Minggu, 22 Desember 2019

Budaya Khas Jerman Semarakkan Oktoberfest 2019 di Aryaduta

Festival budaya khas Jerman yakni Oktoberfest 2019 menyemarakkan perayaan ke-31 tahun Hotel Aryaduta di Jakarta kemarin. Festival dua mingguan menjelang akhir September ini merupakan tradisi tahunan Aryaduta dalam menyambut bulan Oktober.

"Sebagai penyelenggara Oktoberfest terlama di Jakarta, kami selalu menjadikannya acara yang terbesar dan paling meriah setiap tahunnya," ujar General Manager Aryaduta Dirk Fischbach Jakarta dalam keterangan tertulis, Selasa (24/9/2019).

Dirk Fischbach mengatakan festival rakyat terbesar dengan akar tradisi Bavaria ini juga dirayakan di berbagai kota di seluruh belahan dunia termasuk Jakarta. Oktoberfest merupakan bagian penting dari budaya Bavaria, yang telah diadakan sejak tahun 1810 ketika Putra Mahkota Ludwig menikahi putri Jerman, Therese of Saxony-Hildburghausen.

"Aryaduta Jakarta telah menjadi tuan rumah perayaan ini sejak tahun 1988 dan menjadikannya sebagai salah satu tradisi tahunan yang paling dinanti-nantikan," sebutnya.

Perayaan tahun ini telah berlangsung di The Ballroom Aryaduta Jakarta dan di area taman outdoor yang menyajikan dekorasi dengan gaya tradisional Bavaria dengan meja kayu panjang. Adapun panggung yang juga turut menampilkan Garmisch Partenkirchen Musikanten, serta band beranggotakan 10 orang yang didatangkan langsung dari Jerman.

"Pelayan dan pramusaji juga mengenakan kostum tradisional lederhosen, gaun dirndl dan Master Chef Simon Fraundorfer yang menyiapkan sajian Prasmanan otentik Bavaria yang terdiri dari berbagai macam sosis atau wurst tradisional serta goulash, weisswurst, bretzn, hidangan penutup khas Bavaria, dan lainnya," jelasnya.

Sebagai informasi, Festival Jerman kemarin ini banyak menghadirkan kompetisi yang menyenangkan khas Jerman yang diikuti oleh pengunjung yang hadir, seperti menunggang banteng, jug holding, menggergaji kayu dan masih banyak lagi. Beberapa tamu memenangkan hadiah undian termasuk door-prize menginap tiga hari dua malam di Aryaduta Bali.

"Kami berharap anda mendapatkan hari yang tak terlupakan dari sajian, acara, pelayanan, dan semarak tradisi dari Oktoberfest kami yang ke-31 kemarin. Sampai jumpa di tahun mendatang," tandasnya.

Sudah Tahu? Motif Macan Tutul bagaikan Sidik Jari Manusia

 Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah kawasan hutan hujan tropis terbesar di Pulau Jawa. Dengan luas 87.699 hektar TNGHS dihuni berbagai spesies langka, salah satunya Macan Tutul Jawa atau dikenal dengan sebutan Panthera pardus Melas.

Untuk memantau populasi hewan tersebut, Balai TNGHS seringkali melakukan pemantauan di beberapa lokasi melibatkan sejumlah pakar di bidang geologi dan konservasi. Resort Cikaniki Balai TNGHS di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ditetapkan sebagai lokasi khusus yang berfungsi sebagai area kontrol.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah populasi hewan langka tersebut. Menurut informasi Petugas Pengendali Ekosistem Hutan Wardi Septiana, bersumber pada data hasil Camera Trap tahun 2016 ada 68 individu macan tutul.

"Untuk jenis satwa ini, tidak ada data yang pasti atau absolut semua yang ada saat ini masih berdasarkan pada dugaan semua. Tidak ada yang bisa memastikan berapa jumlah mereka di kawasan TNGHS," kata Senjaya Baru, Pengendali Ekosistim Hutan (PEH) pada urusan Konservasi Keanekaragaman Hayati TNGHS, kepada detikcom, Senin (23/9/2019).

Pantauan itu sendiri didapat berdasarkan data camera trap. Disebutkan bahwa sosok macan tutul yang tertangkap alat tersebut bisa teridentifikasi lewat motif pada tubuhnya. Seperti halnya sidik jari manusia, motif ini rupanya berbeda pada masing-masing macan tutul. Walhasil, penampakan motif pun bisa mengestimasi jumlah macan tutul di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar