Buang air besar (BAB) secara teratur menandakan sistem pencernaan yang sehat. Selain faktor diet dan kondisi pergerakan usus, kebiasaan juga menentukan teratur atau tidaknya jadwal BAB.
Beberapa orang punya rutinitas BAB tiap pagi atau pada waktu-waktu tertentu. Namun pada beberapa orang yang lain, munculnya hasrat BAB tidak pernah bisa diperkirakan apalagi direncanakan.
Agar terbiasa BAB secara teratur pada waktu yang tepat, ada beberapa cara yang bisa dilakukan seperti dirangkum dari Livestrong.
1. Kenali diet yang tepat
Beberapa jenis makanan bisa membuat BAB lebih lancar, sehingga memungkinkan untuk melakukannya secara teratur. Buah dan sayur yang kaya serat adalah nutrisi penting yang mendukung pola BAB yang lebih teratur.
2. Turuti keinginan BAB
Tidak menunda BAB saat dorongan itu muncul, akan membantu membentuk pola BAB yang normal dan alamiah. Demikian juga jika belum waktunya BAB, jangan terlalu dipaksakan. Makin lancar pola BAB, makin mudah untuk dibiasakan.
3. Bangun pagi
Hasrat ingin BAB di pagi hari terkadang diabaikan karena harus buru-buru beraktivitas. Bangun lebih pagi akan membuat pikiran lebih rileks, memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk mengikuti pola alamiahnya.
4. Tidak perlu dipaksakan
Jika sudah bangun pagi tetapi belum juga merasa ingin BAB, tidak perlu dipaksakan. Berlama-lama jongkok maupun duduk di toilet juga akan berdampak buruk bagi area panggul. Ulangi saja keesokan paginya.
5. Sarapan
Karena tidak merasa lapar, seringkali seseorang memilih tidak sarapan. Jika ingin rutin BAB di pagi hari, tidak ada salahnya mencoba rutin sarapan dulu. Mengisi perut bukan hanya karena lapar, tetapi merangsang kontraksi dan pergerakan usus agar BAB lebih lancar dan teratur.
https://movieon28.com/movies/malik-elsa/
15 Gejala Virus Corona yang Telah Ditemukan, Termasuk Delirium dan Sakit Mata
Gejala virus Corona yang dialami tiap pasien berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami gejala ringan tapi tak sedikit juga mengembangkan gejala berat hingga harus dirawat di rumah sakit.
Sejak COVID-19 pertama kali ditemukan di akhir Desember 2019, para ilmuwan terus mempelajari virus tersebut termasuk gejala yang ditimbulkannya. Sejumlah studi telah dilakukan pada pasien COVID-19 untuk mengenali sejumlah gejala baru yang timbul pada sebagian besar pasien.
Seperti yang diketahui, setiap pasien bisa mengembangkan gejala yang berbeda. Beberapa bahkan dilaporkan tidak mengalami gejala sama sekali.
Dikutip dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berikut gejala COVID-19 yang diidentifikasi.
Gejala paling umum:
Demam
Batuk kering
Kelelahan
Baca juga: Mual-Diare Bisa Jadi Gejala COVID-19, Ini Bedanya dengan Sakit Perut Biasa
Gejala tidak biasa:
Nyeri otot
Sakit tenggorokan
Diare
Konjungtivitas atau peradangan mata
Sakit kepala
Anosmia
Ruam pada kulit atau perubahan warna jari tangan dan kaki
Gejala berat dan serius:
Sesak napas
Nyeri dada
Kehilangan kemampuan berbicara atau bergerak
Gejala virus Corona terbaru:
Delirium
Penelitian terbaru terkait gejala COVID-19 yang dipublikasikan pada November lalu menemukan delirium sebagai salah satu gejala awal infeksi COVID-19, khususnya pada kelompok lansia. Delirium adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami kebingungan berat serta berkurangnya kesadaran.
"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," kata Javier Correa, peneliti dari University of Catalonia (UOC).
Studi dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy mempelajari kaitan delirium sebagai gejala COVID-19 dengan virus Corona yang memengaruhi kinerja otak sebagai sistem saraf pusat. Para peneliti menemukan adanya indikasi bahwa COVID-19 juga memengaruhi sistem saraf pusat dan mengakibatkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar