Selasa, 21 Januari 2020

Indonesia Salah Satu Negara Berisiko Untuk Turis AS

 Indonesia sedang gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata. Namun, AS malah menjadikan Indonesia sebagai negara yang berisiko untuk dikunjungi.

Dilihat detikcom dari Insider, Sabtu (15/6/2019) Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan sejumlah travel imbauan atau peringatan untuk para pelancong terhadap sejumlah negara yang memiliki risiko bahaya tinggi untuk dikunjungi.

Namun, bukan berarti negara-negara tersebut terlarang untuk dikunjungi bagi wisatawan AS. Hanya, pemerintah mengimbau untuk berhati-hati karena risiko bahaya yang tinggi dengan berbagai faktor.

Dari 15 negara, Indonesia pun masuk menjadi salah satunya. Indonesia dikategorikan berisiko tinggi karena adanya beberapa kemungkinan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus yang tidak hanya berdampak kepada keselamatan pribadi tetapi juga infrastruktur, transportasi dan kesehatan.

Selain itu, pemerintah AS juga mengimbau turisnya yang ke Indonesia untuk beberapa kemungkinan serangan teroris. Seperti di kantor kepolisian, tempat ibadah, hotel dan bar.

Ada 15 negara yang dirangkum Insider berdasarkan data Kemenlu AS. Seperti Brazil, India, Filipina, Jamaika, Belanda, Jerman Roma, Spanyol, Prancis, Inggris, Meksiko, Kepulauan Turks dan Caicos, Bahama dan Republik Dominika.

Untuk negara-negara di Eropa, Kementerian Luar Negeri AS umumnya mewanti-wanti terhadap serangan teroris. Sedangkan Meksiko adalah potensi diculik, dan kematian di Republik Dominika.

Sedangkan di Filipina, masalah yang diimbau adalah kerusuhan warga dan wabah campak. Begitupun dengan Brasil dan India, yang dianggap bermasalah soal pencopet di sejumlah tempat wisata rawan turis internasional.

Qantas Saingi Singapore Airlines di Rute Terpanjang Sedunia

Maskapai Qantas sedang mencari pesawat hemat BBM untuk melayani rute terpanjang sedunia. Itu akan mengalahkan rute milik Singapore Airlines (SQ).

Seperti dilansir CNN, Sabtu (15/6/2019), mimpi Qantas untuk terbang tanpa henti dari London ke Sydney satu langkah lebih dekat. Mereka akan segera memilih pesawat yang akan digunakan.

Alan Joyce, CEO Qantas Australia, membenarkan bahwa dia telah mengeluarkan tenggat waktu, yakni bulan Agustus bagi pabrikan Airbus dan Boeing untuk mengajukan tawaran terbaik dan terakhir. Boeing memodifikasi versi 777-8 dan Airbus dengan A350.

Adalah Project Sunrise dari Qantas yang menjadi rencana membangun hubungan udara pada tahun 2023. Kata Joyce, Qantas berharap pada Agustus sudah memiliki tawaran dua pabrikan dengan disertai harga pesawat serta jaminan kinerja pesawat dan perawatan mesinnya.

Itu diutarakan pada konferensi tahunan Asosiasi Transportasi Udara Internasional di Seoul minggu ini. Baik Airbus dan Boeing ditugasi membuat pesawat yang cocok untuk perjalanan jarak jauh pada tahun 2017, tugas yang mengharuskan produsen untuk mendorong efisiensi bahan bakar ke level baru (lebih hemat).

Project Sunrise

Pesawat yang dipilih harus mampu memenuhi kriteria Project Sunrise, mengangkut lebih dari 300 penumpang, dengan konfigurasi empat kabin, dari Sydney ke London. Perjalanan 17.000 kilometer, selama 21 jam akan mencuri mahkota dari Singapore Airlines untuk layanan penumpang nonstop terpanjang.

SQ mengklaimnya pada Oktober 2018 dengan peluncuran kembali penerbangan Singapura ke New York. Boeing 777-8 yang belum diluncurkan, yang akan menampung 365 penumpang, sebelumnya muncul sebagai salah satu pesaing kuat untuk proyek tersebut.

Qantas memilih Boeing 787 Dreamliner untuk penerbangan langsung pertamanya dari Perth ke London, yang diluncurkan pada 2018 dengan waktu perjalanan selama 17 jam. Namun, Airbus mengklaim bahwa saat ini ia memiliki dua pesawat yang dapat melakukan perjalanan London-Sydney.

Christian Scherer, chief commercial officer Airbus berbicara di konferensi IATA, mengatakan perusahaannya telah bertemu Qantas. Penerbangan jarak jauh dan terbang berkapasitas penumpang dalam jumlah tinggi bisa dengan A350.

"Airbus berada dalam posisi istimewa dengan memiliki satu-satunya pesawat teknologi kontemporer baru di luar sana," tambahnya, menurut FlightGlobal. Airbus dilaporkan mengusulkan versi Ultra Long Range (ULR) A350-900 atau A350-1000 ke Qantas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar