Sabtu, 18 Juli 2020

WHO: Indonesia Lebih Banyak Kematian PDP daripada Pasien Positif Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kematian pasien dalam pengawasan (PDP) di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan kematian pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19. Hal ini diketahui dari beberapa laporan di daerah, terutama di pulau Jawa.
Dalam laporan situasi COVID-19 di Indonesia per tanggal 15 Juli, WHO menunjukkan data dari 22 Juni sampai 12 Juli ada 296 PDP dan orang dalam pemantauan (ODP) di DKI Jakarta meninggal dunia. Jumlah tersebut lebih dari tiga kali lipat kematian pasien terkonfirmasi yaitu 87 orang.

Sementara di Jawa Timur ada 763 kematian PDP dan PDP pada periode yang sama. Juga lebih tinggi dari angka kematian kasus terkonfirmasi yaitu 491 orang.

"Kematian di antara pasien dalam pengawasan jauh lebih tinggi daripada kematian di antara kasus COVID-19 yang sudah terkonfirmasi," tulis WHO seperti dikutip dari situs resminya pada Sabtu (18/7/2020).

Terkait hal tersebut, baru-baru ini Kementerian Kesehatan melakukan revisi istilah. PDP dan ODP kini disebut sebagai suspek.

Kematian PDP-ODP atau suspek ini tidak pernah disebut dalam laporan harian penanganan COVID-19 pemerintah pusat kepada publik.

Terpopuler Sepekan: Maraknya Prostitusi dan Kriteria Pria Doyan Jajan Seks

 Beberapa waktu lalu heboh kasus artis FTV Hana Hanifah yang diduga terjerat dalam kasus prostitusi. Ia disebut sudah menerima uang puluhan juta rupiah.
Motif kasusnya adalah faktor ekonomi. Hal ini disampaikan oleh Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko. "Alasannya tadi sudah saya sampaikan, menjanjikan keuntungan ekonomi yang sangat besar," ujar Riko beberapa waktu lalu.

Psikolog klinis dari Pro Help Center, Nuzulia Rahma Tsistinarum, mengatakan faktor ekonomi memang menjadi salah satu penyebab seseorang bisa terjerat ke dalam kasus prostitusi. Namun, dalam hal ini Rahma menegaskan faktor ekonomi tidak melulu soal kebutuhan mendesak seperti kebutuhan makan sehari-hari.

"Kalau dari data tersebut kan karena faktor ekonomi. Dalam arti keuntungan ekonomi yang besar. Keinginan hidup mapan secara instan," jelas Rahma saat dihubungi detikcom, Rabu (15/7/2020).

"Yang dimaksud faktor ekonomi di sini bukan kebutuhan ekonomi untuk biaya hidup sehari-hari, tetapi ada keinginan ekonomi atau keinginan untuk kehidupan yang mapan," kata Rahma.

Lalu kenapa ada orang yang rela mengeluarkan uang hingga puluhan juta untuk membeli jasa tersebut?

Rahma juga menilai kemungkinan seseorang untuk rela mengeluarkan uang puluhan juta bisa terjadi karena mencari pelarian dari ketidakpuasan dalam rumah tangganya. Selain itu, Rahma juga menyinggung adanya ketidakmampuan seseorang dalam mengatur perilaku.

Pria seperti apa sih yang menggunakan jasa prostitusi?

Dikutip dari laman Live Science, peneliti University of Portland, menemukan rata-rata dari pria yang tertarik untuk melakukan prostitusi cenderung lebih sedikit memiliki komitmen untuk menikah. Selain itu, peneliti juga menyebut para pria yang sering 'jajal prostitusi' ini sangat sedikit yang memiliki pekerjaan paruh waktu setiap harinya.

Rahma menjelaskan pria yang pergi ke prostitusi biasanya hanya mencari kesenangan sesaat. Hal ini juga bisa disebabkan oleh kurang adanya hubungan baik dengan sang istri atau pasangan.

"Banyak laki-laki yang mau keluar uang untuk kebutuhan syahwat bisa terjadi karena beberapa hal seperti tidak memiliki arah hidup yang jelas sehingga mudah tergoda kesenangan sesaat," pungkas Rahma.
https://nonton08.com/star/michael-diamond/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar