Rabu, 15 Juli 2020

Spotify Perluas Layanan di Rusia dan 12 Negara Eropa Timur

 Spotify kembali memperluas layanan streaming musiknya di 13 negara Eropa Timur yang mencakup Albania, Belarus, Bosnia dan Herzegovina, Kroasia, Kazakhstan, Kosovo, Moldova, Montenegro, Makedonia Utara, Rusia, Serbia, Slovenia, dan Ukraina.
Dengan perluasan ini menjadikan perusahaan asal Swedia ini tersedia di 92 pasar global. Spotify mengatakan secara keseluruhan pasar baru ini akan memberikan akses ke 250 juta pelanggan potensial.

Khususnya di negara Rusia yang menjadi pasar penting bagi Spotify, sebab menurut Federasi International Industri Fonografi sekitar 87 persen orang di rumah mendengarkan musik streaming online. Dan sebagai pasar streaming terbesar ke 17 secara global.

Tak heran jika Spotify tengah berusaha keras untuk membuat platformnya menarik bagi pengguna Rusia.

Dilansir detikINET dari Engadget, selain melokalkan aplikasi web dan seluruhnya, Spotify akan meluncurkan 100 daftar putar lagu yang dibuat secara khusus untuk pasar baru ini. Daftar lagu juga akan menampilkan artis-artis lokal dan internasional.

Namun perlu dicatat layanan podcast Spotify tidak ikut disertakan sebab di kawasan ini untuk podcast 'baru lahir' di Rusia.

"Ini adalah sesuatu yang akan penting bagi kami dari waktu ke waktu," kata Gustav Gyllenhammar, Wakil Presiden Pasar dan Pertumbuhan Pelanggan Perusahaan.

Selain pengumuman perluasan ini, Spotify juga memberikan data baru soal jumlah penggunanya. Di mana saat ini ia memiliki 286 juta pengguna dan 130 juta pengguna premium. Angka ini sedikit lebih dari tahun yang lalu di mana Spotify telah melewati ambang batas 100 juta pelanggan dan total 217 juta pengguna.

Inggris Resmi Larang Huawei dari Jaringan 5G

 Inggris akhirnya resmi melarang peralatan Huawei dari jaringan 5G di negaranya. Ini merupakan putar balik dari keputusan Inggris di bulan Januari yang mengizinkan Huawei untuk berpartisipasi secara terbatas dalam pengadaan jaringan 5G.
Menteri Digital dan Kebudayaan Inggris Nick Dowden mengumumkan keputusan ini di Parlemen. Ia mengatakan sanksi baru yang diterapkan Amerika Serikat kepada Huawei pada Mei lalu telah mengubah lanskap secara signifikan.

"Mengingat ketidakpastian yang terjadi di sekitar supply chain Huawei, Inggris tidak lagi yakin dapat menjamin keamanan peralatan 5G Huawei di masa depan," kata Dowden, seperti dikutip detikINET dari Cnet, Rabu (15/7/2020).

Dowden mengatakan dari akhir tahun ini, operator telekomunikasi dilarang membeli peralatan dari Huawei. Operator telekomunikasi seperti BT dan Vodafone diberikan waktu hingga tahun 2027 untuk menarik semua peralatan Huawei dari jaringan 5G milik mereka.

Dowden mengakui keputusan ini akan mengundur peluncuran jaringan 5G komersial di Inggris hingga setahun dan akan merugikan negara hingga 2 miliar poundsterling. Sebagai alternatif, pemerintah Inggris telah berdiskusi dengan NEC dan Samsung, serta Ericsson dan Nokia untuk menggantikan Huawei di infrastruktur jaringan Inggris.

Huawei langsung mengkritik keputusan ini. Juru bicara Huawei Inggris Edward Brewster mengatakan ini merupakan berita buruk bagi siapa pun yang memiliki ponsel di Inggris.

"Ini mengancam memindahkan Inggris ke jalur lambat dunia digital, menaikkan tagihan dan memperdalam kesenjangan digital. Bukannya 'levelling up' pemerintah malah menurunkan level dan kita mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali," kata Brewster dalam keterangannya.

Sebaliknya, keputusan pemerintah Inggris langsung disambut positif oleh AS yang telah lama mengajak negara sekutunya untuk melarang Huawei karena alasan keamanan nasional.

"Inggris telah mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional selagi mereka membangun jaringan yang lebih canggih," kata Chairman US Federal Communications Commission Ajit Pai dalam keterangannya.
https://nonton08.com/director/gao-xixi/feed/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar