Banyak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mengalihkan usahanya ke e-commerce agar tetap bisa berjalan di tengah pandemi COVID-19. Tapi sebagian besar dari mereka terkendala biaya internet yang mahal dan jaringan yang tidak stabil.
Survei Sea Insights menemukan 63% UMKM mengaku kesulitan bekerja dari rumah karena hambatan internet. Survei ini dilakukan kepada 20.000 responden berusia 16-35 tahun, di mana 2.200 di antaranya merupakan pelaku usaha.
"Lebih dari 63% mengatakan kesulitan bekerja dari rumah dan hambatan utamanya dari survei kami ada tiga," kata Presiden Komisaris Sea Group Pandu P Sjahrir dalam diskusi online, Kamis (2/7/2020).
"Satu, biaya internet yang mahal dan tidak stabil; dua, perlu interaksi fisik dengan konsumen; dan tiga, pendanaan modal," sambungnya.
Lebih lanjut, Pandu menjelaskan demografi dalam kelompok ini adalah pelaku usaha yang berasal dari industri kesehatan, pendidikan, pertanian dan pertambangan. Mereka juga tinggal di luar Jakarta dan tidak kuliah.
Walau semakin banyak UMKM yang beralih ke e-commerce dan media sosial untuk berbisnis, masih ada juga yang tidak mau memulai karena masalah internet. Pandu mengatakan hal ini berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi masyarakat.
"17% pelaku usah tidak berjualan di e-commerce selama pandemi COVID-19, kenapa? Karena 74% merasa kesulitan bekerja dari rumah, 35% mengatakan mereka membutuhkan interaksi fisik dan 41% melaporkan tarif internet kurang terjangkau," jelas Pandu.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia Teten Masduki mengatakan pemerintah sedang berupaya untuk mengatasi hambatan ini sebagai upaya untuk mempercepat transformasi digital UMKM. Tapi subsidi internet untuk UMKM sepertinya tidak bisa diwujudkan dalam waktu dekat.
"Mengenai subsidi internet memang pernah kami usulkan ke Kominfo, karena banyak UMKM yang terhubung dengan marketplace online terbebani biaya pulsa internet," kata Teten dalam kesempatan yang sama.
"Tapi karena kemarin fokus ada repurposing pembiayaan di kementerian dan lembaga mudah-mudahan ke depan ini akan sudah ada anggaran untuk subsidi internet," pungkasnya.
Oppo Manfaatkan Lini Produksi Garap Masker
Banyak perusahaan yang memanfaatkan lini produksi pabriknya untuk membuat alat kesehatan setelah pandemi COVID-19 melanda. Oppo salah satunya, vendor ponsel asal China ini membuat masker.
Hanya saja masker yang dibuat Oppo di pabriknya di Karawaci, Tangerang, Banten tidak untuk dijual. Masker tersebut untuk memasok kebutuhan seluruh karyawannya di Indonesia.
"Mengingat sedang masa pandemi dan mendukung untuk penanggulangan penyebaran virus corona, Oppo mendukung gerakan untuk menggunakan masker selama bekerja. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan memproduksi masker non medis untuk kebutuhan karyawan Oppo Indonesia," ujar Aryo Meidianto, PR Manager Oppo Indonesia.
Sebelumnya Oppo telah menerapkan SOP khusus untuk toko dan pusat layanannya di saat new normal. Setiap gerai mereka dipastikan mengikuti protokol yang telah ditetapkan pemerintah.
"Kami menyiapkan hand sanitizer, wajib masker, pengecekan suhu hingga penerapan pembatasan jumlah pengunjung hingga 50% dari normal," kata Aryo.
Oppo turut penerapan jarak aman di service center. Mereka memberi tanda X pada kursi tunggu hingga penggunaan face shield dan sarung tangan.
"Kami ingin memberikan rasa aman serta tetap menjaga kesehatan karyawan dan pelanggan," pungkas Aryo.
https://nonton08.com/2017/09/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar