Sabtu, 08 Mei 2021

Pemerintah Masih Kurang Kesadaran Privasi, Yes or No?

 - Keamanan data pribadi kini menjadi ancaman yang nyata dan ditakutkan banyak orang. Salah satu data specialist berani menyebut pemerintah dan swasta kurang sadar akan pentingnya privasi.

Ialah Nurvirta Monarizqa sarjana IT dari Universitas Gadjah Mada yang melanjutkan pendidikan Master Applied Urban Data Science and Informatics di New York University. Bagaimana tidak, berbagai kasus kebocoran data hingga pencurian identitas untuk mengajukan kredit makin kerap terangkat ke publik beberapa waktu terakhir.


"Disclaimer dan kayaknya perlu di-highlight, segimana kita usaha sebenarnya di Indonesia agak nggak ngefek karena orang pemerintah atau swasta banyak yang kurang kesadaran privasi," jelasnya kepada detikINET, Senin (26/5/2021).


Wanita yang akrab disapa Mona ini memberikan contoh masih banyak oknum customer service yang melakukan praktik jual data pelanggan. Dari hal-hal kecil yang pernah ia sarankan, Mona beranggapan itu hanya bisa mencegah kejadian sejenis sebanyak 10%.


"Semisal yang pernah aku tweet (tentang contoh pencegahan -- red), yaitu dengan cara sobek label shipping sebelum dibuang, lalu tidak memberi data diri walau ada teman yang request dan mohon-mohon karena ada target credit card atau pinjol," tutur Mona.


Ia menyinggung ada banyak contoh yang menunjukkan kurangnya perhatian pemerintah pada kesadaran privasi. Paling mencolok adalah ketika pemilu berlangsung, sejumlah kasus kebocoran data pun mencuat ke masyarakat.


"Contohnya banyak, pas pemilu kita bisa ngecek data diri/KTP kita jadi bisa di-scrap orang," tandasnya.


Karena itu detikers, nampaknya kita harus semakin sadar akan kerentanan keamanan data pribadi. Yuk, lakukan langkah pencegahan untuk terhindar dari kemungkinan menjadi korban.

https://trimay98.com/movies/jesus-4/


Kucing Bisa Mati Tertular COVID-19 dari Pemiliknya


Seekor anak kucing di Inggris mati setelah tertular virus Corona dari pemiliknya. Fakta ini semakin menguatkan larangan para ahli agar pengidap COVID-19 tidak melakukan kontak fisik termasuk dengan hewan.

Para peneliti dari Veterinary Records menemukan dua ekor kucing terinfeksi virus Corona dari pemiliknya. Kucing-kucing itu berasal dari dua ras berbeda dan dari rumah tangga berbeda pula. Keduanya ditemukan saat skrining virus Corona di Inggris.


Salah satu kucing yang baru berusia empat bulan, mengalami pneumonia yang membuatnya kesulitan bernapas. Peneliti mengatakan, ditemukan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19 pada paru-parunya. Mereka percaya hal itu kemungkinan telah memicu pneumonia yang membunuhnya.


Sedangkan kucing satunya lagi, berasal dari kota berbeda di Inggris, di mana pemiliknya dinyatakan positif mengidap COVID-19. Kucing tersebut dibawa ke dokter hewan dengan hidung meler dan konjungtivitis. Beruntung kucing yang ini sembuh total.


Dikutip dari Forbes, Senin (26/4/2021) riset yang dipublikasikan di Veterinary Record ini mengatakan saat ini tidak ada bukti penularan dari kucing ke manusia. Namun hewan bisa menjadi 'reservoir virus' atau pembawa penyakit yang memungkinkan penularan terus menerus.


Profesor Margaret Hosie selaku penulis utama studi ini mengatakan, hal tersebut menggarisbawahi perlunya melakukan lebih banyak penelitian tentang berbagai jenis penularan virus Corona.


Ini bukan pertama kalinya ditemukan hewan peliharaan mati setelah terinfeksi virus Corona. Sebelumnya, Amerika Serikat juga mencatat sejumlah kasus serupa. Sebelumnya, seekor anjing di Carolina Utara meninggal karena virus Corona pada Agustus lalu.

https://trimay98.com/movies/jesus-3/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar