Pemerintah melaporkan penambahan kasus baru COVID-19 yang terkonfirmasi pada hari Kamis (10/12/2020). Ada penambahan 6.033 kasus, sehingga total pasien terkonfirmasi saat ini sudah mencapai 598.933 kasus semenjak virus Corona mewabah di Indonesia.
DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan kasus paling tinggi sebanyak 6.089 kasus, disusul Jawa Tengah sebanyak 998 kasus dan Jawa Barat sebanyak 960 kasus baru per 10 Desember.
Dikutip dari laman covid19.go.id, hari ini ada sebanyak 4.530 kasus sembuh, sementara kasus kematian Corona tercatat 165 orang.
Detail perkembangan virus Corona di Indonesia pada Kamis (10/12/2020), adalah sebagai berikut:
Kasus positif bertambah 6.033 menjadi 598.933
Pasien sembuh bertambah 4.530 menjadi 491.975
Pasien meninggal bertambah 165 menjadi 18.336
Sedangkan sebaran 6.089 kasus baru Corona di Indonesia pada Kamis (10/12/2020) adalah sebagai berikut:
DKI Jakarta: 1.180 kasus
Jawa Tengah: 998 kasus
Jawa Barat: 960 kasus
Jawa Timur: 796 kasus
Sulawesi Selatan: 219 kasus
Kalimantan Tengah: 205 kasus
DI Yogyakarta: 191 kasus
Banten: 169 kasus
Sumatera Barat: 140 kasus
Riau: 139 kasus
Sulawesi Utara: 135 kasus
Bali: 112 kasus
Kalimantan Timur: 109 kasus
Sumatera Utara: 83 kasus
Kepulauan Riau: 72 kasus
Lampung: 65 kasus
Bengkulu: 62 kasus
Sumatera Selatan: 58 kasus
Kalimantan Utara: 58 kasus
Kalimantan Selatan: 46 kasus
Papua: 37 kasus
Nusa Tenggara Timur: 33 kasus
Jambi: 32 kasus
Papua Barat: 31 kasus
Kalimantan Barat: 25 kasus
Nusa Tenggara Barat: 20 kasus
Bangka Belitung: 13 kasus
Maluku: 11 kasus
Sulawesi Tengah: 9 kasus
Maluku Utara: 9 kasus
Aceh: 8 kasus
Sulawesi Barat: 7 kasus
Sulawesi Tenggara: 1 kasus
https://movieon28.com/movies/dark-phoenix/
DPR Pertanyakan Efektivitas Vaksin Corona Sinovac, Ini Kata Menkes Terawan
Vaksin Corona yang sudah sampai di Indonesia diperkirakan bisa mendapat izin emergency use of authorization (EUA) di bulan Januari 2021. Hal ini diungkap Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K Lukito beberapa waktu lalu.
Disebutkan, mundurnya izin EUA yang dikeluarkan berkaitan dengan data vaksin Corona yang belum lengkap. Salah satu anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay dari Fraksi PAN mempertanyakan efektivitas vaksin Corona Sinovac.
Khususnya terkait dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Saleh menyebut perlu untuk melihat keberhasilan vaksin Corona di negara-negara lain demi melihat risiko yang ada saat menerima vaksin.
"Sudah pernah nggak dipakai di negara lain? Maksud saya di negara mana yang sudah berhasil? Supaya kejadian pasca imunisasi bisa dibandingkan juga itu dengan negara lainnya," tanya Saleh kepada Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam rapat komisi IX DPR RI, Kamis (10/12/2020).
"Apakah sudah berhasil di negara China sendiri?" tanyanya lagi.
Dalam kesempatan yang sama, Menkes Terawan menegaskan hingga kini baru Inggris yang menjalankan vaksinasi dengan izin penggunaan darurat (EUA) menggunakan vaksin Corona Pfizer.
Ditegaskan Terawan, belum ada negara yang mengeluarkan izin edar vaksin Corona dan kebanyakan masih dalam tahap uji klinis fase ketiga. Maka dari itu, efektivitas vaksin Corona Sinovac juga belum bisa dipastikan.
"Nah di dunia yang baru keluar EUA, baru Pfizer kemarin yang baru disuntik, yang baru saja, yang lain belum pernah ada, vaksinasi belum ada pak. Kalau ada ribuan orang dikerjakan itu masih dalam kapasitas uji klinis 3 yang dilebarkan mau berapa pasiennya," lanjutnya.
"Tapi ini sebenarnya vaksinnya belum ada izin edar yang bisa kita gunakan jadi sebenarnya harus kita pelajari semua satu per satu vaksinnya demi keselamatan itu yang kami lakukan pak," tegasnya.
Menkes menjelaskan BPOM kini tengah melakukan pemantauan terkait vaksin Corona mana yang paling cocok digunakan di Indonesia. Penilaian tersebut termasuk dengan proses distribusi vaksin Corona di Indonesia.
Selain itu, proses yang sedang berjalan dipastikan Terawan semata-mata untuk mengukur keamanan dan efektivitas vaksin Corona sebelum diberikan kepada masyarakat banyak.
"Dan apa yang dikerjakan oleh BPOM adalah rangkaian apa yang paling cocok untuk Indonesia ini dengan demografi dengan suku yang berbeda terpisah-pisah itu apa yang paling nyaman," lanjutnya.
"Menyangkut distribusinya itu juga menjadi pertimbangan yang tidak mudah," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar