektif untuk memberikan vaksin Corona tersebut.


Studi yang belum dirilis ini melibatkan sekitar 2.000 relawan dengan rata-rata usia 31 tahun. Sekitar setengahnya menerima vaksin Corona dan setengahnya lagi menerima plasebo.


"Netralisasi virus terhadap varian B1351 'berkurang secara substansial' bila dibandingkan dengan jenis virus Corona sebelumnya," kata para peneliti dalam rilis berita.


Kemanjuran vaksin terhadap COVID-19 bergejala parah, memerlukan rawat inap, hingga mencegah kematian tidak dinilai dalam uji coba tersebut. Rincian studi oleh para peneliti dari Universitas Witwatersrand Afrika Selatan dan lainnya, serta dari Universitas Oxford, dibagikan dalam siaran pers.


"Hasilnya telah diserahkan untuk peer review dan pracetak akan segera dirilis," kata Oxford.


Juru bicara AstraZeneca sebelumnya mengatakan telah bekerja sama dengan Kemenkes Afrika Selatan untuk mencari cara terbaik mencegah penyakit parah akibat varian B1351, dengan pemberian vaksin Corona.


Dalam pernyataan juru bicara AstraZeneca sebelumnya, disebutkan, vaksin Corona mereka diyakini masih melindungi penyakit parah akibat varian baru B1351. Terlebih jika rentang waktu pemberian vaksin Corona berada di delapan hingga 12 minggu.


Di pernyataan sebelumnya juga dijelaskan perusahaan tengah bekerja dengan Universitas Oxford untuk mengadaptasi vaksin Corona mereka pada varian B1351 di Afrika Selatan, sehingga diklaim siap dikirim saat musim gugur jika diperlukan.


Apa kata WHO?

Maria Van Kerkhove, kepala teknis Organisasi Kesehatan Dunia untuk COVID-19, mengatakan panel vaksin independen WHO akan bertemu hari Senin untuk membahas vaksin AstraZeneca dan apa arti studi baru pada kemanjuran vaksin.


Ia menambahkan sangat penting memiliki vaksin Corona lebih dari satu.


"Kami tidak dapat hanya mengandalkan satu produk," jelasnya.

https://kamumovie28.com/movies/the-secrets-we-keep/


Jadi Penyebab Kematian No 1 Bumil di Indonesia, Ini Fakta Eklampsia-Preeklampsia


Eklampsia dan preeklampsia atau keracunan dalam kehamilan merupakan penyebab kematian nomor satu ibu hamil di Indonesia dengan persentase sebesar 27,1 persen.

Eklampsia merupakan kejang pada kehamilan yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah. Sementara preeklampsia merupakan kelainan pada kehamilan yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah serta protein dalam urine.


Selama masa kehamilan, terdapat beberapa penggolongan kelainan hipertensi, yaitu:


1. Hipertensi kronik

Hipertensi kronik merupakan hipertensi yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu dengan tidak adanya protein dalam urine.


2. Hipertensi dalam kehamilan

Hipertensi yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dengan tidak adanya protein dalam urine.


3. Preeklampsia-eklampsia

Hipertensi yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dengan adanya protein dalam urine.


4. Preeklampsia superimposed

Hipertensi yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu dengan adanya protein dalam urine.


5. Hipertensi postpartum

Hipertensi yang terjadi setelah persalinan.

https://kamumovie28.com/movies/the-secrets/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar