Kamis, 02 Juli 2020

Pasien Corona Tanpa Gejala Juga Bisa Alami Kerusakan Paru Permanen

Virus Corona menimbulkan gejala yang beragam pada tiap pasien. Beberapa mungkin hanya mengidap kondisi ringan namun lainnya lebih buruk sehingga harus mendapat bantuan oksigen atau ventilator.
Tapi ada beberapa kelompok yang tidak menunjukkan gejala COVID-19 sama sekali saat terinfeksi yang disebut pasien asimptomatik atau orang tanpa gejala (OTG). Meski tampak 'sehat', sebuah pemeriksaan menunjukkan banyak OTG memiliki kerusakan paru jangka panjang sama seperti pasien dengan kondisi parah.

Dikutip dari Medical Daily, para ilmuwan di Scripps Research Institute menemukan penemuan mengejutkan bahwa OTG, yang tidak menunjukkan gejala Corona, juga berisiko mengalami kerusakan paru-paru yang fatal.

Mereka mengetahui ini setelah memeriksa CT Scan pasien COVID-19 tanpa gejala dari kapal pesiar Diamond Princess. Peneliti juga memperhatikan bahwa pasien OTG ini mengalami kerusakan paru yang cukup parah walau tak menunjukkan gejala sama sekali.

Sementara itu, pemeriksa medis Pinellas dan Pasco County, Dr. Jon Thogmartin baru-baru ini mengungkapkan betapa buruknya COVID-19 merusak paru pasien yang mengidap kondisi berat Corona.

"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa menjadi mengerikan. Itu bisa menghancurkan paru-paru. Biarkan saya katakan saja. Ketika orang tersebut meninggal, Anda melihat paru-parunya tidak terasa dan terlihat seperti paru-paru lagi," jelas Thogmartin yang menggambarkan kondisi paru pemeriksaan post-mortem pada pasien COVID-19.

Meski demikian pemeriksa mengatkaan ini tidak berarti semua pasien OTG akan mengidap kerusakan paru jangka panjang. Namun kondisi tersebut adalah sesuatu yang harus diwaspadai.

Awal tahun ini, Johns Hopkins Medicine membahas secara menyeluruh efek virus Corona pada paru-paru. Para ahli di Johns Hopkins Bayview Medical Center mengatakan COVID-19 dapat menyebabkan pneumonia dan sindrom pernapasan akut pada pasien.

KRL Jadi Area Utama Penularan Corona di DKI, Catat Cara Cegah COVID-19 di KRL

 Pemprov DKI Jakarta menyebut KRL jadi salah satu area yang rentan terhadap penularan virus Corona. Setelah dilakukan evaluasi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan KRL pun sering menjadi tempat penularan maka akan ditingkatkan pengawasannya untuk pengendalian COVID-19.
"Pemprov DKI Jakarta akan bekerja sama dengan PT KCI (Kereta Commuter Indonesia) untuk bisa memantau pengaturan penumpang di KRL," tutur Anies dalam konferensi pers di akun Youtube Pemprov DKI Jakarta dan ditulis Kamis (2/7/2020).

Transportasi umum seperti KRL memang jadi sasaran empuk dengan risiko penularan virus Corona yang cukup tinggi. Banyaknya orang yang bepergian dalam satu waktu menjadikan KRL moda transportasi rentan sebab penumpangnya bisa berdesak-desakan di dalam.

Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan penumpang sebagai cara untuk menekan penyebaran virus Corona di KRL. Dikutip dari situs PT KCI, berikut protokol kesehatan new normal di KRL:

1. Wajib pakai masker selama di KRL dan stasiun

2. Penumpang KRL wajib terapkan jaga jarak sesuai marka yang tertera. Jika kondisinya padat, petugas akan menerapkan sistem buka tutup di luar stasiun

3. Penumpang disarankan untuk melakukan transaksi nontunai

4. Anak berusia kurang dari lima tahun atau balita dilarang naik KRL untuk sementara waktu

5. Untuk penumpang lanjut usia atau lansia, hanya diizinkan naik KRL di luar jam sibuk pada pukul 10.00-14.00 WIB

6. Balita dan lansia yang naik KRL karena keperluan mendesak, seperti perawatan rutin ke rumah sakit, harus melapor ke petugas stasiun

7. Para pedagang dengan barang bawaan yang banyak tidak boleh naik KRL di saat jam sibuk

8. Setiap penumpang tidak diizinkan berbicara secara langsung atau melalui telepon seluler selama di dalam kereta.
https://nonton08.com/2018/09/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar