Kamis, 09 Juli 2020

Tips Hindari Pencurian Data Pribadi: Bijak Bermedsos

 Pakar forensik digital Ruby Alamsyah memberikan tips untuk menghindari pencurian data pribadi. Yaitu dengan bijak menggunakan media sosial. Lho kok?
Menurut Ruby, media sosial adalah salah satu pintu bocornya data pribadi. Jadi pengguna sebaiknya memastikan semua konten yang diunggah ke media sosial tak mengandung data pribadinya. Bahkan jenis ponsel yang dipakai pun sebenarnya adalah data yang tabu untuk disebar di media sosial.

"Justru kita bangga jika kita memposting di media sosial lokasi kita dan jenis HP yang kita pergunakan dalam foto yang akan kita posting. Itu merupakan kesalahan yang fatal yang bisa dipergunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menggunakan data pribadi kita," jelas Ruby.

Saran Ruby selanjutnya, ketika hendak memposting foto di media sosial, disarankan foto dan dokumen tersebut di-convert. Tujuannya untuk mengubah metadata yang ada di foto atau dokumen tersebut. Jadi foto dan dokumen yang dikirimkan ke media sosial tersebut bukan asli dari HP.

Jika asli dari HP maka meta data yang terdapat informasi seperti lokasi, jenis HP, software yang dipakai, operator yang dipergunakan dan berapa megapixel kamera yang dipergunakan, dapat dengan mudah untuk dibaca.

"Para pihak yang tak bertanggung jawab dapat melihat meta data dari foto yang kita up load di sosial media dengan sangat mudah. Jadi kalau mau memposting foto pastikan meta data berubah. Ketika kita mengirim foto melalui FB dan WA, semua data tersebut sudah hilang. Karena WA dan FB melakukan perubahan sehingga bukan foto asli yang ditampilkan," ungkap Ruby.

Selain itu Ruby juga menyarankan agar pemerintah dapat segera menyelesaikan RUU Perlindungan Data Pribadi. Dengan adanya UU Perlindungan Data Pribadi, penegakkan hukum akan lebih tepat. Sehingga dapat membuat jera para pelaku pencurian data pribadi. Saat ini Indonesia hanya memiliki UU ITE. Dalam UU ITE, pencurian data pribadi melalui penyelenggara transaksi elektronik hanya delik aduan.

"Karena delik aduan maka tidak ada lembaga yang mau melaporkan pencurian data pribadi pelanggannya ke polisi. Lapor ke polisi berarti mengakui adanya data bocor," pungkasnya.

Ruby pun angkat bicara soal kasus kebocoran data pribadi yang belakangan ramai jadi bahan perbincangan netizen. Yaitu kebocoran data pribadi yang diduga berasal dari operator telekomunikasi.
Menurut Ruby, gambar yang beredar di media sosial itu seolah-olah adalah tampilan teknis dari akses remote ke sebuah server operator seluler yang berisi data pengguna.

"Menurut saya apa yang ditampilkan tersebut bukan merupakan gambaran teknis yang benar-benar diambil dari sebuah server yang terdapat data pelanggan operator telekomunikasi. Kalau memang benar teknis, pasti jejak digitalnya banyak dan bisa kita lacak dengan mudah," terang Ruby.

Ruby menduga data yang ditampilkan seolah-olah asli tersebut merupakan data yang bisa saja diambil dan dikombinasikan dengan kebocoran-kebocoran data yang selama ini sudah terjadi. Kebocoran nama, NIK dan No KK bisa didapatkan dari banyak sumber. Apalagi data pribadi KPU pernah bocor.

"Bisa jadi data-data tersebut berasal dari medsos korban dan ditampilkan oleh pelaku sehingga seolah-olah berasal dari server operator tertentu. NIK dan No KK bisa didapat dari kebocoran data KPU. No HP bisa di dapat dari no WA grup," terang Ruby.
https://cinemamovie28.com/bem-episode-5-subtitle-indonesia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar