Minggu, 19 Juli 2020

Peneliti Khawatirkan Dua Mutasi Virus Corona Bisa Menginfeksi Sekaligus

Sebuah studi menunjukkan seseorang dikhawatirkan bisa terinfeksi dua mutasi virus Corona dalam satu waktu. Hal ini bisa meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19.
Peneliti dari University of California Berkeley Public Health (UC Berkeley) menyebut variasi patogen yang beredar di Eropa dan Amerika Serikat dapat menyebabkan 'infeksi serial' pada beberapa orang. Infeksi ini dikhawatirkan dapat membingungkan sistem kekebalan tubuh sehingga bisa memicu reaksi berlebihan.

"Jika satu strain masih sangat lazim, situasinya tetap harus dipantau dengan ketat terutama pada mereka dengan kondisi parah dan jarak sosial harus dipertahankan untuk memastikan strain kedua tidak masuk ke dalam tubuh," tutur Lee Riley, profesor penyakit menular UC Berkeley dan penulis utama studi ini dikutip dari South China Morning Post.

Studi sebelumnya menemukan bahwa jenis mutasi SARS-CoV-2 yang banyak menyebar di masyarakat disebut D614G. Mutasi ini dapat meningkatkan stabilitas fisik protein lonjakannya dan membuatnya lebih menular.

Awalnya, mutasi ini jarang ditemukan di China, wilayah tempat pertama kali virus Corona diduga menyebar. Namun di awal bulan ini, lebih dari 70 persen sampel dalam basis data global memiliki strain ini.

Strain D614G diketahui berevolusi menjadi dua sub kelompok utama yakni strain pertama dengan satu mutasi tambahan (C14408T) dan strain lainnya dengan dua mutasi tambahan (C14408T dan G2556T).

Strain kelompok pertama saat ini lebih dominan di Eropa sedangkan kelompok kedua sering dijumpai di Amerika Serikat. Pada awalnya, para peneliti mencurigai variasi ini dapat menimbulkan ancaman yang berbeda bagi orang-orang, tetapi teorinya tidak didukung oleh data.

Namun mereka justru melihat saat kedua strain menginfeksi secara bersamaan, ada kecenderungan kasus kematian memuncak dalam beberapa minggu meski sudah disesuaikan dengan faktor kematian lain.

"Temuan ini meningkatkan kemungkinan bahwa orang yang tinggal di wilayah dengan prevalensi tinggi dari strain yang ada, (mereka) dapat terinfeksi secara stimultan dengan setiap varian," jelas peneliti.

Sebelumnya sebuah studi yang dilakukan di Universitas Zheijang, China, juga menyebut bahwa seseorang dapat terinfeksi beberapa jenis mutasi virus Corona dengan kemampuan replikasi yang berbeda.

Hingga kini, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan dan mengkonfirmasi kedua penelitian tersebut.

Sapardi Djoko Damono Meninggal, Ada Riwayat Penurunan Fungsi Organ

Penyair Sapardi Djoko Damono meninggal dunia di usia 80 tahun, Minggu (19/7/2020). Sebelumnya, Sapardi dikabarkan mengalami penurunan fungsi organ tubuh.
Kabar duka tersebut beredar dalam pesan singkat yang diterima redaksi. Disebutkan, penulis puisi Hujan di Bulan Juni tersebut meninggal pada pukul 09:17 WIB.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un Telah meninggal dunia sastrawan besar Indonesia, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono," demikian bunyi pesan tersebut, dikutip dari detikHot.

Menurut informasi, Sapardi tengah menjalani perawatan di RS tersebut dalam beberapa waktu belakangan ini. Dikutip dari CNN Indonesia, kondisi kesehatan Sapardi yang menurun diungkap oleh salah seorang kerabatnya, Sonya Sondakh, pekan lalu.

"HB drop (menurun) dan ini sudah ketiga kali dalam empat bulan ini. Belum tahu sebabnya, perlu pemeriksaan," katanya, Minggu (12/7/2020).

Sebelumnya, pada November 2019, Sapardi juga sempat dirawat di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, karena kadar hemoglobin (Hb) menurun.

"Saya tidak tahu apakah ada kaitan langsung atau tidak [kondisi dulu dengan sekarang]. Tapi mestinya saling terkait, kalau ginjal jelek akibatnya macam-macam misalnya. Selama ini belum diketahui mengapa HB-nya drop terus sehingga harus transfusi secara berkala," kata Sonya saat itu.
https://kamumovie28.com/cast/michael-caine/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar