Beberapa rumah sakit membuka pre order (PO) vaksinasi COVID-19 meski Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan izin penggunaan darurat (EUA). Dalam informasi yang beredar di salah satu akun RS, disebutkan vaksin bisa tersedia satu hingga 2 bulan dengan harga masih estimasi.
Menanggapi hal ini, PT Bio Farma mengatakan belum ada sistem pelayanan PO untuk vaksinasi COVID-19. Baik dalam program vaksinasi COVID-19 mandiri maupun bantuan pemerintah.
Hal ini dikarenakan pemerintah tengah merampungkan skema pelaksanaan vaksinasi COVID-19.
"Saat ini, Bio Farma masih mengembangkan sistem yang akan digunakan untuk pemesanan pre order vaksinasi COVID-19 khususnya untuk jalur mandiri, dan hingga saat ini, belum ada ketentuan maupun pengaturan teknis dari pemerintah terkait hal tersebut, dan yang terpenting adalah, pelaksanaan vaksinasinya sendiri, tetap menunggu izin penggunaan dari Badan POM," kata Juru Bicara Bio Farma, Bambang Heriyanto.
Soal penyediaan layanan vaksinasi COVID-19 seperti RS dan fasilitas kesehatan lainnya ditegaskan masih dalam proses pendaftaran dan verifikasi. Hal ini melalui asosiasi-asosiasi resmi.
Bambang mengimbau kepada sejumlah rumah sakit untuk menunggu terlebih dahulu ketentuan atau kebijakan yang ditetapkan. Bambang menilai hal ini berkaitan dengan petunjuk teknis pelaksanaan pemesanan.
"Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi email resmi BioFarma, mail@biofarma.co.id," ujar Bambang.
Apa kata Kementerian Kesehatan terkait hal ini?
Juru bicara vaksinasi COVID-19 sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menjelaskan hingga saat ini tidak ada pendataan terkait pre order vaksinasi COVID-19 di rumah sakit.
"Tidak ada itu Kemkes minta begitu. Mendata nakes iya, tapi tidak ke masyarakat. Dan itu (pendataan) lewat Dinas Kesehatan," kata dr Nadia saat dihubungi detikcom, Sabtu (12/12/2020).
Senada dengan Bambang, dr Nadia juga menyebut vaksinasi COVID-19 di Indonesia terkait skema mandiri masih dalam pembahasan. Jika ketentuan nantinya sudah keluar, tentu akan segera disosialisasikan.
https://cinemamovie28.com/movies/silam/
COVID-19 Ngegas Lagi di Korsel, Pertama Kali Tembus 1.000 Kasus Sehari!
Korea Selatan mencapai angka 1.000 kasus COVID-19 untuk pertama kalinya dalam sehari, tepatnya di angka 1.030 kasus. Hal ini terungkap lewat media pada Minggu (13/12/20).
Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), kasus COVID-19 di negeri Ginseng ini bertambah menjadi 1.030, termasuk 1.002 infeksi lokal. Sehingga, total kasus COVID-19 di negara tersebut menjadi 42.766.
Kasus harian pada Minggu (13/12/20) melewati rekor tertinggi sebelumnya pada Sabtu (12/12/20) yang mencapai 950 kasus. Pertambahan tersebut menjadi rekor tertinggi sejak Korsel melaporkan kasus pertama COVID-19 pada Januari lalu.
Pertambahan kasus ini diketahui berasal dari klaster pertemuan pribadi. Selain itu, penyebaran secara besar-besaran juga terjadi di gereja serta rumah sakit wilayah metropolitan.
Menurut sebuah kantor berita di Korea Selatan, badan kesehatan pada minggu ini telah meningkatkan langkah-langkah menjaga jarak ke tingkat dua di bawah aturan lima tingkat pembatasan COVID-19. Namun, sejauh ini langkah itu gagal memperlambat penyebaran virus.
Wilayah Seoul diketahui paling banyak terjadi penyebaran virus COVID-19. Ibu kota Seoul mencatat 399 kasus baru, sementara di sekitar Provinsi Gyeonggi dan Incheon, masing-masing memiliki 331 dan 62 kasus.
Dikutip dari Worldometers corona, jumlah pasien COVID-19 yang sakit parah atau kritis mencapai 179 orang. Website ini juga melaporkan dua kematian tambahan, sehingga total kematian menjadi 580 orang.
Pasien yang dinyatakan sembuh bertambah menjadi 321, sehingga total angka kesembuhan COVID-19 di Korsel menjadi 31.814. Selain itu, kasus aktif COVID-19 di negara ini mencapai angka 10.372.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar