Siapa yang menyangkal keindahan Pulau Lembata? Sayang, infrastruktur jalanan yang rusak jadi kendala sebelum menikmati keindahan Lembata.
Hampir setiap jengkal pantai di Pulau Lembata memiliki panorama yang memikat hati. Pasir putihnya membentang luas dibalut pandangan pantai berkelok ditumbuhi pohon kelapa dan Lontar.
Di bagian depan pulau penghasil jagung titi terbesar di Provinsi NTT ini berjejer pulau-pulau kecil tak berpenghuni seperti Pulau Siput dan Pulau Suanggi.
Di belakang kedua pulau itu berjejer pula tiga pulau yang didiami manusia, yakni Adonara, Solor dan Flores.
Dari kejauhan tampak seperti benteng berlapis yang siap menjaga kenyamanan siapa saja saat berkunjung ke Lembata menggunakan kapal laut.
Nah, ketika berada di selat Lembata inilah, kita dengan mudah melihat Ikan Paus, Ikan Lumba-Lumba dan Ikan Torani atau ikan terbang meliuk-liuk di permukaan air.
Selain itu, Lembata juga menawarkan kuliner seafood yang aduhai enaknya. Makanan ini bisa dinikmati di dalam kawasan Pelabuhan Lewoleba. Disini terdapat deretan panjang warung-warung makan dengan menu andalan biota laut, mulai dari ikan, udang, kepiting, cumi, gurita hingga rumput laut balon.
Minggu (28/7/19) hingga Kamis (1/8/19) lalu, saya berkesempatan mengelilingi Pulau Lembata dari Timur ke Barat hingga dari Utara ke Selatan, termasuk Lamalera, sebuah desa di Kecamatan Wulandoni yang terkenal sebagai kampungnya para pemburu Ikan Paus.
Saat kesana, dari Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, kami melewati jalur selatan atau ruas jalan Waijarang (Kecamatan Nubatukan) Wulandoni.
Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. Mulai dari kemegahan bukit-bukit, diantaranya Bukit Cinta dan Bukit Doa, hingga pesona pantai yang tak pernah putus.
Namun kami harus berjibaku dengan keadaan jalan yang sangat buruk.
Maklmum, ruas jalan yang mulus atau sudah di hotmix hanya dari Lewoleba sampai Waijarang atau sedikit melewati Kuma Resort, rumah pribadi milik Bupati Kabupaten Lembata, Eliaser Yentji Sunur.
Kawasan Kuma Resort tampak megah lengkap dengan pos jaga Satpol PP. Terlihat juga di pinggir jalan sedang dibangun sebuah SPBU yang menurut warga setempat, itu adalah milik Bupati Sunur.
Kondisi berbeda ketika kami melewati Kuma Resort. Rumah warga tampak rapuh dengan kondisi jalan rusak berat.
Ada sedikit perbaikan jalan di daerah Bukit Doa hingga perbatasan Loang. Namun itu hanya sekitar 4 kilometer, selebihnya hancur total.
Bahkan lebarnya pun hanya sekitar 2-3 meter diapit jurang terjal dan tebing tinggi dengan bebatuan besar yang seolah akan jatuh menindih siapa saja yang melewati jalan itu.
Adrenalin saya sontak terpacu menghadapi jalan rusak dengan kemiringan menurun dan mendaki yang tajam itu. Dua bahaya seakan terus mengancam saya. Bisa terjungkal ke jurang atau mati tertindih bebatuan besar.
Puji Tuhan kami selamat sampai tujuan. Kami juga sempat singah di Dusun Walet, sebuah dusun yang berada di pinggir pantai terjal di Desa Tapobali.
Sepanjang jalan, saudara saya di dalam mobil terus berceloteh, selama ini bupati kerja apa saja? APBD dikemanakan? Kemana hati dan perhatian bupati? Kasihan masyarakat di sini.
Singkat kata tibalah kami di Lamalera. Di sana tak ada aktivitas perburuan Ikan Paus. Hanya terlihat tiga orang nelayan yang baru pulang melaut dengan hasil tangkapan seekor Penyu dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar