- Pandemi virus Corona COVID-19 disebut berkaitan dengan laporan peningkatan kasus sindrom patah hati. Menurut studi kecil yang dilakukan oleh para spesialis jantung di Ohio, Amerika Serikat, ini karena pandemi membuat orang-orang jadi lebih stres.
Sindrom patah hati sendiri adalah kondisi saat otot-otot jantung mengalami penurunan kemampuan memompa darah, disebut-sebut akibat respons stres emosi atau fisik yang ekstrem. Gejalanya mirip serangan jantung.
Kardiolog dr Ankur Kalra dari Cleveland Clinic mengatakan selama pandemi terjadi peningkatan kasus sindrom patah hati sampai lima kali lipat. Hal ini diketahui setelah ia dan timnya menganalisa data dari 258 pasien jantung selama 1 Maret sampai 30 April.
Hasilnya ditemukan bahwa sekitar 7,8 persen pasien mengalami sindrom patah hati. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka dari periode sebelum pandemi yaitu hanya sekitar 1,5 sampai 1,8 persen dari pasien jantung.
"Orang-orang saat ini tidak hanya khawatir ia atau keluarganya jatuh sakit, mereka juga harus berhadapan dengan masalah ekonomi, emosi, sosial, dan potensi kesepian serta isolasi," kata dr Kalra seperti dikutip dari Live Science, Minggu (12/7/2020).
Kalra dan timnya tidak menemukan perbedaan tingkat kematian pasien dalam studi. Sebagian besar yang mengalami kondisi sindrom patah hati ini bisa pulih, namun peneliti menekankan tetap ada kemungkinan seseorang bisa mengalami komplikasi yang fatal.
Studi ini telah dipublikasi di jurnal JAMA Network Open pada 9 Juli 2020.
Terpopuler Sepekan: Viral Nama Unik 'Dita Leni Ravia'
Seorang pelajar dari Gunungkidul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu ramai jadi perbincangan masyarakat karena memiliki nama yang unik. Pelajar tersebut bernama Dita Leni Ravia (17) yang jika diartikan dari bahasa Jawa artinya 'diikat dengan tali rafia'.
Memiliki nama unik terkadang menjadi bahan perundungan (bullyan) teman ataupun orang lain. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Leni karena ia selalu berpikir positif.
"Ya kalau saya tidak pernah terbebani, justru saya bangga punya nama Dita Leni Ravia. Saya juga tidak malu sama sekali karena nama itu pemberian dari orang tua saya," katanya saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.
Leni mengaku beberapa temannya terkadang menertawakan nama uniknya. Namun tersebut tidak membuatnya berkecil hati.
"Ya kalau ada yang ketawa ketawa saya biasa aja sih Mas," ujarnya.
"Intinya positif thinking lah, mungkin dia ketawa karena nama saya unik dan lucu, bukan menertawakan yang jelek-jelek, itu saja," tambah Leni.
Bagaimana jika nama anak memiliki arti tertentu yang memancing olok-olok?
Veronica Adesla, seorang psikolog klinis dari Personal Growth, mengatakan potensi bullying terhadap nama mungkin saja terjadi. Terlebih jika memiliki kandungan makna tertentu yang dianggap negatif.
Akan tetapi, menurut Veronica semua tergantung dari respons masing-masing orang individu. Termasuk dalam kasus nama unik Leni yang viral tersebut.
"Ketika kita besar, kita tentu perlu berpikir secara rasional dalam menyikapi bila terjadi bullying. Yang pertama adalah pahami dan ingat kembali makna di balik nama yang diberikan orang tua. Bila tidak tahu, maka bertanyalah pada orangtua," saran Vero.
"Yang kedua, bersikaplah asertif. Bila memang merasa terganggu, sampaikan bahwa kamu tidak menyukai perilaku tersebut dan minta untuk tidak diulang kembali," pungkasnya.
Selain itu, Veronika mengatakan saat orang tua memberi nama ke anak hendaknya memperhitungkan kembali konsekuensi jangka panjang. Berbagai hal termasuk tradisi, budaya, dan agama, harus menjadi pertimbangan.
"Pemilihan nama akan menjadi doa dari orangtua agar anak memiliki kehidupan yang baik, sesuai dengan nama yang diberikan baik arti atau makna dari nama tersebut maupun tokoh dari nama yang diberikan tersebut," jelas Vero saat dihubungi detikcom.
https://nonton08.com/director/gabi-endicott/feed/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar