Selasa, 21 Januari 2020

Bandara di China Larang Penumpang Lempar Koin Sebelum Naik Pesawat

 Ini sungguhan terjadi. Masyarakat China suka melempar koin sebelum naik pesawat sebagai keberuntungan. Pihak bandara di sana pun melarang keras.

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Rabu (12/6/2019) setidaknya sudah 10 kali kejadian penumpang lempar koin sebelum naik pesawat di China. Tentu, itu bisa membahayakan penerbangan.

Bulan April kemarin misalnya di Bandara Wuhan, seorang penumpang tertangkap kamera CCTV bandara setelah melempar koin ketika sesaat sebelum naik pesawat. Akibatnya, penerbangan jadi delay 2 jam!

Oleh sebab itu, beberapa bandara di China sudah memberi larangan terhadap penumpang untuk melakukan hal tersebut. Salah satunya adalah Bandara Sanya di Kota Sanya, Provinsi Hainan.

Tulisan larangannya berupa 'melempar koin sebelum naik ke pesawat demi keberuntungan adalah tindakan ilegal'. Kabarnya, bandara-bandara di kota besar seperti di Beijing dan Shanghai juga akan melakukan hal serupa.

Seorang ahli penerbangan dari Civil Aviation University of China menjelaskan, melempar koin sebelum naik pesawat adalah hal serius. Jika koinnya tersedot ke dalam mesin pesawat, bisa membuat kerusakan seperti kehilangan kecepatan dan lainnya. Risikonya tidak main-main.

Sedangkan bagi masyarakat China, melempar koin ke landasan pacu sebelum naik pesawat dinilai sebagai ritual untuk mendapat keberuntungan dan keselamatan.

Desa Praijing, Adat dan Bukti Kemajuan Pendidikan

Desa adat agaknya dekat dengan kumpulan masyarakat yang ketinggalan zaman. Tapi tidak dengan Desa Praijing. Desa adat ini sangat peduli dengan pendidikan.

Mempertahankan tradisi dan adat istiadat bukan berarti menutup diri dari perkembangan informasi dan teknologi dari luar. Setidaknya inilah yang dibuktikan Desa Adat Praijing di Sumba.

Desa Adat Praijing yang memiliki 38 rumah tradisional ini terletak di Desa Tebara, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari ibukota Sumba Barat Daya, Tambolaka, desa ini berjarak sekitar 46 km.

Sengaja saya berkunjung di pagi hari agar belum terlalu banyak pengunjung untuk bisa lebih leluasa mengeksplor desa ini. Memasuki kawasan desa, saya disambut oleh pepohonan yang tinggi membuat matahari tidak terlalu terik menerpa. Dengan jalanan yang menanjak, mobil kami diperbolehkan mengantar ke deretan rumah di bagian atas namun harus parkir di tempat yang telah disediakan di bawah.

Melangkahkan kaki memasuki deretan rumah adat, saya bertemu dengan seorang wanita yang sedang menemani anaknya makan. Kami duduk di depan sebuah batu megalitik yang ternyata merupakan sebuah makam dan menyempatkan berbincang dengannya.

Beliau bercerita bahwa makam ini dapat diisi oleh beberapa orang dalam satu keluarga. Saya terheran-heran bagaimana caranya memasukkan jenazah ke dalam makam dengan atap batu yang jelas kelihatan tidak ringan.

Namun jika diperhatikan, terdapat sebuah pintu batu yang disemen di samping makam yang digunakan untuk memasukkan jenazah. Meskipun keheranan saya tidak berkurang karena kecilnya pintu tersebut.

Selesai berbincang dengan beliau, saya menuju rumah paling depan dari kawasan rumah adat ini. Seorang ibu paruh baya berada di beranda rumah dan membuat saya tertarik untuk menyapa dan bertanya apakah boleh melihat isi rumahnya. Betapa senangnya ketika beliau memperbolehkan saya masuk ke rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar