Petualangan pemenang VitaminSea tidak terhenti di Pantai Pink lho. Mereka lanjut melihat pembuatan tenun dan belanja oleh-oleh.
Setelah puas bermain air dan menikmat kemolekan Pantai Pink, pemenang VitaminSea pun lanjut jelajah ke sentral pembuatan tenun Dharma Setya yang berada di Sukarara, Lombok Tengah.
Di sini pemenang VitaminSea tidak hanya melihat beragam songket Lombok saja. Juga ada beragam kerajinan tangan seperti tas, baju dan topi.
Salah satu pemenang VitaminSea, Yayang Delfitia berkesempatan mencoba baju khas perempuan Sasak. Baju yang didominasi hitam terlihat manis dipakainya.
"Unik bajunya, terus juga bahannya adem. Terlihat cantik dan bagus kalau dipakai untuk pesta. Dan satu lagi pelayanan di sini bagus, ibunya mau jelasin apa yang mau kita tahu. Baik deh pokoknya," ujar Yayang.
Sedangkan Teguh melihat-lihat hasil kerajinan beragam pola tenun. Dia suka melihat hasil dan warna yang beragam.
"Songketnya bagus, beragam motif dan warna. Yang menarik adalah di sana diperlihatkan juga proses pembuatannya. Sehingga kita tahu seperti apa songket ini dibuat," papar Teguh.
Fitri, salah satu penenun yang bekerja di Dharma Setya mengajak para peserta VitaminSea melihat cara menenun.
"Semakin banyak pola dan warna pada kain songket, semakin lama pembuatan dan semakin mahal pula harganya," jelas Fitri, Rabu (3/4/2019).
Kemudian seorang penenun memperagakan kepada kami seperti apa proses pembuatan hingga menjadi songket.
"Dalam sehari biasanya kita menenun selama 8 jam. Dan kain yang bisa selesai itu sepanjang 25 cm. Jika kita menenun kain sarung, itu memakan waktu selama 1 bulan lebih," papar Fitri.
Setelah puas melihat kain songket dan pembuatannya, Teguh dan Yayang melanjutkan perjalanan ke spot terakhir di hari kedua, toko oleh-oleh. Mereka membeli beberapa makanan untuk di bawa pulang.
Brunei Hukum Mati LGBT, Apakah Berdampak Pada Pariwisatanya?
Per 3 April 2019, Brunei menetapkan hukuman rajam alias hukuman mati bagi para pelaku LGBT. Apakah hal itu berdampak pada kunjungan turis ke negaranya?
Dirangkum detikcom dari berbagai media internasional seperti News Australia dan Fox News, Kamis (4/4/2019) aturan hukum mati LGBT yang diterapkan Brunei mendapat kecaman dari negara lain. Meski, pihak pemerintah Brunei dalam hal ini Sultan Hassanal Bolkiah tetap pada ketegasannya.
Tak dipungkiri, keputusan Brunei untuk menerapkan hukuman mati bagi LGBT akan mempengaruhi kunjungan turis yang datang ke sana. Ditambah, beberapa artis-artis Hollywood juga menyerukan kecaman terhadap aturan baru di Brunei itu.
Kabarnya, pemerintah AS mengimbau warganya yang LGBT untuk tidak mengunjungi Brunei. Virgin Australia pun memutus kerjasama dengan maskapai Brunei, Royal Brunei dalam penjualan kursi.
"Pariwisata Brunei akan terkena dampaknya. Sudah ada efek dari pemberlakuan hukuman mati pada LGBT yang terjadi kini," kata Benjamin Ryberg, direktur penelitian di The Lawfare Project.
Padahal, pariwisata di Burnei cukup ciamik yang menawarkan keindahan alam, budaya dan sejarah. Bahkan Brunei punya tagline kampanye pariwisata, 'menawarkan Asia yang belum pernah Anda lihat sebelumnya'.
Tercatat, 300 ribu turis datang ke Brunei setiap tahunnya. Brunei bagaikan destinasi antimainstream di belahan Asia Tenggara, yang jarang dilirik tapi begitu berkesan.
Diberitakan Fox News, seorang sumber dari pemerintahan Brunei menyebut Sultan Hassanal Bolkiah tidak terganggu dengan kehebohan yang ada. Pun pariwisata di Brunei, tampaknya akan tetap baik-baik saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar