Rabu, 04 Maret 2020

Tahun Baru China di Penang, Ayo ke Kelenteng Kuan Im!

 Tahun Baru China sebentar lagi tiba. Kamu yang liburan Imlek di Penang, Malaysia yuk ke Georgetown, kunjungi Kelenteng Kuan Im di sana.

Tahun Baru China tinggal hitungan hari. Traveler yang ingin menghabiskan waktu liburan Imlek di Penang, Malaysia jangan lewatkan berkeliling Georgetown. Di sana terdapat kelenteng utama bernama Kuan Im Temple untuk berwisata dan ibadah.

Beberapa waktu lalu detikTravel berkunjung ke Penang atas undangan Princess Cruise di tanggal 19-23 Januari 2019. Kami pun berkunjung ke beberapa destinasi yang ada di Penang.

Kami pun singgah ke kelenteng Kuan Im atau dikenal juga dengan nama Tokong Kuang Im atau Kong Hock Keong Kuan Im alias Goddess of Mercy Temple. Kelenteng ini dibangun pada tahun 1880 oleh para China pendatang dari Hokkian dan Kanton.

Ini adalah kelenteng pertama yang dibangun di kawasan Georgetown oleh orang China. Dulunya kelenteng ini dibangun sebagai pusat ibadah dan aktivis agama serta penyatu sosial orang China di Georgetown.

Kelenteng Kuan Im dibangun untuk menghormati Dewi Kuan Im, penganut Buddhist yang taat dan telah mencapai nirwana dalam ajaran Buddha. Dewi ini tetap berada di dunia untuk membimbing para manusia yang sedang berjuang mencapai Nirwana.

"Ini adalah kelenteng pertama dan utama di Georgetown. Kelenteng ini dibangun untuk Dewi Kuan Im. Kebanyakan turis juga datang berdoa ke sini mengharapkan kedamaian, keselamatan dan kesehatan," ungkap James, guide yang mendampingi kami.

Ukuran kelenteng tidaklah besar. Di bagian depan kelenteng juga ada yang berjualan aksesoris ibadah. Traveler yang ingin beribadah atau berdoa terdapat dupa gratis di sebelum pintu masuk.

Pantauan detikTravel, memang benar kelenteng ini tidak hanya untuk turis saja, namun juga beribadah. Terlihat sebagian turis yang datang berdoa dengan khusuknya.

Pengunjung juga diperbolehkan masuk ke dalam kelenteng. Di dalam juga ada beberapa patung dewa. Namun bagi turis yang datang untuk melihat diharap untuk menjaga ketenangan dan langkahnya, supaya tidak mengganggu yang sedang beribadah.

Setelah puas berkeliilng traveler bila beruntung bisa melihat puluhan merpati berebut makanan di depan kelenteng. Terkadang ada masyarakat yang meletakan makanan di depan kelenteng untuk puluhan burung merpati.

Nah, traveler yang ingin beribadah sambil traveling yuk datang langsung ke sini. kelenteng Kuan Im masih termasuk dalam kawasan Georgetown UNESCO Heritage Site. Jadi setelah ibadah, bisa berkeliling Georgetown dan juga berkunjung ke Little India. 

eSwatini, Negara yang Berganti Nama Demi Harga Diri

Dulunya Swaziland, kini berganti eSwatini. Inilah kisah negara yang berganti nama di Afrika, demi harga diri suatu bangsa.

Swaziland mengejutkan dunia pada bulan April 2018 silam. Negara kecil di bagian selatan Afrika (tepatnya di dalam negara Afrika Selatan dan tidak memiliki pantai) ini, mengubah namanya menjadi eSwatini.

Raja Mswati III, pemimpin negaranya yang mencanangkan dan melakukan perubahan nama tersebut. Meski banyak mendapat kritik, nyatanya dia teguh pada keyakinannya. Pun penduduknya, begitu riang gembira dengan nama baru negaranya.

Dilansir detikTravel dari berbagai sumber, Senin (28/1/2019) eSwatini punya memiliki arti 'tanah Swazis'. Swazis atau Swazi merupakan suku asli dari negaranya, yang juga menempati beberapa bagian di Afrika Selatan.

Sedangkan nama Swaziland, diberikan oleh penjajah Inggris dan tetap dipakai saat kemerdekaan negaranya pada tahun 1968. Nah, Raja Mswati III tampaknya tidak terlalu suka menggunakan nama Swaziland. Selain karena namanya mirip dengan Swiss, dia ingin benar-benar menggembalikan jati diri dan harga diri bangsanya. Hingga dipilihlah, eSwatini.

Tentu, mengubah nama negara juga berdampak ke beberapa hal lain. BBC menulis, harus banyak beberapa hal juga yang harus diubah seperti uang di sana masih memiliki nama Bank Sentral Swaziland, harus mendaftarkan nama barunya pada PBB, mengganti semua website pemerintahan yang masih menggunakan nama Swaziland dan sampai hal kecil mengubah kode negaranya SWZ (Swaziland).

Tapi toh, itu dinilai bukan suatu masalah besar bagi penduduknya. Justru, para penduduk begitu bangga dan siap mengenalkan nama baru negaranya pada dunia.

"Ini adalah nama sah dari negara kami," kata salah seorang penduduk eSwatini, Jiggs Thorn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar